Walk..Walk..Kept Walking

(kejadian ini berlangsung pada hari jumat, 10 Juli 2009)

Hari ini aku dan seorang temanku yang bernama Anandita atau yang lebih sering kupanggil ‘Kuma’ berencana untuk bermain ke rumah teman kami yang bernama Osu. Kami akan ke sana dengan menaiki angkutan kota yang disebut bemo, yang kira-kira jaraknya 1 km dari rumah Kuma.

Menuju tempat terdekat rute bemo yang kami maksud pun kami rela berjalan kaki karena tak seorang pun dari kami bisa mengendarai kendaraan pribadi kecuali sepeda ontel (dan tentunya kami tidak segila itu untuk mengayuh sepeda sepanjang kurang lebih 4 km di tengah teriknya matahari).

Hampir tiba di tempat bemo dapat kami capai, Kuma mengirim sms kepada Osu.

“Os, ntar aku naek bemo, turunnya di gang berapa, ya? Aku sama Nobek lupa nih.”

Beberapa menit kemudian Osu membalas, “Turun aja di gang III, deketnya Bebek Kremes.”

“Bebek Kremes? Kasian banget ya aku, dikremes-kremes,” komentarku sambil memasang tampang sok memelas. Sekedar tahu saja, teman-teman SMA-ku banyak yang memanggilku dengan sebutan ‘Bebek’.

Kemudian kami pun menaiki bemo, mengikuti saja alurnya sambil bercakap-cakap dan juga membicarakan teman-teman SMA kami. Maklum, kami baru saja lulus SMA dan beberapa minggu tidak bertemu, bahkan mungkin sudah 1 bulan. Kami sangat merindukan semuanya.

Hampir tiba di gang III, kami sepakat menghentikan pembicaraan kami karena khawatir melewatkan gangnya. Aku menghitung gang-gang tersebut dalam hati, VI, V…

“Bek, ini udah gang lima, mana gang enamnya?” tanya Kuma tiba-tiba.

“Barusan tau,” jawabku singkat.

“Oh, iya ta, hehe,” ujar Kuma malu.

Aku kembali mengamati gang. Sekarang gang IV, sebentar lagi… “Ah!” pekikku tiba-tiba. Secara refleks aku menekan bel. Sepersekian detik dari refleksku, Kuma berteriak kepada sopir bemo, “Pak, kiri!”

Ternyata kami tetap saja melewatkan gang III meskipun aku sudah mengamati gangnya tanpa berkedip. Setelah turun dari bemo, Kuma berkata, “Bek, Bek, belnya kayak gitu pasti mati. Ngapain kamu pencet??”

“Hehe, nggak tau tadi refleks aja mencet bel. Padahal biasanya juga langsung teriak,” jawabku malu.

Dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Osu yang tinggal beberapa meter lagi. Setibanya di sana, ternyata seorang teman kami yang lain, Gita, sudah berada di sana. Kami pun bergabung dengan mereka yang sedang menonton DVD Inkheart.

Cukup lama kami berada di sana, sampai akhirnya Kuma mengajak kami untuk pergi ke Mall terdekat, PTC. Hampir pukul lima sore, tetapi kami semua mengiyakan untuk pergi ke sana, toh kami hanya akan mencari DVD. Setelah berpamitan kepada ibu Osu, kami pun berjalan 1-2 km dan berencana menaiki bemo dari Unesa ke PTC.

Memasuki wilayah Unesa ternyata sepi sekali. Hanya sesekali kami melihat orang lewat. Mungkin para mahasiswa sedang libur saat ini. Tapi entahlah, itu tidak penting. Keluar dari Unesa, aku bertanya kepada yang lain, “Mau jalan sampe mana? Kita nggak naek bemo aja ta?”

“Kalo mau naek bemo, ya nyebrang sekarang aja,” kata Kuma.

“Nggak usah, ntar aja cari bemonya kalo udah di depan,” sahut Osu.

Akhirnya kami pun mengiyakan saja dan melanjutkan perjalanan kami. Sudah mencapai setengah perjalanan menuju tempat yang kami maksud untuk mencari bemo, kepalaku mulai terasa berkunang-kunang. Mataku terasa berat dan hidungku rasanya sewaktu-waktu akan mimisan. Aku membayangkan bagaimana jika tiba-tiba aku pingsan dan terjatuh di pinggir jalan, kemudian ditabrak oleh pengendara motor. Oh Tuhan…aku belum mau mati. (tapi sudah jelas itu tidak terjadi..)

Akhirnya kami sudah sampai tempat untuk memberhentikan bemo. Tetapi bemo tidak juga tampak. Rasanya aku ingin pingsan sekarang.

“Emang jam segini udah nggak ada bemo lewat, ta?” tanyaku.

“Nggak tau, aku ‘kan jarang ke sini. Lagian kalo ke PTC biasanya aku dianter sodaraku,” jawab Osu bingung.

Aku mulai merasa gila. Mau tak mau kami harus berjalan lagi, berharap jika bemo tiba-tiba lewat. Bahkan kami tidak melihat satu pun taksi yang lewat. Rasanya aku kehabisan oksigen, tetapi aku berusaha untuk bertahan.

Kami sama-sama melihat beberapa baliho di PTC dan itu terlihat cukup dekat. Tetapi aku dan Kuma tidak lagi tertipu karena kami sebelumnya juga pernah berjalan ke sana dengan jarak yang sepertinya sedikit lebih jauh daripada hari ini. Akhirnya….akhirnya kami sampai! Kami sampai!

Aku ingin cepat-cepat masuk ke dalam Mall itu dan merasakan dinginnya AC. Tetapi kami bingung harus lewat mana untuk masuk. Kami baru saja berada tepat di depan Mall itu, tetapi kami belum menemukan pintu masuk terdekat. Kami pun memutuskan untuk tetap berjalan untuk mencari pintu masuk. Berjalan kaki di tempat yang lebih sering dilalui oleh mobil membuat kami tampak seperti orang bodoh. Yah…memang bodoh.

Usai berjalan beberapa saat mencari pintu masuk akhirnya kami menemukannya! Yippe..!! 😀

Kami pun masuk dan kembali kebingungan. Kami tidak tahu pasti arah menuju tempat dijualnya DVD-DVD. Padahal aku ingin segera mendapatkan yang kami cari dan pulang karena hari sudah gelap. Jarak rumahku dan PTC sangat jauh dan aku tidak mungkin kembali berjalan kaki sampai menemukan bemo.

Salah seorang dari kami pun mengajukan pertanyaan, “Terus ini tempat DVD ada di mana?”

“Ini langsung cari DVD, ta? Nggak pengen jalan-jalan dulu?” tanya Kuma polos.

Rasanya saat itu aku ingin menyanyikan Decode milik Paramore keras-keras… “What kind of man that you are…???!!?”

..akhirnya setelah cukup lama kami berjalan-jalan..(akhirnya jalan-jalan lagi), kami pulang diantarkan oleh kakak Osu dengan mobil sampai ke rumah dengan selamat. Haahh…arigatou, Nii-chan…:D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: