Sadel Motor dan Penjepit Kertas

(Kejadian ini berlangsung pada hari Jumat, 10 Juli 2009)

baca judulnya berasa lagi baca dongeng-dongeng yang nggak jelas gitu deh..:P

oke,story begin.

Sepulangnya aku dari ‘jalan-jalan’, aku berniat untuk segera mandi, makan, kemudian tidur. Tetapi ternyata kamar mandi masih dipakai oleh adikku jadi aku menunggunya sebentar sambil surfing di internet. Tetapi internet tidak juga tersambung sampai adikku selesai mandi. Aku berusaha berulang kali untuk membuatnya tersambung tetapi selalu gagal.

Kemudian tiba-tiba kakakku mengajakku untuk membeli penjepit kertas untuk Tugas Akhirnya. Ajakan yang sangat memaksa, menyebalkan. Akhirnya mau tak mau aku pun ikut dengannya.

Kakakku memutuskan untuk mengendarai motor yang baru dibeli oleh ibuku pagi tadi. Aku naik di atas sadel motor (tempat duduknya) dan segera menyadari bahwa sadelnya terlalu keras. Kakakku kemudian bertanya, “Keras, ya?”

“Iya. Baru dipompa, ta?” tanyaku balik.

“Maksudku sadelnya, bukan ban motornya, bego…,” jawab kakakku.

Wew..:P Lagipula ban motornya sepertinya keras juga, batinku.

Keluar dari perumahan kami, tiba-tiba sebuah motor melintas dan pengendaranya membunyikan klaksonnya berkali-kali. Dasar berisik.

“Iya, iya, tahu deh klaksonmu baru,” gumam kakakku seolah sedang berbicara dengan pengendara motor itu.

“Bukan. Sebenernya dia itu tukang jual roti, ‘kan kebiasaan bunyiin klakson tuh. Tapi dia lupa kalo sekarang dia lagi nggak jual roti,” timpalku.

Motor tetap berjalan. Tiba-tiba kakakku berseru, “Yah..tokonya tutup.”

Aku melihat ke arah toko yang biasa kami kunjungi saat memerlukan alat tulis. Benar, toko itu tutup.

Kakakku tetap melanjutkan perjalanan. Kemudian, tak jauh dari toko tadi, kakakku kembali berseru, “Ah, beli di situ aja!”

“Yang mana?” tanyaku.

“Di situ, di fotocopyan itu. Dulu aku beli di sana,” ujarnya.

“Boleh beli eceran?”

“Dulu aku belinya eceran, kok.”

Tetapi motor tetap melaju.

“Gimana, ya? Ntar deh, puter balik dulu,” kata kakakku.

Motor melaju lagi beberapa meter. Sambil mengendarai motor, kakakku berkata padaku, “Kalo mau puter balik, jangan di tikungan.”

Aku hanya mengiyakan ucapannya. Aku memang belum bisa mengendarai motor dan masih belajar. Tetapi aku juga sebodoh itu. Memangnya aku mau mati ditabrak dari berbagai arah?

Motor akhirnya berhenti dan bersiap-siap untuk putar balik. menunggu beberapa detik, aku iseng saja memukul-mukul sadel motor. Kakakku heran dengan tingkahku.

“Kenapa?” tanyanya.

“Nggak papa. Keras banget ni sadel,” jawabku.

Motor sudah hendak berputar. Kemudian kakakku berkata, “Itu belinya lima ratusan.”

“Heh?? Murah banget!!” seruku heran.

Yang benar saja? Meskipun bahannya murahan begini, mustahil jika harganya semurah itu.

“Jepit kertasnya maksudku, bego…,” kata kakakku meralat pikiranku.

“Ohh..kirain sadelnya..”

“Ya nggak mugkin lah sadel harganya segitu!”

Motor kembali melaju dan tak berapa lama kemudian, kami berhenti di fotocopyan tersebut.

“Yang kecil segitu beli empat, yang gede, kakaknya, 1 taun di atasnya, beli 1 aja,” perintah kakakku yang sebelumnya sudah memberikan contoh ukuran penjepit kertasnya.

Kemudian aku membeli sesuai yang dimintanya. Aku kembali dan menunjukkan penjepit kertas yang kubeli. Kakakku mengamatinya dan menunjukkan wajah yang agak sangsi dengan penjepit kertas yang sedikit lebih besar dari yang lain.

“Kurang gede?” tanyaku.

Kakakku masih bingung. ia sepertinya menginginkan yang lebih besar, tetapi enggan juga untuk kembali meskipun jelas-jelas kami masih berada tepat di depan fotocopyan tersebut. Ia sudah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Ada yang lebih gede dari itu?”

“Ada. Tuker?”

“Nggak usah. Beli lagi aja. Satu aja.”

“Bweuh…bulannya bagus,” gumamku kesal.

Aku pun kembali membeli penjepit kertas dengan ukuran yang lebih besar, kemudian kembali pada kakakku.

Aku menunjukkannya dan ia mengangguk mantap. Oke. Kami pun kembali ke rumah melalui jalan yang sama.

Setibanya di rumah, aku bertanya, “Emang sadel gini paling murah harganya berapa?”

“Paling enam lima ribu,” jawabnya.

“Hah?? Enam ribu lima ratus??” pekikku tak percaya.

“Enam puluh lima ribu, BEGO…,” ulang kakakku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: