Reunion

(it was happened on Monday, July 27 2009)

Hari yang sudah kunantikan sejak seminggu yang lalu akhirnya tiba juga. Bukan hari di mana aku dapat uang saku, bukan juga hari ketika Suki sudah bisa berbicara dan berlari (wuuiiihh!),dan jelas bukan mengenai hari peringatan kematian Jacko (peduli amat, kerabat juga bukan). Bukan, bukan semua.

Yang benar adalah: hari ini aku akan bertemu kembali dengan teman-teman sekelas semasa SMP. Cihuuuyy… 😀

Jadi sebelum pergi ke Tunjungan Plaza (lokasi reuni), aku puas-puasin dulu online, heheh 😛

Tik-tok-tik-tok..no it’s the clock again, beating in my head like a big drum.. 😮 (Super Junior dund, hehe :P)

Ternyata sudah jam 12! Gawat, nanti kereta labuku plus kusir-kusirku berubah ke wujud semula nih! 😮 (emangnya Cinderella??)

Aku harus cepet-cepet mandi nih, soalnya jam setengah satu nanti beberapa temen SMP-ku bakal kumpul dulu di rumahku sebelum berangkat sama-sama ke TP.

Akhirnya aku merelakan memotong jam mandiku (biasanya 1 jam, tapi sekarang jadinya setengah jam doank>>haha, setengah jam di kamar mandi ngapain aja, neng??) agar teman-temanku tidak menungguku.

Setelah mandi, aku menoleh ke sebelah kiri kamar mandi, wiiww..setumpuk piring dan dedengkotnya sudah memenuhi tempat cuci piring. Waduh, mati aku!

Aku pun cepat-cepat mencucinya, tapi cuma setengahnya soalnya kalo semua kucuci, nggak berangkat-berangkat aku. Kelar cuci piring…

“Nobek..” panggil seseorang di depan rumah.

Waduh, tiba-tiba terdengar suara misteri. Aku memberanikan diri keluar rumah dengan konsekuensi aku akan berkilauan bak berlian (lhaa?). Kubuka pintu kemudian melongok keluar, eh…ternyata yang datang adalah makhluk yang semasa SMP itu bikin namaku terkesan tambah pasaran. Dia bernama Novita Ratnasari ato yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Wenk’.

Aku mempersilakan dia duduk sembari menungguku mengganti baju dan menunggu dua teman yang lain. Lima belas menit kemudian seorang lagi datang, Qiqi. Bla-bla-bla…kami mengobrol campur aduk tak karuan sambil menunggu seorang lagi yang katanya masih mengantarkan gurunya ke suatu tempat.

Tin-tin…wew, akhirnya datang jugaaaaa… 😮

cukup lama juga, jadi kami langsung berangkat ke lokasi reuni setelah orang terakhir itu, Santi, sudah datang.

Brem-brem…motor melintasi jalanan yang ramai oleh kendaraan bermotor di tengah teriknya panas matahari (jiaahh, kumat bahasa gejenya). Nyampe di parkiran TP, eh ternyata ketemu sama 2 orang teman SMP yang lain, yakni Ndhuk dan Cipenk. Kami pun berjalan bersama-sama menuju foodcourt dimana teman-teman yang sudah berkumpul.

Setelah semua sudah berkumpul, dan diabsen ternyata cuma ada 21 orang yang hadir (padahal sekelas ada 47 anak), akhirnya kami pun berniat menonton The Strangers. Tapi malang (Jember, Blitar, Madiun…), ternyata seat yang sederet untuk kami nggak ada. Sebenernya sih ada jadwal jam lima sore, tapi beberapa ada yang keberatan.Batallah jadwal nonton bersama 😦

Kami kembali ke foodcourt untuk makan, tapi aku, Qiqi, Santi, dan Wenk memutuskan untuk makan di Hoka-hoka Bento yang letaknya ada di lantai bawah. Kami berempat pun memisahkan diri dari yang lain dan kembali usai makan.

Setelah makan, satu orang anggota bertambah dan dua menghilang. Eli baru datang karena sebelumnya dia harus bekerja yang aku baru tau ternyata dia bekerja di rumahnya sendiri (buka jasa fotocopy). Sementara Adi dan Dimas pulang karena rumah mereka cukup jauh (Dimas di Krian boo :o).

Berpikir cukup lama dan diskusi tiada akhir, seorang dari kami mengajak untuk jalan-jalan saja. Naik ke lantai berikutnya yang notabene adalah parkiran mobil, ternyata dia mengajak untuk bernarsis ria di atas gedung (tinggal loncat aja kalo mau mati). Baidewei, waktu liad pemandangan kota yang semrawut dari atas gedung sih otak kriminalku kambuh, gimana kalo se-Surabaya ini dibom aja, dibumihanguskan untuk kemudian membangun kembali Surabaya dengan lebih tertib dan rapi. Nice idea 🙂

Hari sudah mulai sore dan kami turun dari atap gedung. Saat hendak kembali masuk ke dalam, tiba-tiba sesosok makhluk berjenggot tipis berkemeja pink muncul dan berjalan ke arah kami. Tampangnya sih mau malakin gitu (ayo kalo berani 1 lawan 20!), ..hehe kidding.

Tapi rasanya pengen ngglundung aja waktu liad orang itu yang tak lain adalah seorang lagi dari kami yang baru datang! Mbek panggilannya. Baru datang jam lima sore sementara kami sudah akan bubar! Baguuuuuuuss…. 😦

Kami pun turun dan berputar-putar saja di dalam sampai pusing mau muntah (eehh…). Akhirnya karena tingkat kebosanan sudah memuncak dan Wenk pun merengek-rengek minta pulang, aku, Qiqi, Santi, Wenk, dan ditambah Eli pun memutuskan untuk pulang lebih dulu (keliatan banget iah gag kompaknya :P).

Kami berlima berjalan terus, menuruni bukit dan jurang yang terjal (lebayyy), sampai akhirnya kami berhenti. Intinya adalah, kami bingung mencari pintu keluar (hahahha!). Kemudian Eli berkata bahwa kami cukup mengikutinya saja dan dia akan menunjukkan jalan keluarnya. Meskipun sedikit sangsi dengannya, kami pun mengikutinya saja sampai sebuah pintu bertuliskan satu kata yang cukup jelas dipandang : EXIT.

“Tapi tadi kan kita masuk nggak lewat sini?” celetuk Santi ragu yang diiyakan oleh kami semua, kecuali Eli tentunya.

Tapi kami tetap saja berjalan. Kwekwekwek…tiba di parkiran mobil yang pengap dan gelap. Lhoo..?

“Udahlah, ikut aku aja, ntar nyampe kok,” ujar Eli dengan rasa percaya diri segunung Himalaya. Kami pun pasrah saja mengikutinya.

….kwekwekwek…Jdoenk!!! X((

Si bebek kejedot tiang listrik mpe hampir pingsan.

Ternyata eh ternyata…salah jalan! Sialaaaaaaaaaaann!!

Dengan perasaan dongkol pun kami kembali menuju pintu yang tadi dan mulai mencari jalan keluar yang benar.

“Pokoknya cari Sport Station,” kata Santi.

Berjalan lagi…kwekwekwek…

“Sun, kok tambah jauh? Kita nggak salah ta? Kan kalo tempat sport ya jadi satu,” seru Qiqi saat kami melintasi toko-toko pakaian.

Kami pun kembali berputar-putar.

“Eh, itu di bawah!” seru Eli sambil menunjuk.

Aku menundukkan kepala dan bahuku sedikit untuk melongok ke bawah (jadi inget masa-masa jadi L nih! X)) ), dan Santi….jongkok-jongkok layaknya detektif amatiran yang lagi nguntit tersangka 😮 . Kami pun menuruni eskalator pertama kemudian berhenti. Sunti lagi-lagi jongkok untuk melihat ke bawah, sekarang dengan pose maling yang lagi intip-intip rumah yang mau dimalingin.

Kemudian kami pun turun ke bawah dan, Voila!

Akhirnya jalan keluar berhasil ditemukan! Berhasil, berhasil, berhasil hore!! XD

……betapa bodohnya kami semua yang menghabiskan waktu setengah jam cuma untuk mencari pintu keluar, aigo…

apalagi saat aku sadar waktu kami pergi meninggalkan TP, sebenarnya jalan yang ditunjukkan Eli tadi nggak jauh-jauh amat dari parkiran motor. Siaaaaaaaaall… 😥

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: