Kostenlos!

Huufft…hari ini sangat melelahkan. Sebenernya sih biasa aja. Pengukuhan yang jujur kukatakan: membosankan. Sambutan yang tiada habisnya, kemudian diisi oleh senior dari BEM dengan melontarkan pertanyaan kepada ‘orang-orang terpilih’, serta membuat lelucon ‘crispy’. Uuuftt…ada gunanya aku duduk di dekat tangga, jadi bisa sandaran di tembok :P. Kemudian pemutaran sebuah film yang kurasa film indie, dan aku nggak bisa liat kayak gimana filmnya, cuma denger suaranya aja plus komentar-komentar konyol dari anak-anak luar kota (entah dari mana) di sebelahku.
Setelah itu, perjalanan ke kampus B Unair bersama Kuma dan mantan ketua kelas Bahasa: Djiwo, menaiki mobil Djiwo. Sampe sana udah kelaperan dan akhirnya aku dan Kuma pergi mencari makan. Setelah itu kami pergi ke fakultas masing-masing (Kuma di Psikologi dan aku di FISIP) untuk mengisi daftar hadir dan biodata. Dan ternyata…dari pihak universitas sendiri telah menyediakan makanan bagi Maba. Asssemmm…gag bilang dari awal..! 😡
Terus di dalem gedung FISIP, aku ketemu sama seorang teman yang dikenalkan Nyol padaku lewat FB, dia bernama Evi Mukhoyaroh. Kayak orang bego aja awalnya: aku bingung cari dia karena yang berjilbab ada bejibun, sementara Evi bingung cari aku gara-gara nggak tau wajah asliku kayak gimana,haha :P. Tapi akhirnya ketemu juga setelah melalui lembah dan jurang yang curam.
Then we went to…apalah namanya, aula mungkin,hehe. Tempat itu sudah ramai penuh sesak oleh manusia ketika aku dan Evi tiba di sana. Berencana untuk duduk di depan pintu saja karena (sudah pengalaman) di depan pintu lebih dingin daripada di dalam ruangannya. Tapi pada akhirnya kami masuk juga karena diperintahkan oleh bapak-bapak..entah dosen atau dekan, hehe aku lupa :P.
Mmm..selama penyambutan berlangsung, tiba-tiba Djiwo telfon. Waduuhh, nggak jelas suaranya, apalagi dudukku deket speaker :(.
Terus Djiwo sms, ternyata penyambutan dari Fakultas Ekonomi (fakultasnya Djiwo) sudah selesai. Waktu menunjukkan pukul setengah dua siang. Gila cepet amat! Akhirnya aku pun meminta Djiwo untuk pulang terlebih dahulu saja, karena dari fakultasku masih lama, dan Kuma sepertinya juga begitu.
Penyambutan fakultasku selesai dan waktu menunjukkan pukul setengah tiga siang menjelang sore. Aku berjalan ke fakultas Psikologi untuk mencari Kuma setelah mendapatkan daftar kelompokku untuk ospek besok.
Tiba di depan fakultas Psikologi…sepi. Sepertinya kegiatan penyambutan belum selesai. Aku duduk menghadap fakultas Psikologi sendirian seperti anak hilang. Sesekali aku ngeliad ke fakultas Farmasi yang berhadapan dengan Psikologi, di mana teman-teman satu sekolahku banyak yang masuk Farmasi (mereka kayak pindah sekolah doank). Sama aja. Belum keluar. Berjam-jam aku menunggu, sampai FIB keluar pukul 4, kedua fakultas itu masih tenang dan sepi.
Dan pada akhirnya…Psikologi selesai pada saat menjelang maghrib. Waw…cepat sekali. Aku sampe mbusuk nungguin.
Akhirnya aku dan Kuma pun pulang menaiki bemo karena Djiwo sudah pulang sejak tadi.
Kami naik bemo P dan berencana turun di RSI. Di bangku depan, di sebelah sopir, ada seorang teman, atau lebih enak dipanggil adik kelas meskipun pada akhirnya kami satu angkatan (dia anak Akselerasi) yang bernama Febry atau lebih akrab disebut Mpheb.
Mpheb turun di Wonokromo, dan setelah itu sang sopir bertanya, “Mau turun mana?”
Ibu-ibu yang ada di dalam menjawab hendak ke terminal. Tapi sopir mengatakan bahwa bemonya tidak akan ke sana. Ibu-ibu itu mengomel karena merasa dibohongi, sebab saat hendak naik, para ibu tersebut sebelumnya sudah bertanya tentang tujuan mereka dan sopir mengiyakan.
Huuuftt…sembari si sopir menarik ongkos kepada para ibu yang kesal itu, aku dan Kuma ngobrol untuk mengalihkan perhatian dari omelan-omelan tersebut.
Sampai bemonya akan mencapai RSI, tiba-tiba bemo berhenti dan mengalihkan ibu-ibu tersebut ke bemo yang benar. Dan kami, aku dan Kuma sebentar lagi akan turun.
Tapi tiba-tiba sopir berkata,”RSI” sambil menghentikan bemonya. Maka kami pun turun dari bemo meskipun kami tau tempat bemo tiu berhenti belum di RSI. Tapi ya sudahlah, sudah dekat dari sana.
Ketika aku dan Kuma akan membayar ongkosnya, tiba-tiba bemonya berjalan. Ehh..?? Apa sopir bemonya nggak mau dibayar?? Atau mungkin sebenernya dia belum berniat menurunkan kami??
Entahlah. Mungkin juga si sopir kuwalat karena menarik ongkos kepada ibu-ibu yang tertipu tadi.
Yang jelas, aku dan Kuma nggak bayar sepeser pun ongkos bemo kepada sopir tersebut.

Advertisements

4 responses to this post.

  1. Cekikik
    Ada inisialku jg toh :-))

    Ada agy tmnku d.situ sensei!!
    Namax sii panjang bgt ..kalo ditulizz bisa jadi cerpen bsambung ..cekikik

    Reply

    • Posted by Jiyuu on August 26, 2009 at 9:03 pm

      inisialmu? Konyol..? Halah,haha 😀
      hho iah ta?..siapa? Cewek ato cowok?
      Uia…mas Prima ntuh emang siapamu,Nyol..? :O

      Reply

  2. Cow ..namax pnjng bgt
    ahmad jaya puji nugraha py biasa d.pngl ajp ..cekikik

    Prima tuh kakax tmnku ..nah adkx a.k.a tmnku jur sosiologi kl gag slh «brarti bnr dunk ..cekikik»

    Reply

  3. hho…anak komunikasi juga ta?
    kug kayaknya gag ada maba komunikasi yg namanya Ahmad Jaya Puji Nugraha, ya? 😮

    hho…gitu toh..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: