Mari..Dipilih..dipilih :D

Kemarin, hari Senin tanggal 14 September 2009 pukul 10.30 aku tiba di kampus untuk mengerjakan tugas kelompok Agama Islam. Ternyata pengerjaan tugas tidak berlangsung lama, karena Evi, Wita dan aku sendiri sudah mencari bahan untuk tugas tersebut. Maka kami pun hanya perlu mengambil inti dari bahan-bahan tersebut.

Selesai tugas negara, aku bingung akan melakukan apa selanjutnya. Maklum, hari ini sebenarnya aku tidak ada jadwal kuliah, jadi setelah menyelesaikan tugas sebegitu cepatnya–tidak sampai setengah jam–aku kebingungan.

Pulang ke rumah..ah, panas.

Tetep di kampus…duh, ngantuk berat. Abis sahur online terus, nggak tidur lagi. 😦

Tapi yaa..karena berangkat ke kampus nebeng Mey (seorang teman sejurusan dan saat ini berstatus ‘tetangga’), maka aku pun mengikuti kehendak Mey. Dan akhirnya aku pun menetap di kampus untuk beberapa lama.

Orang-orang datang dan pergi, tapi aku tetap berada di kampus (haiiahh..).

Tiba-tiba datang 2 orang wanita berprofesi sebagai sales menghampiri sebuah kerumunan para gadis belia sedang bercanda tawa dengan gembira, di mana aku termasuk di dalamnya (meskipun dipertanyakan, aku ini gadis atau bukan). Wanita-wanita yang juga masih belia, mungkin berumur 23-25 tahun itu menawarkan sebuah produk yang sudah tak asing lagi di mata semua warga negara Indonesia: P**ds.

Dengan sesumbar yang manis, 2 wanita belia tersebut mengatakan jika membeli produknya yang berisi 100 gram, maka akan mendapatkan facial gratis. Cukup lama 2 wanita belia tersebut berkubang dalam kerumunan kami tanpa kepastian. Bahkan seorang dari mereka menunjukkan wajah kecewa dengan jelas (kasian bener tuh mbak :P).

Tiba-tiba seorang teman bernama Gimon, yang tak lain adalah seorang penjual sandal-sandal unik di jurusanku mendekati wanita-wanita tersebut. Boro-boro membeli produknya (dan rasanya aneh juga jika Gimon yang notabene seorang cowok tiba-tiba ingin facial -.-a), Gimon malah menawarkan sandal dagangannya kepada sales-sales tersebut 😀 !!

Dan pada akhirnya, tak ada seorang pun dari kami yang tertarik pada produk tersebut dan sales-sales tersebut meninggalkan kami yang tetap saja bercanda tawa.

Kira-kira pukul 11.30, datanglah seorang teman yang selalu mengelu-elukan tempat asalnya, Trenggalek. Dia bernama Riza Roidilla, seorang gadis belia berambut sebahu yang lebih akrab disapa Roi atau Dul. Asal tahu saja, semua saudara kandungnya bernama Riza. Tidak peduli lelaki atau perempuan. Karena itulah dia lebih memilih dipanggil Roi atau Dul.

Kerumunan mulai berkurang, sebagian ada yang pergi ke kantin untuk mencari makan (kayak ayam aja) karena tidak berpuasa. Aku sendiri yang sudah dalam tahap ngantuk akut pun mulai tertidur dengan earphone yang menggantng di telinga kanan.

Beberapa menit kemudian, hadirlah sales girl dari produk lain, sebuah produk minuman berenergi yang bernama Ener**ll. Berbeda dengan produk pertama, produk kedua ini langsung membuat seorang Roi tertarik untuk membelinya.

Kenapa?

Usut punya usut, ternyata si sales datang bersama produknya serta bonus: gelas. Sebagai seorang perantau yang (mungkin) selalu terlupa membawa gelas dari kota asalnya, Roi dengan mata berkilat-kilat mengajak kami yang berada dalam kerumunan untuk membeli produk tersebut. Maklum, untuk mendapatkan bonus gelas tersebut, kami harus membeli minimal 2 produk tersebut.

Dan akhirnya usahanya yang memakan waktu beberapa menit itu membuahkan hasil. Seorang Evi dan seorang Mey pun termakan bujuk rayunya. Roi pun berhasil mendapatkan gelas idamannya.

Dan ternyata bonus tidak sampai di situ. Masih ada bonus tambahan, yakni dengan mengambil sebuah gulungan kertas kecil untuk mendapatkan hadiah tanpa diundi. Roi, Evi dan Mey memilih gulungan-gulungan kertas dengan heboh, sampai pada akhirnya pilihan terhenti pada sebuah gulungan kertas yang setelah dibuka ternyata bertuliskan: Lunch Box.

“Yeeeeiii..!!” begitulah keributan yang ditimbulkan oleh ketiganya, terutama oleh Roi tentunya.

Jika melihatnya tingkah lakunya, sungguh aku hendak lari saja dari sana.

Tak lama kemudian, mereka pun berbondong-bondong mengambil hadiah tersebut.

Kira-kira sepuluh menit kemudian mereka kembali dengan wajah kecewa.

Ternyata…hadiah tersebut..lunch box itu…lebih tepat jika diberikan kepada anak TK! Sungguh mengenaskan sekali melihatnya, tak tega aku mempergunakannya untuk kotak makanku sendiri. Entah bagaiman hidupku jika aku hanya makan ‘sebanyak‘ itu.

Kepada ketiga temanku, entah siapa yang membawa hadiah mungil tersebut, bersyukurlah. Mungkin itu adalah anugerah dari Tuhan di masa-masa terakhir bulan penuh berkah ini 😛 .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: