Menguak Malam

(Happened at 21.30-22.30, Saturday, September 19, 2009)

Hari ini adalah hari terakhir bagi para umat muslim untuk menjalankan ibadah puasa di bulan penuh berkah. Maka tak heran jika di mana-mana terdengar kumandang takbir yang menggetarkan hati. Dan berada di kota metropolitan seperti Surabaya merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, mengesampingkan suhu udara yang tidak bersahabat. Ya, di saat-saat seperti ini sudah menjadi rahasia umum bahwa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya akan menjadi kota mati, dan itu adalah hal yang paling membahagiakan bagiku karena tak akan ada kemacetan ataupun produksi gas monoksida yang berlebihan di jalanan.
Tetapi aku ingin segera membuktikan kebenarannya—saat ini juga. Maka tanpa pikir panjang aku mengajak (sebenarnya lebih tepat jika dikatakan ‘meminta’) kakak keduaku, Nopek (nama disebutkan atas permintaan yang bersangkutan) untuk berkeliling Surabaya. Dan beruntunglah ia mengiyakan dan kami juga dapat mengantongi izin dari empunya rumah dan sumber kehidupan kami—ibunda tercinta. Maka, kira-kira pada pukul 21.30 kami berangkat mengarungi jalanan sambil menikmati udara malam.

Sebelumnya aku akan menuliskan rute perjalanan kami:
Rumah-Wonokromo-Kebun Binatang Surabaya-Darmo-Tunjungan Plaza-BG Junction-Tugu Pahlawan-Balai Pemuda-Balai Kota Surabaya-SMA komplek-PDAM-RS Dr.Soetomo-Ngagel (Uranus)-St.Wonokromo-A.Yani-putar balik Dolog-A.Yani-rumah.

Sebenarnya aku sudah bisa mengetahui bahwa Surabaya belum ‘mati’ sejak aku dan kakakku keluar dari rumah. Ternyata jalanan tetap saja diramaikan oleh para pengendara bermotor, meskipun memang tidak seramai biasanya—mengingat hari ini adalah malam Minggu. Di setiap jalan yang kami lalui, kami selalu menemui sekelompok orang yang mengumandangkan takbir berjamaah, mayoritas dari mereka menaiki pick up. Bedanya, ada yang menggunakan loud speaker, gendang, bahkan drum sebagai alat untuk meramaikan suasana.
Tetapi dari mayoritas tentu ada minoritas. Aku menemukan minoritas itu ketika kami masih melintas di Jl. Raya Darmo. Sekelompok orang yang tidak biasa—menyuarakan takbir dengan mengayuh sepeda, beberapa berpakaian tradisional plus blangkon, beberapa mengenakan pakaian muslim, putih-putih beserta sorban yang membalut kepala. Sekelompok orang yang tak bisa lagi dikatakan muda tersebut membelah jalanan dengan perlahan namun pasti—dengan tujuan yang mulia.
Uhm.. saat mengendarai motor melalui Jl. Raya Darmo, aku melihat ke arah Taman Bungkul dan itu cukup menarik perhatianku. Ternyata tempat itu tetap saja ramai meskipun esok hari sudah tiba hari raya. Jiwa muda memang tidak pernah padam.
Mendahului para sepeda ontelers tersebut, aku dan kakakku meneruskan perjalanan hingga Tunjungan Plaza. Mall yang terletak di pusat kota itu tetap saja ramai, meskipun sekali lagi kukatakan—tidak seramai biasanya. Kami pun menikmati perjalanan yang lancar itu dengan santai.
Kemudian perjalanan berlanjut hingga ke Tugu Pahlawan, sebuah bangunan yang menyimpan sejarah yang terjadi di kota pahlawan ini. Di sekitar Tugu Pahlawan aku melihat beberapa orang menawarkan sesuatu kepada orang-orang yang semuanya adalah muda-mudi yang sedang berhenti di pinggir jalan: uang. Mereka menjual sebungkus uang dua ribu rupiah entah dengan harga berapa. Yang jelas, kakakku mengatakan bahwa dulu temannya pernah ditawari uang dua ribu rupiah yang seharga dua ratus ribu rupiah, dengan harga jual dua ratus empat puluh ribu rupiah.
Aku sendiri mengetahui sehari sebelumnya di pinggir jalan mall terdekat dengan rumahku, ketika ada seorang pria yang menawarkan barang yang sama kepada seorang pemuda. Bedanya, sebungkus uang dua ribu rupiah tersebut seharga seratus ribu rupiah, dan hendak dijual seharga seratus dua puluh ribu rupiah. Hmm…ok, sebenarnya tak ada bedanya.
Di antara macam-macam penjualan, mulai dari jual barang bekas, jual rumah, sampai jual diri, bagiku jual uang adalah suatu gebrakan baru. Ya, tentu saja karena yang dijual adalah mata uang negara sendiri, kemudian ditukar dengan uang negara sendiri pula yang harganya lebih tinggi. Sungguh mengesankan.
Meninggalkan para penjual uang tersebut, aku dan kakakku melaju mengitari Tugu Pahlawan dengan tujuan berikutnya: pusat kota. Tetapi kami sempat terhenti oleh lampu lalu lintas yang menyala merah. Sambil menanti lampu merah berubah menjadi kuning lalu hijau, aku melihat sekelilingku yang tak lain dan tak bukan adalah bangunan tua sisa penjajahan Belanda yang sudah diperbaharui. Kuakui bahwa bangunan-bangunan tersebut cukup menarik, namun tetap saja itu hanyalah bangunan yang tak dapat mengurangi polusi di kota yang cukup padat ini.
Lampu merah telah berganti menjadi hijau. Tetapi pergantian waktunya sangat mencengangkan dan mampu membuatku dan kakakku terpana. Lampu hijau: 5 detik. Menakjubkan. Disusul lampu kuning yang menyala setelahnya dengan waktu 3 detik. Untunglah jalan tersebut cukup sepi, sehingga kami yang sedang berada di sana tidak perlu bertindak anarki dengan cara mencabut lampu lalu lintas tersebut.
Melupakan lampu lalu lintas yang menakjubkan itu, kami terus membelah jalanan melalui Balai Pemuda yang sangat sepi. Tenpat yang biasanya menjadi tempat pameran barang-barang seni itu ternyata sedang tutup.
Motor terus melaju melewati Balai Kota Surabaya dan kemudian motor bergerak ke arah SMA komplek. Melalui sebuah jalan kecil, kami menemui sekumpulan remaja yang sedang bermain kembang api. Tetapi sungguh tak terduga cara bermain mereka. Kembang api mereka arahkan ke jalan di mana pengendara bermotor atau orang-orang mungkin saja tiba-tiba melintas, meskipun jalan tersebut sepi. Beberapa bahkan mengarahkan kembang apinya kepada temannya sendiri. Meski sadar sedang melakukan permainan berbahaya, mereka tetap tertawa bersama dalam kesenangan mereka sendiri.
Selamat dari permainan hebat itu, kami pun terus memicu motor tanpa tujuan. Kami terus berkeliling sambil menghirup udara malam yang jelas-jelas tidak baik bagi kesehatan. Sampai pada akhirnya kami menyudahi perjalanan kami yang berlangsung selama satu jam tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: