Daging Ayam dan Suki

Apa persamaan daging ayam dan Suki? Tidak ada tentu saja, kecuali Anda kanibal dan berniat untuk memakannya. Lalu, apa perbedaannya? Banyak, yang paling mendasar adalah bahwa daging ayam berasal dari seekor ayam, sementara Suki adalah sesosok bayi mungil, imut nan tampan (dan menyebalkan 😛 ).

Tapi sudahlah, lupakan saja karena saya sama sekali tidak hendak membicarakan tentang perbedaan dan persamaan daging ayam dan Suki. Saya hanya ingin menceritakan sebuah peristiwa–dapat dikatakan tolol–yang terjadi pada Suki berkaitan dengan daging ayam.

Tadi malam, tertanggal 11 November 2009 sekitar pukul 7, saya selesai mandi dan perut saya memulai sebuah konser yang belum terlalu ramai oleh teriakan penonton sebenarnya (baca: belum terlalu lapar), tetapi karena ingin mengunyah sesuatu (sebenarnya ingin mengunyah Suki, tapi dia terlalu lucu untuk dimakan 😛 ), maka saya pun mencari makanan. Tiba-tiba mata saya berlari ke arah meja makan dan menangkap sebuah mangkuk besar berisi mie goreng (mata saya belum kembali!!) dan tanpa pikir panjang saya segera memindahkannya ke mangkuk yang lebih kecil beberapa sendok untuk saya makan sendiri.

Saya pun seperti biasa makan di depan TV dan saat itu Suki juga ada di sana. Saya asyik memakan mie goreng dan ternyata Suki memerhatikan saya sejak saya mulai makan. Hmm…sepertinya Suki ingin cepat-cepat bisa berlari (lho, apa hubungannya? Wkwk*).

Saya pun menyodorkan padanya sedikit mie, sekadar untuk dicicipinya. Tapi sepertinya ia merasa kurang, atau mungkin kurang terasa. Akhirnya saya pun menyodorkan sepotong daging ayam yang saya jepit sekuat mungkin dengan sumpit agar tidak ditelan olehnya. Sedikit demi sedikit ia mencicipinya sampai kemudian….

“Hahhh!! Keluarin…keluarin!!” saya berteriak.

Teriakan saya cukup menyita perhatian orang-orang serumah. Semua bertanya apa yang terjadi.

“….Suki makan ayam!!” kata saya dengan penuh penyesalan sambil mencoba membuka mulut Suki.

“Ya udah biarin aja, ntar juga dikeluarin (lewat pup),” ujar kakak kedua saya.

Saya tetap syok, sementara Suki malah mengunyah daging ayam tersebut meskipun ia belum mempunyai gigi. Dan tiba-tiba….

“Hoekk…”

Suki memuntahkan isi perutnya, tepat ketika jari saya berada di depan mulutnya. Ia muntah di atas kasur. Bagus sekali. Saya pun segera membantu ibu Suki yang tak lain adalah kakak pertama saya untuk membersihkan muntahannya.

Yahh…saya merasa bersalah karena membuat Suki muntah, tetapi saya juga bersyukur karena akhirnya daging ayam itu keluar juga.

Sehari kemudian…

“Aku tadi lho, abis nyuci bajunya Abil (Suki), nemu ayam di dalem mesin cuci. Lumayan gede ternyata!” ujar ibu Suki, membicarakan tentang penemuannya akan potongan ayam yang dimakan oleh Suki.

Setelah membersihkan muntahan Suki dari kasur, ibu Suki memang tidak membersihkan kain yang tak lain adalah pakaian Suki yang digunakan untuk membersihkan muntahan tersebut. Pakaian itu dimasukkan ke mesin cuci begitu saja hingga muntahannya mengering, dan tentu saja potongan ayam ada di dalamnya.

“Oh…geblek!!” seru kakak kedua saya sambil memukul kepala saya (dengan bercanda tentu saja). Dan saya diomeli olehnya dan juga ibu saya.

NB: Don’t try this, anywhere!!

Advertisements

4 responses to this post.

  1. jiakakak
    nasib suki buruk bgt si, punya tante kyk sensei bener2 ngeri =P

    Reply

  2. hahaha…
    kapok!!!
    mesti lak aneh2….
    lain kali kasih suki bubur ayam aja..
    ayame disuwir2…wenak toh??
    hehehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: