Penghargaan Untuk yang Terkasih

Eemmmm….Ini adalah sebuah cerpenku yang kuikutin LMCR 2009, tapi nggak menang (huaaaaa….). Buat yg bersedia, mohon dibaca n dikomentari, kritik n saran yang membangun (kalo bisa buat bangun jembatan buat nyatuin Kutub Utara ma Kutub Selatan 😀 ). Selamat membaca 😀 .

———————————————————————————————————-

Pagi hari ini matahari mengembangkan senyumnya di seluruh penjuru kota dengan indah. Didorong oleh kicauan burung dan hembusan angin, aku berjalan ke depan podium dengan bangga. Langkah-langkahku terasa ringan dan senyum terkembang lebar di bibirku.

Semua mata di aula sekolah saat ini sedang tertuju padaku, hanya padaku. Seorang siswi pandai di sekolah dengan segudang prestasi. Aku adalah seorang jawara kelas sejak aku menginjakkan kakiku di bangku sekolah dan posisi itu tidak pernah tergantikan oleh siapapun. Berkali-kali aku mengikuti olimpiade sains dan hampir semua piala menjadi milikku. Aku juga sering ikut serta dalam lomba menggambar dan desain.

Aku tidak bermaksud sombong, tetapi bolehlah orang kecil sepertiku membanggakan diri sedikit. Setiap hari aku belajar mati-matian untuk mempertahankan beasiswa yang kudapat dari sekolah. Ya, aku memang anak dari keluarga miskin, tetapi itu tidak membuatku rendah diri apalagi menyurutkan niat belajarku. Aku akan terus belajar dengan tekun untuk meraih impianku yang telah kupupuk sejak kecil, yakni menjadi seorang arsitek.

Aku harus belajar dengan giat karena orang tuaku yang kurang berkecukupan mau tidak mau harus menanggung tiga orang anaknya, salah satunya adalah aku yang saat ini sudah duduk di bangku SMA kelas 3. Kedua adikku masing-masing menginjak bangku SMP kelas 2 dan SD kelas 6. Beruntunglah orang tuaku memiliki anak-anak yang patuh seperti kami dan selalu mendapatkan beasiswa dari sekolah, sehingga mereka tidak perlu berhutang sana-sini untuk memenuhi kebutuhan rohani kami akan pendidikan.

*

Aku masih ingat saat aku masih kelas 1 SD, di saat seseorang bertubuh tegap, besar dan kekar berjaket hitam dan raut wajahnya menyeramkan tiba-tiba mendobrak pintu rumah kami yang sudah lapuk. Saat itu adikku yang paling kecil masih berada dalam kandungan ibu dan adikku yang satu lagi baru berumur 2 tahun. Aku yang sedang belajar spontan melonjak kaget, adikku menangis dan ibu ketakutan setengah mati sampai wajahnya terlihat pucat. Ayahku sendiri mencoba untuk terlihat tenang meskipun aku tahu ia gemetar dan keringat dingin bercucuran dari dahinya.

“Kalian sudah menunggak hutang selama tiga bulan. Kalo hari ini tidak juga kalian lunasi, kami akan ambil semua barang-barang yang ada di sini dan kalian harus segera meninggalkan tempat ini!” bentak lelaki sangar itu.

Ternyata ia tidak sendirian, pikirku sambil melongok keluar rumah.

“Jangan…jangan ambil barang-barang kami. Jangan pula usir kami. Beri kami sedikit lagi waktu untuk melunasi hutang kami..,” pinta ayah gemetar.

“Hah, enak saja kau bicara! Berulang kali kami datang kemari dan hanya kata-kata itu saja yang kami dengar! Memangnya kau pikir kami bisa dibodohi, hah??!” bentak lelaki sangar itu lagi.

“Maaf…maafkan kami. Kalau begitu..bawa saja aku dan biarkan anak-istriku tetap di sini. Aku akan membayar semua hutangku dengan diriku ini..,” ujar ayah dengan rela.

Ibu menangis sambil memohon pada lelaki sangar itu agar tidak membawa pergi ayah. Tangisan adikku semakin keras dan aku hanya terpaku melihat kejadian itu seolah semua hanyalah semu. Sementara lelaki sangar itu malah tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan ayahku.

“Apa untungnya aku membawa kau kepada bosku? Badanmu kurus kering dan wajahmu sudah keriput. Paling-paling kau hanya bisa dijadikan kuli! Hahaha!” tawa lelaki sangar itu dan diikuti oleh lelaki sangar lain di belakangnya.

“Jadi kuli pun tak apa, asal anak-istriku tetap dapat tinggal di sini,” ujar ayahku memohon.

“Hah, mudah benar kau bicara!” bentak lelaki sangar itu.

“Sudahlah, Boy, kita bawa saja dia pada bos. Mungkin saja bos mau,” saran lelaki sangar yang lain.

“Iya, Boy, kalau bos tak mau, tinggal buang saja dia, hahaha!” sahut lelaki sangar yang satu lagi.

Aku tersentak dengan ucapan lelaki yang terakhir buka mulut itu. Kurang ajar benar ucapannya, seolah ayahku hanya mainan baginya. Aku hendak berdiri meneriakinya ketika ayah kembali berucap.

“Begitu pun tak apa, asal keluargaku kalian biarkan tetap tinggal,” pinta ayahku sambil bersujud di bawah kaki lelaki sangar di hadapannya.

Para lelaki sangar itu tertawa semakin keras. Di mata mereka, ayahku sedang menceritakan sebuah lelucon yang patut ditertawakan oleh mereka. Tetapi tak lama mereka tertawa, setelah itu mereka menarik ayahku dengan kasar dan membawanya pergi. Ibuku langsung pingsan karena stres dan adikku tetap saja menangis, seolah menangis dapat membuat ayah kami kembali. Aku sendiri berusaha menghentikan langkah orang-orang itu sambil memukuli mereka. Tetapi aku malah ditendang oleh salah satu dari mereka hingga aku jatuh pingsan.

*

Sudah lewat enam tahun dan ayah tidak juga kembali sejak hari itu. Kami sekeluarga tak pernah tahu bagaimana keadaan ayah dan tak pula tahu keberadaannya. Aku pun mati-matian mencari uang demi sesuap nasi dan menafkahi keluargaku karena ibu seperti orang gila sejak saat itu. Adikku yang dulu berada di perut ibuku kini sudah berumur enam tahun. Aku merasa kasihan padanya karena terlahir tanpa sempat melihat ayah ataupun merasakan kasih sayang ayah. Ayah adalah lelaki yang luar biasa dan aku sangat mengaguminya.

Seringkali kami mendengar desas-desus dari para tetangga bahwa setiap orang yang berhutang pada orang yang kata para lelaki sangar itu ‘bos’, maka nasibnya pasti buruk. Jika hutang tidak langsung dibayar, maka akan berbunga dua kali lipat, begitu seterusnya. Jika sudah sampai batas akhir yang ditentukan hutang tidak juga dibayar, maka nasib mereka akan seperti yang dikatakan para lelaki sangar itu, diambil barang-barangnya dan diusir dari rumah. Dan nasib terburuk yang ada, seperti dialami ayahku, entah bagaimana nasibnya. Ada yang mengatakan dijadikan buruh, ada pula yang dijual keluar pulau, atau dihajar sampai mati karena sungguh tidak berharga bagi mereka.

*

Berbagai pekerjaan kujalani. Aku memulung, aku mengamen, menjual koran, dan jika terpaksa aku pun mengemis, meskipun dalam lubuk hati terdalam aku enggan melakukannya.

Aku teringat ucapan ayahku dulu, “Apa pun pekerjaan itu adalah baik asal dilakukan dengan cara dan niat yang baik, yang tidak merugikan siapa pun. Tetapi mengemis tidak ayah izinkan meskipun tidak begitu merugikan orang lain. Mengemis itu berarti kita sudah menyerah pada keadaan. Tuhan melarang kita untuk menyerah dan memerintahkan kita agar selalu berusaha.”

Meskipun bekerja, aku tetap bersekolah. Aku tak ingin melepaskan cita-citaku, apalagi ayah pernah berkata padaku untuk tetap bersekolah dan meraih impianku setinggi langit. Paginya aku bekerja dan siang aku ke sekolah. Aku dan adik pertamaku bergantian mengurus adik kecil kami.

Pernah suatu hari seorang teman sekolahku melihatku mengamen di jalan dan ia memperolokku. Saat di sekolah, berita itu dengan cepat menyebar dan semua teman-temanku menjauh dariku. Untunglah seorang sahabatku yang bernama Lina tetap setia menemaniku, meski pada akhirnya ia pindah sekolah ke luar kota.

Sejak ayah pergi, ibuku menjadi wanita pemurung. Beliau tak mau keluar rumah, susah makan, bahkan beliau tidak pernah mau menyentuh adik terakhirku. Beliau tidak memedulikan kami semua anak-anaknya. Aku sangat sedih melihatnya. Untunglah adik pertamaku menjadi kuat sejak saat itu, begitu pula adik baruku. Entah dari mana kekuatan itu datang, tetapi aku sangat bersyukur karenanya.

*

“Mbak, ibu di mana?” tanya adik pertamaku suatu hari.

“Apa? Aku tak tahu, aku baru saja pulang. Memangnya tadi kamu ke mana?” tanyaku bingung.

“Aku tadi membeli telur dengan Dila,” katanya.

Dila adalah adik terakhirku. Aku semakin bingung. Otakku mulai berpikir macam-macam. Apa mungkin ibu pergi dari rumah? Apakah mungkin ibu diculik? Apa mungkin…

“Ah, sudahlah. Aku akan cari ibu. Kamu di rumah saja dan jaga Dila baik-baik,” ujarku sebelum berlalu pergi.

Aku mencari ibuku keliling kampung dan menanyai semua tetangga. Tetapi hasilnya nihil. Aku berlari menuju pasar dan kembali bertanya kepada orang-orang di sana. Namun hasilnya pun sama. Aku pun mencoba mencari ibu di masjid di kampung kami. Orang-orang mengatakan bahwa mereka tidak melihat ibuku. Aku mencari beliau ke tanah lapang di mana anak-anak di kampungku sering bermain bola. Saat aku bertanya kepada mereka, aku malah ditertawakan dan dihina. Mereka bilang ibuku gila dan aku pun menghajar beberapa dari mereka karena marah. Kemudian aku berlari meninggalkan mereka.

Sampai matahari tenggelam dan burung-burung kembali ke sarangnya, aku belum juga menemukan ibuku. Aku sudah putus asa dan akhirnya kembali ke rumah dengan langkah berat. Aku sebenarnya malu kembali ke rumah dan menghadapi adik-adikku dengan mengungkapkan hasil pencarianku yang sia-sia. Kedua adikku menangis karena kehilangan ibu. Aku pun bersedih, tetapi aku mencoba untuk menjadi setegar mungkin di depan mereka.

*

Beberapa minggu kami lalui dengan berat. Meskipun selama ini ibu tidak pernah mengasihi kami layaknya anak sendiri, tetapi kami tetap menyayanginya. Aku ingin lari dari keadaan ini, tetapi kuurungkan niatku saat melihat semangat adik-adikku dalam menjalani hidup mereka. Aku pun sadar bahwa akulah satu-satunya tumpuan mereka saat ini, maka aku harus tetap bertahan.

Suatu hari seorang tetangga berlari sambil berteriak-teriak seperti orang gila. Semua warga kampung buru-buru mengelilinginya.

“Di sungai sebelah sana…,” ia berucap sambil terengah-engah dan menunjuk ke sebuah arah, “…di sungai di desa sebelah…ada mayat!”

Semua warga gempar. Beberapa orang, terutama para lelaki tanpa komando segera berlari menuju tempat yang dimaksud. Sisanya yang mayoritas adalah ibu-ibu yang gemar bergosip tetap mengerumuni pembawa berita tersebut. Aku pun tetap berada di sana karena ingin tahu mayat siapa yang ditemukan di sungai itu meskipunj aku bukan tergolong orang-orang yang gemar bergosip.

“Siapa? Mayat siapa itu??” tanya ibu-ibu tersebut bersahut-sahutan. Mereka tak sabar ingin mengetahui identitas mayat yang ditemukan di sungai itu. Si pembawa berita sampai kelabakan ditanyai tanpa henti dan dikerumuni banyak orang sampai ia tak bisa bernafas.

“Sabar, sabar! Aku akan cerita asal kalian tidak mengerumuniku seperti ini! Aku kekurangan oksigen!” pekik si pembawa berita yang langsung menghentikan serbuan pertanyaan dari orang-orang yang mengerumuninya. Mereka pun memberikan sebuah tempat yang cukup longgar untuk si pembawa berita dan memberikannya seteguk air. Para ibu yang tadi mengerumuninya kini duduk dengan tertib di hadapannya.

“Jadi…bagaimana ceritanya?” tanya seorang ibu yang sejak tadi paling tidak sabaran.

“Aku tak tahu pasti. Polisi yang memeriksa mayat itu mengatakan bahwa jasadnya sudah membusuk karena sepertinya orang itu sudah mati sejak 3 minggu yang lalu. Wajahnya puntak bisa diidentifikasi lagi karena lebam, mungkin terbentur bebatuan,” papar si pembawa berita.

Aku tersentak mendengar ucapannya. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tidak beres.

“Pakaiannya…mayat itu pakaiannya bagaimana??” tanyaku sedikit membentak.

Si pembawa berita dan ibu-ibu di sana pun terkejut akan cara bicaraku yang tak seperti biasanya. Aku memang jarang sekali membentak, apalagi kepada orang yang lebih tua. Aku sendiri pun terkejut dengan diriku sendiri.

“Itu…pakaiannya compang-camping, tentu saja karena sudah lama ia terseret arus sungai,” jawab si pembawa berita sedikit gugup akibat bentakanku.

“Mmm..maksudku..apa warna pakaiannya? Motifnya seperti apa?” tanyaku lebih jelas.

Si pembawa berita tampak berpikir keras. Ia mencoba mengingat-ingat mayat yang dilihatnya di sungai. Tiba-tiba ia menjentikkan jarinya bak seorang detektif yang baru saja menemukan sebuah petunjuk.

“Warna bajunya memang sudah mulai tak jelas, tapi kurasa warnanya hijau dan bergambar bunga-bunga besar berwarna kuning. Dia pakai daster. Yah..kau tahulah, seperti motif daster kebanyakan.”

Daster? Warna hijau dengan bunga-bunga kuning? Apa mungkin…

Tanpa mengucapkan terima kasih kepada si pembawa berita atas informasi yang diberikannya, aku segera berlari menuju sungai yang dimaksud. Aku berlari dengan kencang seperti dikejar anjing sementara ibu-ibu di sana hanya diam memandangiku dengan perilakuku yang aneh. Terserah apa yang dipikirkan mereka tentangku, aku tak peduli. Aku hanya mengikuti firasatku yang sejujurnya kuharapkan itu tidak benar.

Aku berhenti ketika melihat orang-orang berkerumun melihat ke bawah jurang. Aku berjalan perlahan ke sana sambil berusaha mengusir pikiran burukku. Di bawah sana terlihat beberapa polisi menjaga TKP dan ada pula yang memeriksa sesuatu di hadapan mereka. Beberapa orang diinterogasi oleh salah seorang dari polisi tersebut yang kuperkirakan adalah saksi mata dan petinggi desa tersebut.

Aku berlari mencari jalan menuju sungai yang terletak di bawah jurang. Karena jalan setapak yang ada hanya dapat dilalui satu orang dan itu pun sangat kecil, maka aku pun berjalan perlahan meskipun ingin dengan segera memastikan mayat siapa itu. Setibanya di TKP, aku dihadang oleh polisi yang berjaga di tepi police line. Ia berkata bahwa tempat itu bukan tempat bermain. Aku merengek-rengek pada polisi tersebut seperti anak kecil agar diperbolehkan melihat mayat itu, tetapi aku malah diusir olehnya.

Aku tidak patah semangat. Saat kulihat polisi tersebut mulai mengalihkan perhatian dariku, aku pun berlari menerobos police line dan menyeruak ke dalam kerumunan polisi. Aku berhenti dan terperangah ketika berada tepat di hadapan mayat tersebut. Benar kata si pembawa berita tadi, jasadnya memang tak lagi bisa dikenali karena lebam dan membusuk. Baunya juga busuk dan lalat-lalat mengerumuninya.

Aku jatuh di hadapan mayat tersebut. Tubuhku bergetar hebat dan aku tak dapat membendung air mataku. Orang-orang di sekitarku terkejut melihatku sudah berada di TKP sambil menangis sesenggukan. Mereka berusaha untuk menjauhkanku dari mayat tersebut, tetapi aku meronta-ronta seperti kerasukan setan.

*

Sekarang aku sudah berdiri di depan podium dengan memegang sebuah piala yang kudapatkan dari Olimpiade Fisika tingkat Nasional yang baru saja diberikan oleh kepala sekolahku. Aku memegangnya, kemudian memeluk piala tersebut dengan erat.

“Ini untukmu, ayah dan ibu, yang sudah meninggalkanku dan adik-adikku begitu cepat. Semoga ayah dan ibu senang melihatku di sini bersama piala ini, di mana pun ayah dan ibu berada,” batinku sambil tersenyum.

*TAMAT*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: