Perahu di Tengah Samudera

Mmm…ini cerpenku yang kuikutin LCCG 2009. Bikinnya jauh lebih dulu ini cerpen, n kalo kubaca lagi emang agak geje sih, haha 😛 .

N ni cerpen nasibnya sama kayak cerpenku yang kuikutin LMCR 2009, kalah. Nyahaaa….

So, sekali lagi mohon luangkan waktu untuk membaca cerpen ini n tolong kasih komentar, kritik n saran…kamsahamnida 😀 .

—————————————————————————————————————-

Aku menghirup udara sore ini dan menghembuskannya berulang kali. Kucium aroma tanah yang basah oleh hujan sambil menutup mataku, mencoba menikmatinya sembari menguapkan kepenatanku akan masalah-masalah yang menumpuk dalam otakku. Sesekali aku menggerakkan jari-jariku yang terasa beku oleh angin yang berhembus perlahan namun cukup untuk membuatku menggigil.

Kurang lebih sudah sebulan ini hujan mengguyur kotaku tercinta. Aku merasa sangat senang karena hujan selalu turun, tetapi aku juga merasa khawatir karena hujan datang tidak pada waktunya. Akibat global warming, kini musim hujan bertukar masanya dengan musim kemarau.

Sudah sepuluh menit lamanya aku duduk sendirian di koridor sekolah sambil mendengarkan lagu dari penyanyi asal Jepang favoritku, YUI. Aku duduk menghadap lapangan sekolah di mana beberapa siswa sedang bermain sepak bola dengan tubuh basah kuyup. Meski begitu, mereka tetap dengan penuh semangat bermain di tengah hujan. Sesekali salah seorang dari mereka terpeleset karena tanah yang basah, tetapi mereka tetap melanjutkan dengan gembira. Sorak-sorai mereka terdengar jelas olehku meskipun aku menggunakan earphone.

Tiba-tiba saja seseorang menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh.

“Belum pulang, Rin?” tanya orang tersebut yang tak lain adalah Ivan, teman sekelasku di kelas satu dulu.

“Udah,” jawabku sekenanya.

Ivan mengernyitkan dahinya. Melihatnya dengan ekspresi tolol seperti itu membuatku tersenyum geli.

“Ya belum lah, tau sendiri aku masih di sini,” jawabku sambil tertawa kecil.

“Sialan,” gerutu Ivan karena merasa dibodohi.

Ia kemudian duduk di sebelahku dan ikut menonton para siswa yang masih asyik bermain sepak bola. Beberapa saat lamanya kami hanya duduk diam menonton permainan mereka di lapangan sambil menikmati aroma tanah yang basah oleh hujan serta suara katak yang ikut memecah kesunyian.

“Terus, kamu ngapain masih di sini?” tanyaku sekedar basa-basi.

“Emang nggak boleh aku di sini? Sekolah moyang kamu nih?” tanyanya balik sambil memasang tampang sinis.

“Ah, rese. Balas dendam nih,” gumamku malas.

Ivan tertawa sembari memamerkan sederet giginya yang putih dan rapi.

“Tadi abis ada urusan dikit sama Andre,” jawabnya kemudian.

“Oh…terus, Andre mana sekarang?”

“Ow-ow-ow…ternyata…Rin…Andre nih,” goda Ivan sambil berdehem.

Aku hanya diam dan pasrah. Percuma aku menanggapi gurauannya yang tidak penting itu.

“Nah, kamu sendiri ngapain di sini terus? Jangan bilang ini beneran sekolah moyang kamu,” tanya Ivan kepadaku setelah merasa bosan karena tak ada tanggapan bagi gurauannya.

“Nggak papa, lagi males aja pulang,” kataku sambil tersenyum mendengar ucapannya.

“Heh? Males kok males pulang, aneh.”

Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya. Beberapa detik kemudian kami kembali tenggelam dalam diam, menikmati hujan yang tinggal tetesan-tetesan serta sorak-sorai siswa-siswa lain di lapangan.

“Kuliah ntar mau ambil jurusan apa, bro?” tanyaku tiba-tiba.

Ivan terlihat berpikir beberapa saat lamanya, kemudian berkata, “HI sama Psikologi.”

Aku hanya mengangguk lesu mendengar jawabannya. Aku tahu sejak dulu Ivan memang ingin sekali melanjutkan ke sana.

“Kamu sendiri mau ambil apa?” tanya Ivan balik.

“…nggak tau. Ortu sih nyuruhnya kalo nggak Kedokteran, ya Keperawatan,” jawabku lesu.

“Lhah, yang mau sekolah itu kamu ato ortu kamu? Kok bilangnya disuruh ortu,” kata Ivan sambil tertawa geli.

“Nggak tau deh. Aku sih maunya Arsitektur kalo nggak Desain Interior, tapi pasti nggak dibolehin.”

“Kenapa?” tanya Ivan sambil mengerutkan keningnya.

“Soalnya kakekku dulu dokter, ayahku dokter, kakakku calon dokter, jadi aku disuruh jadi dokter juga,” jawabku malas.

Ivan tertawa keras mendengar ucapanku. Aku cemberut melihatnya seperti itu.

“Kok malah ketawa, sih? Aku butuh solusi, bukannya diketawain, sial,” protesku kesal.

“Hahaa…iya, iya, maaf. Abisnya lucu aja, keluarga dokter. Lama-lama kakakmu  punya anak, terus jadi dokter juga. Jangan-jangan calon istri kakakmu juga calon dokter. Bisa tuh bikin asrama keluarga dokter,” tebak Ivan sambil tertawa geli.

“Emang,” kataku sambil tersenyum kecut.

Ivan langsung diam dan melongo mendengar jawabanku. Aku diam saja. Ia kemudian memandangiku cukup lama. Aku merasa salah tingkah juga dengan sikapnya itu meskipun aku hanya menganggapnya teman.

“Hmm…pasti kamu belum bilang kalo kamu lebih pengen ambil Arsitek, ya?” tebak Ivan.

Aku terkesiap. Kenapa dia bisa tahu?

“Pantes aja. Gimana ortu kamu nggak maksa kamu ambil Kedokteran kalo kamu sendiri nggak bilang apa maumu,” kata Ivan kemudian.

“Yaa…abisnya..pasti nggak didengerin,” kilahku.

“Emang udah pernah nyoba ngomong?” tanya Ivan sambil tersenyum.

Ia memandangi tepat ke arah mataku lekat-lekat. Sial, aku jadi merasa bodoh.

“Kamu yakin nggak kalo kamu nanti bisa di Arsitek?” tanya Ivan.

Aku hendak membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, membela diri atau semacamnya. Tetapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku. Ivan kembali tertawa kecil melihat ekspresiku.

“Gimana mungkin ortu kamu yakin, kalo kamu sendiri nggak yakin sama diri kamu sendiri?”

Aku termenung memikirkan ucapan Ivan. Aku tak ingin disalahkan, tetapi nyatanya memang akulah yang salah. Aku hanya bisa diam.

“Kamu itu kayak perahu di tengah samudera, terombang-ambing. Masalahnya, kalo perahu itu terombang-ambing karena faktor luar, yaitu ombak, sementara kamu bingung karena kamu sendiri yang menciptakan kebingungan itu,” ujar Ivan bak seorang filosofis.

Kami kembali terdiam. Aku merenungkan analogi yang dibuatnya itu.

“Huff…ternyata aku berbakat jadi filosof,ya,” katanya kemudian sambil tertawa.

Aku tersenyum mendengar pujiannya terhadap dirinya sendiri itu.

Tiba-tiba ia menepuk bahuku perlahan.

“Yakinin dulu diri kamu sendiri, baru kamu bilang ke ortu kamu apa yang kamu mau,” nasehatnya sebelum ia meninggalkanku sendiri.

Sudah pukul lima sore. Satu persatu siswa pulang ke rumah masing-masing. Permainan sepak bola di lapangan berakhir sudah. Langit kini hanya menyisakan gerimis kepada bumi. Hujan tidak lagi deras, tetapi angin masih tetap terasa dingin di kulitku. Aku pun merapatkan jaketku dan bergegas meninggalkan sekolah yang kini hanya diramaikan oleh suara katak yang bersahut-sahutan.

-o0o-

Sinar matahari yang cerah menerobos celah-celah dedaunan yang masih basah oleh embun. Aku duduk di bangku paling belakang di kelasku sambil memandangi burung-burung pipit yang bersiul bersahut-sahutan dan kemudian terbang berkelompok.

Aku masih merenungi kata demi kata yang diucapkan Ivan kemarin. Meyakinkan diri sendiri, baru kemudian meyakinkan orang tuaku.

“Hah…,” aku menghela nafas panjang.

Sepertinya suaraku tadi cukup keras karena kemudian Sasha, teman yang duduk di depanku menoleh.

“Kenapa, Rin?” tanya Sasha heran.

“Eh, nggak papa,” kataku malu.

Sasha memandangiku lekat-lekat.

“Kenapa?” tanyanya memaksa.

“Ngg…nggak papa…,” jawabku takut-takut.

Sasha memandangiku semakin dekat. Sekarang kedua alisnya ikut bertaut dan dahinya berkerut. Lagaknya seperti seorang detektif amatir yang berusaha mengorek informasi dari seorang tersangka.

“Uuugh…nggak papa, monyong!” pekikku kesal karena terus didesak sambil menjitak kepalanya.

“Bhuu…gitu aja marah,” gerutu Sasha sambil cemberut dan mengelus-elus kepalanya.

“Kamu maksa terus, sih.”

Sasha menjulurkan lidahnya, kemudian berbalik menghadap ke mejanya, menekuni PR Kimia milik Hani untuk dicontek. Tetapi tiba-tiba Benny datang menggemparkan dunia.

“Sashaaa..!!” seru Benny lantang dari depan pintu kelas.

“Apaan sih?!? Masuk napa?? Kelas sendiri juga,” bentak Sasha.

Sasha dan aku sampai terlonjak kaget mendengar seruan Benny yang keras namun cempreng itu.

“Sha, Sha…aku bete nih, Sha..!!” kata Benny saat sudah duduk di sebelah Sasha.

Benny dan Sasha sudah bersahabat sejak SD. Benny yang sedikit feminin untuk seorang laki-laki membuatnya tidak memiliki banyak teman laki-laki. Kebanyakan temannya adalah perempuan, dan Sasha adalah yang paling dekat dengannya.

“Bete kenapa lagi?” tanya Sasha sambil tetap menyalin PR Kimia.

Tak terhitung sudah berapa kali Benny mengatakan ‘aku bete’ kepada Sasha. Sepertinya setiap saat ada saja masalah Benny.

“Masa ortuku nggak ngebolehin aku masuk Sastra Inggris, padahal aku ‘kan udah diterima di UM,” gerutu Benny.

“Lho? Kok gitu? Kenapa?” tanya Sasha.

Kini dia menghentikan kegiatannya dan hanya memperhatikan Benny. Aku ikut mendengarkan pembicaraan mereka dari belakang mereka sambil berpura-pura mendengarkan lagu-lagu dari iPod.

“Yah…ortuku lebih pengen aku masuk Sastra Prancis, secara aku udah ada bekal bahasa Prancis gitu. Tapi ‘kan aku belum expert, dan aku nggak begitu tertarik sama Sastra Prancis,” papar Benny panjang lebar.

“Lhah? Kalo bahasa Inggris ‘kan….,” Sasha tidak melanjutkan kata-katanya karena bingung dengan masalah Benny.

Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu sambil mengerutkan keningnya.

“Iya, bahasa Inggris jelas aku udah nguasain. Tapi kata ortuku semua orang juga hampir pasti nguasain bahasa Inggris. Lagian sekarang kerja nggak cuman dicari yang pinter bahasa Inggris doang,” ujar Benny lesu.

Sasha menghela nafas panjang, Benny juga.

“Tapi…kalo ambil Sastra Prancis, emang mau kerja apa?” tanya Sasha.

“Kata ortuku sih, ‘kamu kan bisa kerja di Prancis. Toh dulu kamu pernah belajar di sana, ada sertifikat lagi.’. Hah…bete!!” pekik Benny sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“E…emangnya udah pasti bisa kerja di sana?” tanya Sasha ragu.

“Meneketehe! Mereka pikir aku bisa?? Uukh…yang ngerasain ‘kan aku sendiri, dan aku tau kemampuanku gimana. Sok tau banget tuh orang tua!” gerutu Benny kesal sambil memukul meja.

“Mmm…kamu udah bilang sama ortumu kalo kamu nggak yakin kamu bisa di Sastra Prancis?” selidik Sasha.

“Halah, percuma ngomong sama mereka! Nggak bakal dipeduliin!”

“Berarti…belum bilang?” tanyaku tiba-tiba.

Sasha dan Benny menoleh ke arahku. Mereka tidak menyangka kalau ternyata aku mendengarkan pembicaraan mereka.

“Dari tadi kamu nguping??” tanya Benny terkejut.

Aku hanya tersenyum dan mengatakan ‘maaf’ melalui ekspresi wajahku.

“Iya, Ben…berarti kamu belum coba bilang, ‘kan? Coba aja dulu. Ngotot sekalian kalo perlu, hehe,” ujar Sasha.

Benny merenungkan ucapan Sasha dan diam beberapa saat. Kemudian ia menghembuskan nafasnya dengan kuat dan mengepalkan kedua tangannya.

“OK! Aku bakal ngomong sama mereka! Aku bakal bilang kalo aku nggak bisa dan nggak mau!” seru Benny lantang.

“Gitu dong! Masalah dibolehin ato nggak urusan belakang, yang penting usaha dulu,” kata Sasha sambil menepuk bahu Benny untuk memberi semangat.

Aku hanya tersenyum melihat semangat Benny yang berkobar-kobar. Secara tidak langsung, mereka berdua juga memberikan semangat padaku.

Aku berjalan keluar dari kelas dengan langkah yang pasti. Aku tersenyum bahagia karena aku sudah menemukan semangat baru dalam diriku. Aku merasakan api yang membara dalam jantungku dan membakar semangatku. Aku juga akan berusaha seperti halnya Benny. Aku tidak akan lagi menjadi perahu di tengah samudera.

Angin bertiup sepoi-sepoi melambaikan dedaunan di taman sekolah dan juga rambutku, seperti sedang meniupkan suatu dorongan bagiku. Udara terasa begitu sejuk dan sinar matahari bersinar dengan hangat, seolah tersenyum padaku, seolah ikut menyemangatiku. Burung-burung yang sedang bertengger di dahan pohon kayu putih berkicau riang, seakan meneriakkan semangat untukku.

-End-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: