movie review: 3 Idiots

Baru saja aku menonton sebuah film berjudul 3 Idiots. Film ini kutonton atas rekomendasi dari seorang teman kuliahku, Roii. Begitu menggebu ketika ia menawarkan film ini untuk kami—aku, Mey, dan Mizela (2 teman kuliahku yang lain)—tonton. Saat itu kami berencana menonton bersama di kos Mizela, tetapi sayangnya laptop Mizela tidak memiliki software yang mendukung untuk memutar film ini. Akhirnya, hari ini aku menontonnya sendiri di rumah, setelah sebelumnya aku meng-copy film ini dari Roii.

Saat melihat poster filmnya (Roii memasukkan pula gambar dari film ini), tahulah aku bahwa ternyata ini adalah film India. Bukannya membenci film India; sebenarnya film India cukup bagus, seandainya mereka mengurangi (atau mungkin meniadakan?-.-a) porsi adegan menari bersama. Dan film ini pun, tak jauh dibandingkan dengan film-film India yang lain, ternyata tetap saja mengandung ‘ritual’ yang sudah menjadi ciri khasnya. Namun mengesampingkan hal tersebut, kuakui film ini sangat wajib untuk ditonton.

Why?

Film ini mengisahkan tentang suka duka 3 orang mahasiswa Imperial College of Engineering yang bernama Farhan, Raju, dan Rancho. Orang tua Farhan sejak kelahirannya telah memutuskan masa depannya untuk menjadi seorang insinyur, padahal sebenarnya ia ingin menjadi seorang fotografer alam liar a.k.a Wild Life Photographer. Raju yang sejak kecil adalah anak yang pandai, namun karena ekonomi keluarganya yang rendah—ibunya seorang pensiunan guru dan separuh gajinya digunakan untuk membiayai pengobatan ayahnya, ayahnya yang merupakan tukang pos tidak lagi bekerja semenjak sakit, dan kakak perempuannya gagal menikah karena tidak sanggup memberikan mas kawin seharga 800 Rupee—malah menjadi ketakutan dan selalu berada di peringkat bawah, ditambah lagi dengan lingkungan universitas yang kompetitif. Dan Rancho yang optimis, cerdas, setia kawan, selalu menentang sistem yang diterapkan di universitas, dan dikenal sebagai anak keluarga Chanchad yang kaya raya, pada akhirnya diketahui hanyalah pembantu dari keluarga tersebut, di mana ia berjanji pada majikannya akan menyerahkan ijazahnya kepada sang majikan karena ia hanya ingin mengemban ilmu dan tidak akan menemui siapapun dari universitasnya setelah lulus kuliah.

Film ini menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak seharusnya menjadi seorang pengecut; kita harus berani mengungkapkan hal yang sebenarnya kita inginkan agar kelak tidak menyesal. Bahwa kita tidak seharusnya menyerah dan merasa terpojokkan oleh keadaan yang menekan kita; kita harus optimis dan kuat menghadapi rintangan. Dan yang terpenting, bahwa kita bersekolah bukan sekedar untuk mengejar predikat LULUS serta IJAZAH, melainkan menimba ilmu dengan ikhlas dan senang hati.

Film ini sering memunculkan flashback, dimulai dari pertemuan kembali Raju, Farhan, dan Phia—kekasih Rancho yang merupakan putri dari rektor yang sering berbeda pemikiran dengannya—sejak lulus kuliah 10 tahun sebelumnya, oleh Chatur—mahasiswa ‘sok’ teladan yang selalu menjadi nomor 2 di angkatannya karena selalu kalah dari Rancho—yang mendapatkan alamat Rancho asli—sang majikan, sehingga akhirnya mereka bertemu kembali dengan Rancho alias Phunsukh Wangdu, yang akhirnya menjadi ilmuwan besar sekaligus seorang guru di sekolah yang dibangunnya dengan kerja keras sendiri.

Meskipun sering muncul flashback, namun film ini mudah ditangkap karena terdapat batasan yang jelas antara masa lalu dan masa sekarang kehidupan mereka. Cerita tentang perjuangan dan persahabatan yang menyentuh ini juga dibumbui nuansa roman serta humor yang membuat penonton tidak akan merasa bosan. Namun harap sabar bagi yang tidak menyukai ciri khas film India yang gemar menambahkan adegan menari, karena terkadang ada adegan penting di antaranya, misalnya ketika proyek brilian seorang mahasiswa semester akhir (atau tua?) bernama Joy Lobo (selalu) diabaikan oleh sang rektor dan akhirnya dibuang oleh mahasiswa tersebut, penemuannya yang berupa alat pengintai yang dapat diterbangkan seperti miniatur helikopter itu dibenahi sedemikian rupa oleh Rancho. Namun sayang, pada akhirnya Joy Lobo ditemukan gantung diri di kamar asramanya akibat depresi tepat ketika alat pengintainya berhasil diterbangkan.

Jadi, bagi yang merasa tertarik dengan film ini, atau membutuhkan ‘asupan’ motivasi, silakan menonton!

Advertisements

4 responses to this post.

  1. pengen liat :3

    Reply

    • Posted by Jiyuu on June 16, 2010 at 10:30 am

      hhoo….keren lho film-nya 8) , Q masih punya film-nya (biasanya abis nonton langsung hapus c, wkwk*)

      Reply

  2. ahahahahah ape aku bilang….

    ini mah pilem india yang..patut ditontopn (kecuali ritual2 yang kita skip pastinya)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: