Review: Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Saat ini tidak banyak film karya sineas Indonesia yang berkualitas tinggi. Tidak hanya dari segi penggunaan teknologi yang canggih, tetapi juga dari isi cerita, pesan yang disampaikan di dalam film tersebut. Liriklah Maxima Pictures yang produktif memproduksi film-film ‘dewasa’ dengan label genre horor, yang menurut saya pribadi kurang berkualitas. Film-film produksi Maxima Pictures tampaknya lebih sering tampak di gedung-gedung bioskop, padahal sebenarnya tidak sedikit produser yang menelurkan film berkualitas seperti Pic[k]lock Production (Minggu Pagi di Victoria Park), Miles Films & Mizan Production (Laskar Pelangi), Sbo Films & Mizan Productions (Garuda di Dadaku), dan Citra Sinema dengan film Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Film yang terakhir saya sebutkan ini ingin saya review sedikit (mungkin), karena kebetulan pada Selasa, 7 Desember 2010 kemarin film ini ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.

Alangkah Lucunya (Negeri Ini) mengisahkan tentang seorang Sarjana Manajemen bernama Muluk yang sudah berusaha keras mencari pekerjaan namun tak kunjung mendapatkannya. Suatu hari ia melihat beberapa bocah yang bekerjasama mencopet dompet orang-orang di pasar. Ia pun mengikuti seorang bocah bernama Komet yang terakhir membawa dompet. Berawal dari perkenalan itulah, ia memutar otak untuk mendulang keuntungan dengan dalih me-manage uang hasil mencopet para pencopet yang ternyata terdiri dari 3 kelompok tersebut.

Permulaan yang sekedar ingin mengeruk untung malah merembet menjadi keinginan untuk mengenalkan pendidikan kepada para pencopet tersebut. Muluk pun mengajak 2 orang temannya, Pipit dan Samsul yang juga menganggur untuk mengajar Agama Islam (karena para pencopet itu sendiri tidak tahu agama apa yang mereka anut), moral, serta pengetahuan umum. Tiga sarjana itu pun berjuang mati-matian agar para pencopet itu berhenti mencopet karena itu bukan pekerjaan yang halal, dengan cara membujuk para pencopet agar mau menjadi pedagang asongan.

Masalah muncul ketika suatu hari orang tua Muluk dan Pipit serta calon mertua Muluk bertandang ke tempat mereka bekerja. Selama ini orang tua Muluk tahu kalau ia bekerja kantoran di bidang Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Para orang tua itu pun merasa tertampar ketika mengetahui fakta bahwa anak-anak mereka mendapatkan uang dari hasil mencopet.

Cerita pun berakhir dengan 3 sarjana yang kembali menganggur dan pencopet yang kembali mencopet. Meski begitu, masih ada segelintir pencopet yang diajar oleh Muluk dkk yang menjadi pedagang asongan.

Lalu, di mana lucunya film ini?

Menurut saya, film yang disutradarai oleh Deddy Mizwar ini menampilkan kenyataan yang banyak terlihat di negeri ini. Misalnya tentang sarjana yang belum tentu akan mendapatkan pekerjaan usai masa studinya, bahkan malah pindah haluan dari ilmu yang dipelajari semasa kuliah. Seperti seseorang yang disebutkan calon mertua Muluk (saya lupa hubungan antara orang yang diceritakan dengan calon mertua Muluk) yang kuliahnya di jurusan Sastra (kalau tidak salah) malah membuka jasa sablon.

Ada pula tentang masyarakat yang menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting. Pada sebuah adegan, Muluk bahkan berkata pada Samsul bahwa pendidikan itu penting karena dengan begitu kita menjadi tahu bahwa pendidikan itu tidak penting.

Ada juga tentang masyarakat yang lebih percaya pada hal-hal yang sebenarnya mustahil terjadi, seperti banyaknya pedagang yang menjual macam-macam barang yang membuat seseorang menjadi kebal senjata, atau Pipit yang setiap saat duduk di depan televisi untuk menyaksikan tayangan kuis berhadiah.

Lebih parah lagi adalah mengenai seorang anggota DPR yang mencalonkan diri dalam pemilihan umum hanya demi uang. Para pencopet bahkan awalnya ingin mencicipi pendidikan karena menganggap bahwa koruptor adalah pencopet yang berpendidikan.

Film yang bergenre komedi satire ini membuat penontonnya ingin tertawa dan merasakan pahit dalam waktu yang sama, karena sebenarnya yang ditertawakan tak lebih adalah potret dari bangsa kita sendiri, terutama tentang para koruptor yang duduk berleha-leha dalam jabatan yang tinggi dan mengutil uang rakyat, sementara orang-orang miskin yang berusaha mencari uang halal malah dijaring oleh petugas Satpol PP.

Yang kaya semakin kaya, yang melarat semakin melarat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: