Pagar Normal. Mainan Menyilaukan.

Hmm…Festival Yosakoi di Surabaya emang masih lama, kira-kira setengah tahun lagi baru diadain. Tapi grupku udah siap-siap dari jauh hari, antisipasi kemungkinan buruk kayak keadaan sebelum-sebelumnya. Karena itu, jadwal latian yang tahun lalu baru mulai sekitar Maret-April, sekarang dimajuin jadi bulan Januari. Tahun-tahun sebelumnya kami selalu punya tempat buat latian, karena selalu ada anggota yang deket rumahnya ada lapangan, jadi nggak repot-repot cari tempat. Tapi taun ini dasar nasib lagi apes, anggota yang deket rumahnya ada lapangan itu nggak lagi ikut karena sibuk kuliah. Sebenernya sih dia nggak masalah kalo kami tetep pake lapangan itu, tapi yang bermasalah adalah ketua RW barunya. Lapangannya digembok, nggak boleh masuk (terus apa gunanya tuh lapangan??). Mau nggak mau kami pun cari tempat baru.

 

1.

Hari Minggu tanggal 16 Januari 2011, aku n Kuma pun cari lokasi latian yang baru. Karena kebetulan rumah kami deket sama salah satu universitas negeri, yang udah kami tau dari jaman tai-kucing-baunya-busuk kalo tiap hari Minggu orang umum boleh main ke sana, jadi kami pun cari lapangan yang sekiranya bisa n cukup buat kami latian. Target pertama adalah GEMA, salah satu gedung yang ada di sana. Gedung itu dikelilingi halaman berpaving yang lumayan pas buat kami. Tapi masalahnya, kami nggak tau apa boleh latian di sana karena ada pagarnya T^T. Tapi ya sudahlah, baru survey aja kok. Masih banyak lapangan lain.

 

Di belakang GEMA, ada lapangan sepak bola berumput yang luas banget. Kami pun berencana liat lapangan itu juga, tapi sayang, GEMA n lapangan bola itu dibatasi sama pagar, dan kali ini pagarnya digembok. Tapi, di bagian bawah pagar itu berlubang, dan kalo diliat-liat kayaknya kami cukup kalo mesti merayap lewat situ.

”Cukup nggak sih, Bek lewat situ?” tanya Kuma.

”Cukup sih, tapi..ada orang di situ,” aku nunjuk satu ruang terpisah yang berukuran kecil kayak gudang nggak jauh dari pagar.

 

Aku dilema. Lewat, nggak, lewat, nggak.

”Sebenernya cukup, Kum, tapi sudahlah, mari kita bertingkah seperti orang normal,” kataku.

 

Ya, emang bisa kok lewat bagian bawah pagar itu. Cuma masalahnya, aku masih punya malu ya, masa mau lewat jalan abnormal sesempit itu, dengan kemungkinan yang besar bakal diliat orang nggak dikenal?? Kan malu-maluin! Mau ditaruh mana mukaku kalo sampe dikatain gila sama orang?!? *padahal emang udah gila*

 

Akhirnya kami milih jalan ’normal’ yang lebih jauh, n liat-liat lapangan lainnya. Setelah ngerasa cukup banyak nemuin lapangan dan capek jalan kaki sejauh itu di tengah teriknya cahaya matahari *lebay*, kami pun mutusin pulang.

 

2.

Nah, pas pulang itu kami lewat sebuah TK kecil dengan beberapa mainan kayak see-saw, ayunan yang nggak ada ayunannya, n mainan kayak tangga yang dibikin setengah lingkaran. Warna-warna yang dipake TK itu buat ngecat mainannya adalah warna-warna cerah kayak kuning, hijau, pink, dan ungu muda. Dan mainan tangga setengah lingkaran itu catnya pink n ungu! OMG~

 

Well, melupakan soal warna yang bikin silau itu, aku pengen banget naik tangganya.

”Ya naik’o lho, Bek,” kata Kuma.

”Pengen naik…tapi….di depan mataku ada rumah orang, n pintu rumahnya hadep ke sini (tangga setengah lingkaran), pintunya dibuka. Kalo aku naik, terus diliat orang yang di rumah itu gimana??” *sambil nangis darah*

 

Batal deh naik tangga setengah lingkaran yang catnya menyilaukan itu 😥

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: