Movie Review: I Am Sam

Karena lagi nggak ada kejadian bodoh dalam beberapa hari terakhir, ato setidaknya nggak ada kejadian bodoh yang melekat di dalam otakku yang gampang buang memorinya sembarangan, jadi aku mau bikin review tentang sebuah film yang kemarin aku tonton gratisan di rumah Kuma aja, haha 😛 . I Am Sam, film yang disutradarai Jessie Nelson.

Ada yang udah pernah liat? Well, kalo nonton film ini, jujur aja, aku ngerasa gila. Nggak setara sama gilanya kalo liat A Beautiful Mind sih, yah beda aliran lah gilanya, tapi tetep aja bikin gila. Why? Karena film ini tentang seseorang dengan keterbelakangan mental.

Ini adalah tentang Sam Dawson, seorang lelaki pegawai Starbucks yang ditinggal pergi istrinya setelah melahirkan dengan alasan nggak mau hidup sama pria dengan keterbelakangan mental—yang mentalnya sama dengan anak usia 7 tahun—dan seorang anak yang kemungkinan juga mengalami hal yang sama. Tapi untungnya sang anak yang diberi nama Lucy Diamond Dawson tumbuh menjadi anak yang normal.

Sejak kelahiran Lucy, Sam pun menghidupi Lucy seorang diri, dengan dibantu oleh Annie—seorang tetangga di apartemennya yang mungkin usianya udah 60an. Tahun demi tahun berjalan dengan damai dan bahagia, sampai akhirnya Lucy bersekolah dan teman-teman sekolahnya menertawakan Sam yang selalu bertindak konyol, nggak seperti ayah pada umumnya. Tapi Lucy nggak peduli dan tetep menyayangi ayahnya bagaimana pun keadaannya (so sweet~).

Tapi keadaan berubah ketika Sam, keempat sahabatnya (4 ato 3 ya? #garuk”)yang juga mengalami keterbelakangan mental, serta teman-teman Lucy akan memberi pesta kejutan untuk ulang tahun Lucy yang ke-7. Seorang teman Lucy mengatakan bahwa Lucy berkata pada teman-temannya kalo dia cuma anak yang diadopsi oleh sang ayah yang mengalami keterbelakangan mental itu. Mendengar kata-kata teman tersebut, Lucy langsung lari meninggalkan apartemennya yang penuh dengan hiasan.
Dan sejak saat itu Lucy diurus sementara oleh pemerintah (sama Departemen apaaaa gitu) karena Sam dianggap nggak mampu dan nggak layak merawat Lucy. Sam pun berjuang mati-matian untuk mendapatkan Lucy kembali, dibantu Rita Harrison (seorang pengacara yang awalnya nggak mau ngurusin kasus Sam dan Lucy, tapi akhirnya malah ngasih ‘pro bono‘ alias jasanya gratisan untuk Sam 😆 ). Selama persidangan belum berakhir, Sam dan Lucy hanya bisa bertemu 2 kali seminggu, selama 2 jam (ngenes pek~). Sempat terseok-seok dalam persidangan, dan hasilnya malah Lucy diserahkan ke keluarga lain yang dianggap lebih mampu untuk ngurus Lucy.

Tapi sejak hari itu, Lucy malah jadi suka kabur dari rumah keluarga barunya tiap malem dan balik ke apartemen ayahnya. Dan akhirnya, seperti yang diharapkan, hak asuh Lucy akhirnya kembali lagi ke tangan Sam 😀 .

 

Well, karena aku nggak bakat jadi kritikus, maka aku cuma mau nulis apa yang mau bilang, hehe 😛 .

Pertama-tama, aku mau bilang…”Dakota Fanning keren bangeeeeeeett!! X)

Ya, Lucy yang diperankan oleh Dakota Fanning menurutku emang ih wow banget! Gimana nggak? Dia berperan sebagai anak dari orang yang mengalami keterbelakangan mental, dan dia sama sekali nggak benci atau pun malu dengan keadaan ayahnya. Dia malah sayang banget sama ayahnya. Ada bagian-bagian ketika Sam merasa orang-orang nganggep dia aneh, tapi Lucy dengan wajah yang penuh pengertian bilang kalo Lucy tetep sayang Sam. #terharu banget :’)

Lucy bahkan membentak pegawai pemerintah yang lagi ngawasin Lucy dan Sam di hari pertemuan singkat mereka selama sidang masih berjalan (bayangin kayak orang yang lagi dipenjara gitu lah), nunjukin kalo Lucy sayang Sam dan dia bisa tetep hidup normal dengan keadaan ayahnya yang seperti itu. Lebih terharu lagi ketika tau kalo Lucy dan Sam sama-sama merasa kehilangan.

Nilai kekeluargaan sangat ditunjukkan dalam film ini. Bahwa bagaimana pun keadaan orang tua atau keluarga kita, kita harusnya bisa menerima dengan  apa adanya dan lapang dada. Dan juga, memang darah lebih kental daripada air. Mau dipisahin kayak gimana juga, emang berat melupakan atau meninggalkan keluarga sendiri. #hyuu, sok filosofis nian~

TOP lah nih film 😀

Advertisements

2 responses to this post.

  1. Posted by ginohamasaki on March 28, 2011 at 2:52 pm

    Wow, keliatannya inspiratif tuh sensei, aq juga nge fans sm Dakota Fanning 🙂
    Klo di negara ini sih, Film2nya pada terbelakang secara kualitas

    Reply

    • Posted by Jiyuu on March 29, 2011 at 4:05 pm

      iya, inspiratif banget. Liat I Am Sam aku jadi makin ngerasa kalo hukum nggak bisa sembarangan campur tangan dalam masalah keluarga.. 😮
      hoo…aku baru sekali ini liat aktingnya Dakota Fanning, meskipun udah dari dulu banget denger kalo aktingnya bagus. Empat jempol deh buat dia~ 😀

      hoho…nggak semua, cuma kebanyakan emang kualitasnya terbelakang. Masih ada yang bagus kok meski bisa diitung, kayak Alangkah Lucunya (Negeri Ini) 🙂
      tapi pendapat orang bisa beda-beda sih, hehe 😛

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: