Movie Review: Taare Zameen Par (Every Child is Special)

Ya ya ya…setelah Kuch Kuch Hota Hai dkk yang dulu sering banget (dan sekarang gencar lagi ditayangin di MNCTV) nongol di TV, dan setelah Slumdog Millionaire, 3 Idiots, dan My Name is Khan meracuni otakku, sekarang ada lagi film India yang mewarnai kehidupanku (halah!), yaitu Taare Zameen Par. Dan masih sealiran sama I Am Sam kemarin, tentang keterbelakangan mental juga, tapi beda jenis (efek Kuma yang lagi ngambil Psikologi Pendidikan ni).

Film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Ishaan Nandkishore Awasthi yang mengalami keterbelakangan mental, yakni dyslexia. Info singkat aja deh daripada bertanya-tanya, penderita dyslexia kesulitan dalam membaca dan menulis. Tulisan bisa tampak menari-nari di mata penderita dyslexia, penulisan huruf-huruf bisa terbalik, ‘b’ tertukar dengan ‘d’, dsb dst dkk dll. Dan satu yang bikin aku iri adalah: imajinasi mereka luar biasa ๐Ÿ˜€ . Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Leonardo da Vinci, dan Agatha Christie, merupakan beberapa nama orang-orang terkenal yang mengalami dyslexia. Dan kalo bingung kenapa novelis terkenal kayak Agatha Christie ternyata pernah mengalami dyslexia, well, aku juga terkejut. Keren banget ๐Ÿ˜€

Lanjut!

Keluarganya sama sekali nggak sadar adanya perbedaan dalam diri Ishaan. Ayah Ishaan cuma nganggep Ishaan sebagai anak nakal dan pemalas karena susah banget disuruh belajar, begitu juga guru-guru Ishaan di sekolah. Akhirnya ayah Ishaan mengirim Ishaan ke sekolah asrama yang jauh dari rumah biar dia lebih disiplin.

Hari-hari di sekolah baru Ishaan terasa berat banget buat dijalani. Ishaan sampai depresi setiap hari, karena berpikir bahwa dia dipindah ke sekolah asrama sebagai hukuman dari keluarganya. Berkali-kali Ishaan mendapat hukuman di sekolah dan hal itu membuat Ishaan semakin depresi dan ketakutan.

Sampai suatu hari datang seorang guru seni sementara di sekolah asrama Ishaan, yaitu Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan). Nikumbh yang luwes dan nggak kaku kayak guru-guru yang lain bisa membuat kelas jadi terasa menyenangkan. Tapi karena terlanjur depresi tingkat akut, Ishaan bahkan nggak bisa merasa senang. Nikumbh yang merasa sedih melihat Ishaan yang kayak gitu, akhirnya mencari tahu lewat teman sebangku Ishaan, buku-buku tugas Ishaan, bahkan sampai mendatangi rumah keluarga Ishaan. Akhirnya Nikumbh pun tahu penyebabnya: Ishaan mengalami dyslexia, sama kayak dirinya (Nikumbh).

Nikumbh yang juga merangkap sebagai guru di Sekolah Luar Biasa pun meminta izin kepala sekolah buat mengajari Ishaan secara privat tiap Minggu. Ishaan yang awalnya depresi dan sangat tertutup pun menjadi terbuka pada Nikumbh. Dengan kesabaran, ketekunan serta kegigihan Nikumbh, Ishaan akhirnya bisa menguasai pelajaran dengan baik, bahkan lukisannya menjadi juara 1 dalam Lomba Melukis di sekolahnya dan dijadikan cover buku sekolah (aseeeemm aku juga pengeeeen~ ToT #iri).

Pertama kali nonton film ini, openingnya sukses bikin pusing. Tulisan-tulisan yang menari-nari dengan galau, lama-lama tambah banyak dan bertumpuk-tumpuk. Ya, mungkin buat memahami gimana sih menjadi seorang dyslexia itu. Tapi selain hal yang bikin pusing itu, ada juga animasi yang menyenangkan, menggambarkan daya imajinasi penderita dyslexia yang keren banget, atau setidaknya daya imajinasi Ishaan.

Film ini nggak cuma sukses bikin air mataku mengalir, tapi juga hidungku ikutan nangis, hahahah ๐Ÿ˜† ! Banyak hal yang bikin aku merasa sedih, marah, dan juga terharu pas nonton film ini. Bagian ketika Ishaan dipindahkan ke sekolah asrama dan tinggal jauh dari keluarganya, bagian pas Ishaan merasa dibenci keluarganya (terlihat dari flip book yang dibuat Ishaan), bagian saat Nikumbh berusaha meyakinkan pihak sekolah dan keluarga Ishaan bahwa Ishaan bukan anak yang bodoh, nakal, dan pemalas, bagian pas Ishaan bikin boat dari kayu, daun, dan alat-alat tulisnya dan disorakin sama temen-temennya, dan….banyak. Capek nginget satu-satu, haha ๐Ÿ˜› .

Film ini menjelaskan bahwa seorang anak berkebutuhan khusus, atau mungkin lingkupnya dipersempit menjadi penderita dyslexia, pun bisa berada dalam lingkungan sosial yang normal asalkan mendapat dukungan dan perhatian yang tepat. Bukannya dimarahi, dihukum, diejek atau bahkan dijauhi. Karena mereka nggak bodoh, mereka hanya berbeda.

Dalam film ini, ada bagian saat Rajan , teman sebangku Ishaan di sekolah asrama membacakan puisi, “Ketika aku melihat dari atas, kamu bagian langit yang penuh awan. Sampai gajah atau temanku melompat, atau bel sepeda berdering, atau sebuah kerikil atau dua atau bahkan sesuatu yang akan dilakukan seorang bajak laut buta. Kemudian gambar itu terurai dan kamu menjadi sungai kami kembali.” dan diinterpretasikan Ishaan sebagai,”Apa yang kita lihat adalah yang kita rasakan. Dan apa yang tidak kita lihat, tidak kita rasakan. Tetapi terkadang, apa yang kita lihat, sebenarnya tidak ada. Dan apa yang tidak kita lihat,ย  sebenarnya ada.” Sebuah interpretasi yang ‘jauh’ dari anak SD pada umumnya (bahkan aku nggak kepikiran mpe situ, haha ๐Ÿ˜› ).

Dari semua peran yang ada, sejujurnya aku suka peran Yohan, kakak Ishaan, yang digambarkan sebagai anak yang cerdas dan sukses di berbagai bidang. Dia sama sekali nggak merasa malu punya adik kayak Ishaan yang tampaknya nakal, pemalas, dan bodoh, tapi Yohan tetep sayang Ishaan (sama nih kayak Lucy yang tetep sayang Sam di film I Am Sam). Nggak membanding-bandingkan dirinya dengan Ishaan, Yohan malah memberi Ishaan sebutan ‘Sang Juara‘. Super brother deh si Yohan ๐Ÿ˜€ .

Well, bagaimana pun juga film ini nggak selayaknya ditonton oleh anak-anak. Terdapat adegan perkelahian di awal cerita antara Ishaan dan seorang tetangganya yang rese banget, yang menurutku lumayan tampak sadis meskipun nggak menggunakan senjata apapun. Begitu juga adegan-adegan yang menunjukkan bullying pada Ishaan oleh teman-teman, guru-guru, bahkan ayah Ishaan sendiri, baik secara fisik maupun mental. Alih-alih buat anak-anak, film ini lebih kurekomendasikan buat para orangtua, nggak peduli anaknya mengalami dyslexia juga atau nggak, mau anaknya masih kecil atau udah dewasa. Kenapa? Karena kurang lebih sama dengan 3 Idiots, film ini ingin mengatakan pada orangtua bahwa setiap anak memiliki bakatnya masing-masing, yang perlu diasah dengan baik buat menjadikan anak-anaknya sukses dalam bidang yang dikuasainya masing-masing. Bukannya memaksakan pemikiran sendiri bahwa sukses sama artinya dengan jago matematika dan sains, harus berhasil di semua bidang, harus sekolah di sini dan menjadi ini, dan lain sebagainya.

Because every child is special ๐Ÿ™‚ .

Kalau tertarik, selamat menonton~! ๐Ÿ˜€

Advertisements

6 responses to this post.

  1. Posted by rezki on March 25, 2011 at 7:45 pm

    film ni mang keren…
    bpk ma ibuny akhirny nyadar jga kelebihan anakny ๐Ÿ˜‰
    Q jg dah nonton film2 yg kmu sebutin di atas kecuali “I Am Sam” (bru denger judulny)… hehehe

    Reply

    • Posted by Jiyuu on March 25, 2011 at 8:09 pm

      iya~ ๐Ÿ™‚
      semua? India semua itu? Kamu suka Bollywood, neng? ๐Ÿ˜ฎ
      liat I Am Sam juga, Dakota Fanning keren banget! ๐Ÿ˜€

      Reply

      • Posted by rezki on March 25, 2011 at 10:32 pm

        hehehe.. knp ko kaget gtu sich :0
        g suka bollywood jga sich cma Q suka nonton dan kebetulan film2 bollywood tersebut maknany keren plus dalem bgt jd Q tontoon ja ๐Ÿ˜€
        di “my name is khan”, sahrulkan (bner g sich tulisanny?) awesome bgt :d
        nanti Q cari dech film “I Am Sam” ny… ntu film bru pa lma y?

      • Posted by Jiyuu on March 26, 2011 at 8:46 pm

        heheheh ya ya ๐Ÿ˜€
        Shah Rukh Khan yang bener…iya, keren banget meranin orang autis ๐Ÿ˜ฎ
        I Am Sam udah taun 2001 sih aku liat di wikipedia..

  2. Posted by syahrana on July 2, 2011 at 7:43 pm

    Yea….setujuuuuuu. Berkali-kali saya menyatakan kekaguman saya terhadap pelem ini di blognya orang-orang. Hanya ingin meninggalkan jejak bahwa blognya pernah kubaca (walau sedikit, hehe..).
    Nih pelem keyen sekalee, sampai belelehan aer mata gue, terharu..Salah satu kelebihan pelem ini selain nilai moralnya(di mata saya), nggak ada tari2an mengelilingi pohon di taman (khas india banget), hahaha..narinya hanya di dalam kelas. Seruw, pengen joget juga jadinya. Hanya saja (lagi2 menurut saya), kenapa pak Ram_Aamir khan sering sekali nangis. Mbo’ yo yang tegar gitu lo,pan dianya jadi guru yang memotivasi Ishaan jadi harusnya pak Ram jangan terlalu sering nangis. But overall, pelem ini sangad bagoeess…

    Reply

    • Posted by Jiyuu on July 3, 2011 at 9:47 pm

      wah lama nggak blogging, tau” ada yg komen, senangnya~ ๐Ÿ˜€
      haha iya, ini bukti kalo film india tetap menarik meski tanpa tarian muterin pohon ato berguling” di taman, haha ๐Ÿ˜›

      ya…bagaimana pun, guru hanya manusia biasa. Anggap aja dia menghayati peran karena dia sendiri juga pernah menderita dyslexia. Toh nangisnya nggak heboh” amat, jadi menurutku nggak masalah ๐Ÿ™‚

      terima kasih sudah meninggalkan jejak~ :mrgreen:

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: