Bahasa Daerah dan Film, Sinetron, dan FTV

Entah sejak kapan bahasa daerah jadi tren di TV, bahkan merembet pula ke film. Entah itu bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa….apa ya itu? Minang, kalo nggak salah? Ya nggak tau lah, pokoknya itu. #galau

Bagi yang suka nonton sinetron ato ftv, ato seenggaknya nonton karena orang lain lagi nonton sinetron ato ftv n kebetulan lagi ada di deket si penonton itu n mau nggak mau ikutan nonton, pasti tau. Terutama sih menonjol di FTV. Dengan setting Bromo, ato Jogja, entah dengan maksud apa. Mungkin karena 2 daerah tersebut lagi kena bencana, n mau nunjukin kalo, “Ini lho, Bromo n Jogja baik-baik aja.”

Terserah yang bikin deh.

Kalo ngitung ftv, banyak ya, aku nggak inget judulnya karena saking banyaknya n saking sering miripnya setting cerita. N yang jelas isinya kebanyakan soal cinta mulu. Tapi bisalah diliat, dengan setting yang terkesan soooo Jawa, para aktor n aktrisnya yang sebenernya kebanyakan orang ibukota (ato seenggaknya udah lama tinggal di ibukota) dituntut buat berdialog dengan bahasa Jawa. Dan hasilnya? Ancur, jelas. Dialek nggak dapet, penggunaan bahasa Jawa semrawut. Gimana lagi? Cuma beberapa tokoh yang tampaknya emang orang Jawa (kalo dibilang orang Jawa kok kesannya gimanaaa gitu ya? Padahal Sunda juga masuk Jawa tapi mereka toh nggak berbahasa Jawa. Jadi bingung mau nyebutnya gimana).

N sinetron juga. Tau Islam KTP? Nggak, itu bukan contoh yang parah kok, karena yang digambarin sebagai orang Jawa seingetku (maaf kalo daya ingatku buruk) cuma Karyo. Contoh jelasnya mari kita ambil: (pesantren rock n roll ?)

Di sinetron itu jelas ambil setting Jawa, kalo nggak salah Jawa Tengah. Entah Jateng sebelah mana. Tokoh-tokohnya yang anak pesantren digambarin sebagai orang Jawa, dan otomatis mau nggak mau mereka seenggaknya dikit-dikit berdialog dengan bahasa Jawa. Tapi karena (lagi-lagi) aktor n aktrisnya asalnya dari ibukota, n nggak tau banyak soal bahasa Jawa, jadi deh hasilnya. Ancur. Sok medhok tapi jelas nggak medhok, kedengerannya malah aneh. Lagi-lagi cuma sedikit aktor (entah kalo aktrisnya) yang tampaknya emang ngerti bahasa n dialek Jawa. Bahkan, karena dalam bahasa Jawa ada tingkatannya: ngoko, krama alus, n krama inggil, mestinya dipelajari juga dong sama aktor n aktrisnya. Jadinya di sinetron itu, kalo yang muda ngomong sama yang lebih tua, ya mereka pake basa ngoko, bukannya krama inggil.

Tapi nggak cuma terjadi di sinetron ato ftv, penggunaan bahasa daerah juga terjadi pula dalam film. Intip deh Tetralogi Laskar Pelangi yang bersetting Belitong, dalam filmnya kita jadi tau kayak gimana sih bahasa daerah sana (yang kurang lebih (ato memang?) mirip bahasa Melayu). Tapi karena aku nggak tau bahasa orang Belitong yang sebenernya, aku nggak tau apakah bahasa yang dipake dalam Laskar Pelangi itu bener ato salah. Yah, asumsiin aja kalo penulis skenarionya udah curhat begini-begitu sama Andrea Hirata, sang novelis yang bikin cerita emang dari pengalaman hidupnya sendiri, sehingga menghasilkan film yang pas dari segi bahasa…. dan dialek, of course. Toh tokoh-tokoh yang terlibat dalam film itu mayoritas asli Belitong. Mungkin cuma perlu memperhitungkan Cut Mini ato  Tora Sudiro. Ato Lukman Sardi n Ariel. Anggep aja mereka udah belajar abis-abisan soal bahasa n dialek daerah Belitong.

Tapi coba liat Sang Pencerah. Bersetting Jawa Tengah (kalo nggak salah inget) di zaman pendudukan Belanda, tokoh-tokohnya berpakaian ala orang Jawa di zaman itu. Dan tentu, mereka pake bahasa Jawa.

Masalahnya adalah, entah penulis skenarionya yang pokoknya-skenarionya-jadi, ato aktor n aktrisnya yang bengal, yang jelas, penggunaan bahasa Jawa beserta dialeknya kedengeran ‘mekso’. Aku nggak inget apa isi dialognya, tapi ada salah satu dialog seorang tokoh, lagi ngomong pake bahasa Jawa, tapi dicampur sama bahasa Indonesia. Dan itu terdengar aneh. SANGAT AMAT ANEH. Dan otomatis, yang waktu itu aku lagi nonton bareng Mizela, Mey, n Roii, yang mana kami berempat adalah orang yang ngerti bahasa Jawa pun langsung ketawa.

Toh Indonesia ini terdiri dari berbagai macam suku bangsa, yang masing-masing punya bahasa daerahnya sendiri. Di Jawa Timur aja, meskipun sama-sama tinggal di Jatim, masyarakatnya tiap daerah punya ciri khas bahasanya sendiri, meskipun dasarnya tetep bahasa Jawa. Surabaya begini, Kediri begitu, Trenggalek begono, Ngawi beda lagi. Itu baru Jatim, coba Jawa Tengah, ato Jawa Barat. Apalagi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTT, NTB, Bali, Ambon, Papua, dll (bahkan pulaunya aja segini banyak n masih ada yang nggak kusebutin), kayak gimana ragam bahasanya? Gini nih jadi ‘orang kaya’, malah bingung gimana ‘ngitungin hartanya’.

Jadi, daripada bikin film, sinetron ato ftv dengan bahasa daerah, kenapa sih nggak bikin dengan bahasa Indonesia aja? Apalagi kebanyakan ftv sekarang nonjolin setting yang tampak Jawa terus, daerah lain jarang banget. Ada juga Bali. Kenapa nggak Sumatera (ada sih dulu, tapi sekarang nggak ada lagi), ato Kalimantan, ato Ambon? Intinya, kenapa mesti Jawa? Apa karena Jawa, entah ini bentukan pemikiran dari mana (media kah? Pemerintah kah?), superior dibanding pulau-pulau lainnya? Kalo dengan kemampuan aktor n aktrisnya yang masih masih setengah, seperempat, seperdelapan, seperenambelas ato seper-seper lainnya, bahasa Indonesia terasa jauh lebih baik. Toh dengan bahasa Indonesia, semua masyarakat Indonesia dari Sabang mpe Merauke bisa menikmati n memahami isi film, sinetron n ftv tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: