Review Movie: ? (Masih Pentingkah Kita Berbeda?)

Sebenernya aku agak bingung gimana enaknya me-review film ini. Aku bingung gimana nulis jalan ceritanya secara runtut kayak film-film yang sebelumnya pernah ku-review. Jadi maaf kalo mungkin tulisanku tampak semrawut.

Banyak kata-kata mutiara (artinya kata-kata yang bagus, bukan kata-kata kotor ya) dalam film “?”. Saking banyaknya, aku mpe lupa. Hehehe, nontonnya di bioskop sih, bukan di rumah. Jadi nggak bisa di-pause atau diulang sesuka hati.

Film “?” bercerita tentang keadaan di sebuah sudut kota Semarang dengan masyarakat yang berbeda-beda agama. Ada Menuk dan Soleh sebagai sepasang suami-istri beragama Islam, Rika yang berpindah agama menjadi Katolik setelah bercerai dengan suaminya, Surya seorang Islam yang selama 10 tahun hanya menjadi pemeran figuran, dan Hendra seorang pemeluk agama Buddha yang pernah menjadi kekasih Menuk (dan membenci Soleh karena akhirnya menikahi Menuk), yang ayahnya adalah pemilik restoran China.

Hidup bermasyarakat tentu tak lepas dari hambatan. Seperti Hendra yang tak jarang diperolok tetangganya karena ia berasal dari etnis China, Surya yang pekerjaannya tak juga mengalami perkembangan, Rika yang menjadi bahan gunjingan tetangganya karena berpindah agama dari Islam menjadi Katolik, dan Soleh sebagai suami serta ayah yang pengangguran. Namun segelintir orang masih menjunjung tinggi toleransi. Hal ini tampak dari ayah Hendra yang tak hanya menjual makanan dengan daging babi tetapi juga daging ayam. Bahkan, peralatan masak dan makan pun dipisahkan untuk babi dan ayam. Menuk dan beberapa orang Islam pun bekerja di restoran ini, dan diberikan waktu untuk beribadah.

Jangan mudah berputus asa dalam menjalani hidup, karena suatu saat Tuhan akan memberikan rejeki kepada kita. Seperti yang dialami Surya yang akhirnya mendapatkan peran utama berkat bantuan Rika, meskipun Surya yang seorang muslim harus berperan menjadi Yesus dalam acara Paskah dan Natal di gereja. Tetapi atas nasehat seorang Ustadz yang mengatakan bahwa tidak masalah jika Surya mengambil peran tersebut asalkan masih dapat menjaga imannya. Masalah kecil sempat dihadapi Surya karena seorang Katolik yang tidak setuju jika Surya yang seorang muslim memerankan Yesus. Rejeki juga didapat Soleh, yakni menjadi Banser (Gerakan Pemuda Ansor NU) setelah sekian lama ia menganggur.

Tapi timbul masalah ketika penyakit ayah Hendra semakin parah. Hendra yang sebenarnya enggan menggantikan ayahnya untuk mengurus restoran keluarganya akhirnya melakukannya. Tapi Hendra banyak mengubah aturan-aturan yang biasa diterapkan ayahnya dalam mengurus restoran. Misalnya, jika biasanya restoran ditutupi kain putih saat bulan puasa untuk menghormati orang yang menunaikan ibadah puasa, Hendra malah menyuruh para pekerja di restoran untuk melepas kain putih. Dan jika biasanya restoran baru buka kembali 5 hari setelah Idul Fitri, Hendra langsung membuka restoran di hari kedua lebaran. Menurut Hendra, yang dilakukan ayahnya hanya akan merugikan restoran. Sholeh yang marah karena tindakan Hendra tersebut akhirnya mengajak orang-orang untuk menghancurkan restoran, dan malah berakhir pada kematian ayah Hendra. Karena peristiwa ini, Menuk selalu menghindari pembicaraan dengan Soleh. Akhirnya, Soleh tewas saat membawa lari bom yang ada di dalam gereja saat Natal demi menyelamatkan warga di dalam gereja, dan Hendra berpindah agama menjadi Islam.

Film karya Hanung Bramantyo ini untuk kesekian kalinya mengangkat tema religi. Tapi film ini berbeda dengan film-film Hanung sebelumnya, seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Sang Pencerah. Kalau film-film Hanung akhir-akhir ini lebih berfokus pada Islam (meskipun ada juga tokoh dengan agama non-Islam), agama dalam film “?” lebih beragam, dan menurutku tidak ada agama yang mendominasi dalam film ini. Memang tidak semua agama (terutama agama-agama yang dianut secara resmi di Indonesia) ditampilkan dalam film ini, tapi hanya beberapa yaitu Islam, Katolik, dan Buddha.

Film “?” menuai protes dari MUI dan beberapa pihak lain karena dianggap menyebarkan paham pluralisme agama. Aku sendiri sebenarnya kurang paham dengan yang dimaksud ‘pluralisme agama’, mungkin karena adanya adegan ibu Endhita yang awalnya tidak setuju jika Endhita berpindah agama menjadi Katolik, menjadi menerima keputusan anaknya untuk memeluk agama sesuai keyakinannya. Yang kudapat dari inilah.com sih, pluralisme agama yang dimaksud MUI itu berarti meyakini bahwa semua agama itu benar. Lha bukannya sah-sah saja ya orang mau memeluk agama apa? Wong dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 2 aja dicantumin, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Aku setuju dengan kata-kata Hanung dalam Seminar dan Bedah Film “?” di FISIP Unair Selasa kemarin. Memang terlalu berlebihan jika kemudian menganggap bahwa sebuah drama dapat mengubah iman, bahkan menyebabkan seseorang berpindah agama.

Melihat film “?” mungkin kita merasa bahwa film ini terlalu datar, kurang menguras emosi penonton, atau mungkin kurang efek-efek yang ‘wah’ seperti film-film fantasi. Tapi tidak lantas film “?” ini buruk. Sebaliknya, menurutku film ini adalah film bertema religi terbaik di antara film-film religi karya Hanung. Di sini kita tidak didikte pelajaran agama tertentu secara mendalam, tapi kita belajar mengenai toleransi antarumat beragama melalui film “?”.

Di awal pemutaran film ini telah disebutkan bahwa film “?” dibuat berdasarkan kejadian sebenarnya. Entah keseluruhan bagiannya berdasarkan pada fakta atau hanya beberapa, tapi film ini membuka pikiran kita akan pentingnya toleransi antarumat beragama dan bahwa keadaan seperti dalam film “?” inilah yang diidam-idamkan untuk terjadi di negeri ini, bahkan di seluruh dunia. Sebuah film yang menampilkan utopia sebagian besar masyarakat di dunia (semoga saja) akan multikulturalisme, film yang kontras dengan keadaan masyarakat saat ini yang saling mengganggu ketentraman hidup orang banyak hanya karena perbedaan agama, bahkan membuat kerusuhan dengan mengatasnamakan agama. Semoga saja suatu saat nanti (atau mungkin secepatnya) masyarakat negeri ini dan juga seluruh dunia dapat mentoleransi berbagai macam perbedaan sehingga semuanya hidup dalam damai. (harapannya ketinggian, tapi diamini saja lah~ 🙂 )

Jadi, film ini wajib tonton untuk semua orang agar sadar akan pentingnya toleransi antarumat beragama, dan bahwa kita tidak perlu mempermasalahkan perbedaan, terutama agama.

?

?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: