Emansipasi Wanita Tidak Sama Dengan Kesehatan Fisik

Hari ini mungkin hari paling ribet dan panas dan pusing dan sial dan sibuk dan ngantuk dan lain-lain di Minggu ini. Biarkan aku menghembuskan nafas sejenak: haaaahh….

Jadi, hari ini, Kamis, 21 April 2011—bertepatan Hari Kartini yang diramaikan oleh berbagai macam acara: mulai dari acara di sekolah-sekolah yang ngewajibin muridnya pake pakaian adat daerah mpe fashion show—hariku padat dat dat. Sibuk buk buk. Kuliah ada dari jam 7 pagi mpe jam 3 sore, tapi aku skip mata kuliah terakhir. Bukannya males ya (tapi emang nyatanya aku males sih), tapi ada urusan.

Jadi, kuliah terakhir hari ini, yakni Fotografi, harus kutinggalin demi wawancara narasumber buat tugas IMM, meskipun aku cuma jadi sopir (karena aku nggak ngapa-ngapain). Jam 1 lebih aku, Shima, Luther, n Manda berangkat ke Sidosermo (TKP wawancara) setelah berhasil menculik motornya Boni. Aku mbonceng Shima, sementara Luther mbonceng Manda dengan melalui jalanan yang macet n matahari yang aduhai tiada terkira riang gembira (baca: menyengat).Di tengah jalan, ada sms masuk ke HPku. Karena aku pengendara motornya yang (lagi) pinter n baik, aku pun buka sms pas lampu merah. Sms yang aneh.

Pertama, nomernya nggak jelas. Bukan karena aku nggak tau nomernya (emang nggak tau, tapi masalahnya bukan itu), tapi karena nomer pengirim sms itu cuma tercantum 1 angka yakni angka 0, sisanya simbol-simbol yang nggak bisa kebaca di HPku (maklum, HP jadul).

Kedua, isi smsnya juga nggak jelas karena (lagi-lagi) berupa simbol yang nggak bisa dibaca HPku.

Ketiga, n ini yang paling mencengangkan n membingungkan, perkara waktu pengiriman sms itu. Aku lupa tanggal berapa, tapi taun pengirimannya: 1970.

Bingung? Nggak percaya? Sama. Aku yang ngeliat sendiri aja nggak percaya, apalagi yang nggak liat langsung. N aku mau ngasih tau kalo ini bukan sms penipuan macem ‘papa lagi di kantor polisi yang minta dikirimin pulsa’ karena sms penipuan macem gitu nggak bakal mempan kalo udah masuk HPku (dikarenakan ‘enter’ jadinya cuma kebaca sebagai ‘spasi’).

Saking kaget n bingungnya aku, mpe kutunjukin ke Shima. “Liaten tanggal pengirimannya, Mo.”

Dan………Shima ikutan kaget. N nggak lama setelahnya HPku tiba-tiba mati. “Lho Bek, HPmu mati!”

Aku mikirnya sih, “Halah biasa, HP geje, suka mati mendadak.” Nggak kaget, karena HPku emang sering mati mendadak kayak gitu.

Setelah nyampe di tempat tujuan, aku ngecek HPku lagi. N you know what? Semua sms yang ada di HPku: inbox, sent message, n draft-nya….kehapus semua! N kemudian aku ngecek kontak di HPku…………HILANG SEMUA! KEHAPUS NGGAK BERBEKAS! Bahkan kontak yang ada di SIM Card juga hilang!!! 😯

“Coba dimatiin, Bek, terus nyalain lagi, mungkin bisa balik,” saran Manda.

Karena aku syok berat, akhirnya aku turutin. N hasilnya……gagal. Satu kontak pun nggak ada yang balik. Satu-satunya sms di HPku cuma ada dari Dita yang nggak tau kenapa bisa kesimpen di memori SIM Card. N karena aku cuma hafal nomer HPnya Kuma n mbakku, jadilah aku nyimpen nomer mereka berdua doank. Ditambah nomernya Dita yang smsnya tadi kesimpen di memori SIM Card, nomernya Manda n Shima yang kebetulan lagi sama aku (Luther nggak, soalnya dia jarang banget bales sms, hweeew~), nomernya Mey n Aeng yang karena suatu sebab ngirim sms ke aku. N bahkan buat sms aja bisa bikin stress. Masa baru ngetik 2 karakter, HPku langsung mati sih?? Oh. My. God. Fine. Fine. Jadi, kawan, jangan marah kalo aku bales sms kalian dengan nanyain nama kalian karena semua kontakku hilang. Tapi kayaknya yang error cuma HPku, soalnya barusan kucoba SIM Card-ku di HPnya bapakku ternyata semua kontaknya masih ada! Haa yokatta…untung bukan SIM Card-ku yang error, kan sayang, pulsanya masih berguna seenggaknya buat 2 minggu mpe 1 bulan lagi~ T-T #nangis terharu

Abis dari Sidosermo, kami pun balik ke kampus. Aku langsung ke perpus buat ngerjain tugas selanjutnya: KomSar. Sekelompok isinya 10 orang, 1 orang udah kerja duluan jadi nggak ikut kerja bareng, n sisany 9 cewek. N kerja kelompok berlangsung galau. Bukan karena cewek semua n berakhir dengan nggosip, tapi………semuanya nggak ada yang sehat secara fisik (kalo mental nggak tau lagi). Hampir semua sibuk ngelap hidung yang nangis tiada henti, ada yang disertai batuk-batuk, ada juga yang udah tepar karena pusing.

Owkeii..tampaknya hari ini hari penyakit. N aku menarik kesimpulan bahwa ternyata emansipasi wanita tidak berbanding lurus dengan kesehatan fisik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: