Datang Senang, Pulang Sengsara

Semua orang yang kenal aku kayaknya udah hafal banget sama sifatku yang cuek bebek notok jedhok. Yang nggak kenal sih seringnya bilang ‘sombong’ (ya, itu juga nggak salah, haha~). Mau duduk di sebelah siapa aja, orangnya lagi nggosip apa, kalo aku nggak tertarik apalagi lagi sibuk ma kegiatanku sendiri (makan, ndengerin lagu, nonton film, tidur, ngeliatin ikan terbang dll dkk dst dsb), terus tiba-tiba ada yang tanya, “Mereka ngomongin apa?” pasti kujawab dengan, “Nggak tau.” . Kalo males ngomong, kata-kata ‘nggak tau’ tergantikan dengan gelengan kepala ato ngangkat bahu. Kalo nggak suka sama yang tanya, bisa jadi bakal kucuekin. *jahat ya aku ini, ckck*

Yang namanya sifat cuek emang bikin orang yang dicuekin jadi sebel setengah idup. Kalo udah sebel banget, bukan nggak mungkin orang yang kucuekin jadi benci sama aku. Ya, emang nggak ada untungnya jadi orang cuek. Tapi kerugianku atas kecuekanku (apa sih bahasanya, aneh banget =.=a) kali ini nggak berhubungan sama manusia, tapi sama motor.

Kalo di kampus, ato di mall, tempat parkirnya lumayan luas (dan herannya, masih aja nggak cukup buat nampung motor-motor biadab para manusia). Nah, aku kalo parkir sukanya di tempat yang pas aku dateng keliatan lowong alias masih sepi kendaraan. Meskipun ada yang lebih deket n masih ada yang kosong, tapi kalo udah liat banyak kendaraan, aku lebih milih yang jauh. Dan turun dari motor, naruh helm, pergi. Sudah. Nggak ada lagi hal yang kupikirin tentang ’tempat parkir’. Parkir ya parkir aja, nggak salah, kan?

Datengnya enak, pulangnya sengsara. Akibat markir motor dengan tingkat kecuekan luar binasa, akibatnya waktu mau pulang adalah, ”Motorku tadi kuparkir di mana??? 😯 ”

Yap, begitulah. Hal semacam itu nggak jarang kualami, sering malah. Temen-temen sejurusanku yang biasa nebeng ato sekedar ke tempat parkir bareng aku udah nggak heran kalo tiba-tiba di tempat parkir aku berhenti jalan n diem mendadak. Itu sudah jelas: aku lupa di mana markir motorku.

Kalo pas ada temennya sih masih agak tenang. Tapi tadi sore, 4 September 2011 abis halal bihalal bareng temen-temenku tim yosakoi di TP (aku pergi duluan n sendirian karena mau ke rumah sodara) aku ke tempat parkir sendirian. Awalnya sih bukannya mikir motor, tapi…… ”Ntar bisa keluar dari TP nggak ya?” #bego

Abis keluar dari TP (hebat~!! 😆 ), aku jalan ke tempat parkir. Masuk di tempat parkir, aku mulai gundah gulana. ”Tadi sih parkirnya deket-deket pos jaga yang ada di tengah-tengah situ, tapi……..” oke, aku nggak inget di baris mana aku markir motorku.

Karena pas berangkat aku bareng Kuma, aku berniat sms Kuma. ”Eh, sms kelamaan. Lagian belum tentu dibaca, kan lagi di Stinger.

Mau telfon……..bijim. Aku yang punya motor aja nggak inget, apalagi Kuma yang lebih nggak bisa ngafalin jalan dibandingin aku!! Oh My Goooooood…..sampai kapan aku harus menggalau ria seorang diri di tempat parkir di bawah teriknya sinar mentari pukul 3 sore di Surabaya ini???? 😯

Aku tolah-toleh kiri-kanan, depan-belakang. Berharap tiba-tiba Gego (motorku, Red.) melambaikan setirnya padaku, ato ndatengin aku, ato mungkin bersiul-siul manggil aku. *khayalan seekor bebek*

Tapi itu semua cuma mimpi, cuma imajinasiku seorang (ya iyalah, mistis amat kalo beneran kejadian gitu!). Sekitar 5-10 menit aku berdiri di tempat parkir yang sumpaaaaaaaaaaahh…..panas banget. Bayangkan, jika Anda melihat makhluk seperti saya. Apa yang Anda pikirkan? Kirim jawaban Anda ke alamat berikut ini. *nunjuk bagian bawah layar TV*

Kalo masih ada temennya, okelah ya, nggak terlalu tampak bodoh. Tapi kalo sendirian? Aku bahkan nggak berani noleh ke pos jaga yang ada di deketku waktu itu, karena di otakku sudah berkecamuk sekian banyak hal seperti, ”Jangan-jangan orang yang ada di pos itu ngetawain aku!! 😥 ”

Oke. Aku pun nyoba berpikir jernih. Lari ke gunung, cari air terjun. Kemudian bertapa di bawahnya. #abaikan

Aku inget kalo pas nyampe di tempat parkir tadi ketemu sama Tante Melti (salah satu pengunjung tetap PMPM Psikologi, mahasiswa S2. Kalo ketemu, jangan mpe ketipu sama wajahnya!) n Bang Wayan (dua orang ini juga anggota tim yosakoiku) n parkirnya juga masih 1 baris. “Hoh, daripada tanya si beruang yang nantinya akan menambah kegalauanku, mending tanya Tante!”

Dan kutelefonlah si Tante. Dengan mendengarkan NSP-entah-lagu-siapa, aku masih tetap berjemur di bawah keramahan matahari siang menjelang sore. ”Halo….”

Huah, Tante!! *Aufklarung*

Abis tanya begini dan begitu (apa sih, orang cuma tanya di baris mana markir motornya), akhirnya kutemukan si Gego……………….di baris H!! Uyeaaah~!! *tebar confetti*

Ya, begitulah akhir penantianku di tempat parkir TP selama 5-10 menit akibat mengabaikan posisi motor. Mengenaskan? Bodoh? Ah, ya begitulah aku. Bodohnya tiada akhir.

Akibat cuek tiada tara, begitulah jadinya nasibku. Tapi………………….bukan berarti gara-gara itu aku berubah jadi makhluk yang nggak cuek lagi, hahahaha~ 😛 #plak

Advertisements

2 responses to this post.

  1. Posted by Kuma on September 23, 2011 at 10:54 am

    KAPOOK!!! salahe aku mbok tinggal…
    ini pasti karma gara2 meninggalkan beruang….XP

    Reply

  2. Posted by Jiyuu on September 25, 2011 at 8:07 am

    heh beruang terkutuk, pasti sebelumnya kamu udah mengutukku biar nggak bisa nemuin Gego!! *lempar pandangan bersinar laser*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: