Kualitas Produk Oke, Kualitas Pelayanan Rendah?

Kamis lalu, 8 Maret 2012, seorang temanku menikah. Aku dan beberapa temanku pun berencana memberinya hadiah pernikahan untuk mereka. Aku bersama empat temanku—Kuma, Rose, Fildzah, dan Nenek alias Nenek—pun pergi ke Royal Plaza untuk membeli beberapa benda yang belum lengkap. Kuma sendiri hendak membeli sebuah pakaian batik yang telah ditentukan seorang teman kami sebagai dresscode.

Saat itu sekitar pukul tiga sore. Kami yang sejak pagi berada di kampus dan belum makan siang pun merasa lapar, dan Kuma ditemani Fildzah membeli kentang goreng di stand yang sering kami kunjungi. Sekitar lima belas menit kemudian, mereka kembali. Kuma menenteng bungkusan kentang goreng dengan wajah kesal bukan main.

Ternyata, penjualnya memberikan saus sambal (hot chili) di atas kentang goreng milik Kuma. Padahal, Kuma saat itu masih sedang memilih-milih saus apa yang diinginkannya. Ia sempat menyebutkan dua jenis saus, yaitu cheese dan yellow cheese, namun ia sama sekali tidak menyebutkan hot chili. Tidak tanggung-tanggung, si penjual ‘sangat royal’ memberikan hot chili sauce. Kuma memang tidak menyukai makanan pedas dan ia pun sangat kesal karenanya.

Parahnya, si penjual tidak menunjukkan raut wajah menyesal dan bahkan menunjukkan ekspresi seolah-olah Kumalah yang salah. Sejak awal, penjual itu pun tidak menyunggingkan senyumnya. Karena sudah terlanjur membayar di muka dan sangat kesal dengan tindakan penjual tersebut, Kuma pun pergi meninggalkan stand tersebut dan Fildzah membawakan kentang goreng yang telah dibeli Kuma.

Bukan bermaksud menjelek-jelekkan, hanya saja bukankah pembeli harus dilayani dengan baik? Sekecil apa pun usaha yang dimiliki, seharusnya orang-orang yang menjual barang atau pun jasa menunjukkan wajah ramah dan melayani pelanggan dengan baik. Bukan berarti jika menjual barang atau jasa, seorang penjual lalu mengabaikan kenyamanan pelanggan.

Padahal dulu kami cukup sering membeli di stand tersebut karena selain porsinya sedikit lebih banyak daripada di tempat lain, penjualnya melayani kami dengan baik, seperti mengajak kami mengobrol sembari menunggu kentang goreng pesanan kami. Bahkan meski sudah berpindah stand makanan lain, penjual yang dulu masih sering menyapa kami jika kami melewati standnya.

Meski sepele, kualitas pelayanan sangatlah penting. Bukan tidak mungkin seorang pembeli tidak akan lagi membeli di tempat yang sama jika pelayanan dari penjual tidak baik, meskipun kualitas produk yang dijual atau ditawarkannya baik. Pelanggan pun berhak mendapatkan keramahan dari penjual.

Advertisements

3 responses to this post.

  1. Posted by Kuma on March 13, 2012 at 8:03 pm

    pasti pas managernya pasang kriteria pekerjanya, dia ndak pake kriteria “berkepribadian menyenangkan”
    =____=;
    ckckckck~
    #menghelanafas

    Reply

    • Q rasa semua diawali dengan faktor X, yg emang g kita ketahui, apa penyebabnya, Jikalau memang sering beli ditempat yg sama pasti Qm hafal siapa karyawan dan mengapa dia melakukan hal tidak menyenangkan itu

      Reply

  2. Posted by Jiyuu on March 15, 2012 at 5:45 am

    pasti managernya cowok. #eaaaaa~

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: