Perpustakaan ‘Pip!’

Sudah dua minggu kuliahku berjalan dalam semester ini. Tugas-tugas kuliah tampaknya sudah sangat merindukan para mahasiswa, termasuk aku tentunya. Pada hari Rabu, 7 Maret 2012, aku dan teman sekelompokku dari sebuah mata kuliah pun berencana mengerjakan tugas kelompok. Dan kami mengerjakannya di perpustakaan kampus. Ini berarti pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di perpustakaan kampus semester ini.

Usai kuliah jam pertama, kami bersama-sama pergi menuju perpustakaan. Pertama kali membuka pintu masuk, aku terperangah dan membatin, “Ini kebun binatang??”

Well, memang terlalu kasar, tapi itulah yang pertama kali melintas di benakku. Segera setelah membuka pintu, semua pengunjung perpustakaan akan melihat pembatas antara ‘dunia luar’ dan bagian dalam perpustakaan, pintu masuk putar, dan sebuah alat sensor KTM.

Awalnya aku dan teman-temanku sempat bingung apakah itu berarti tidak boleh lagi membawa tas ke wifi zone sekalipun. Namun setelah diberitahu seorang petugas perpustakaan bahwa ternyata pengunjung wifi zone tetap diperbolehkan membawa tas, kami pun masuk.

Untuk dapat masuk ke dalam perpustakaan, mahasiswa wajib menunjukkan KTM pada alat sensor. Setelah itu, pintu akan terbuka dan mahasiswa baru bisa masuk. Sistem ini mulai diberlakukan awal semester ini agar perpustakaan mendapatkan data mahasiswa yang datang berkunjung ke sana. Wajar saja, selama ini memang masih banyak mahasiswa yang bengal. Langsung nyelonong masuk perpustakaan tanpa absen terlebih dulu. Jujur, terkadang aku juga suka bengal seperti itu jika terburu-buru, hehe.

Lalu bagaimana nasib mahasiswa yang tidak membawa KTM?

Saat berada di wifi zone, aku melihat seorang mahasiswa yang terpaksa bersandar di pembatas perpustakaan karena tidak membawa KTM. Sesekali melihat ke dalam wifi zone, persis seperti pengunjung kebun binatang melihat-lihat hewan yang dilestarikan. Ya, mahasiswa itu tidak dapat masuk karena tidak membawa KTM. Aku terus mengamatinya sampai akhirnya mahasiswa itu pergi setelah sekitar sepuluh menit kemudian.

Well, sistem ini memang lebih baik, mengingat masih sedikit sekali mahasiswa yang sadar untuk mengabsen saat hendak masuk perpustakaan. Memang terkadang perlu sebuah tindakan pemaksaan agar segalanya menjadi tertib. Seorang temanku, mahasiswi Psikologi yang bernama Fildzah sendiri menyatakan kekagumannya mengenai sistem baru tersebut.

Namun di sisi lain, aku pribadi merasa cukup terganggu dengan bunyi ‘pip!’ yang nyaris tiada henti ketika alat sensor mendeteksi KTM yang ditunjukkan para mahasiswa. Dan aku merasa kasihan dengan mahasiswa yang tidak dapat masuk perpustakaan karena tidak membawa KTM. Entah karena lupa, terburu-buru, atau sebab lainnya.

Ya, ini bisa menjadi pelajaran agar mahasiswa selalu siap sedia. Toh bagaimana pun, KTM memang sebagai tanda pengenal bagi mahasiswa di mana pun berada. Kalau tidak membawa KTM, silakan pinjam KTM teman, hehe 😛 .

Advertisements

3 responses to this post.

  1. meskipun saya mantan Ilmu perpustakaan di UNAIR, saya suka dengan kalimat “Usai kuliah jam pertama, kami bersama-sama pergi menuju perpustakaan. Pertama kali membuka pintu masuk, aku terperangah dan membatin, “Ini kebun binatang??””

    proses birokrasi perpustakaan jaman sekarang terlalu ribet, disisi lain perpustakaan digital atau penyebaran informasi di dunia internet semakin pesat. wajar kalo perpustakaan sepi pengunjung dan lambat laun akan mati

    Reply

    • Posted by Jiyuu on October 6, 2013 at 8:38 pm

      hehe maaf kalo kasar, tapi yang pertama kepikir emang cuma itu sih.
      Iya, ribet banget..sekarang malah ke wifi-zone pun nggak boleh bawa tas 😮
      Kalo mati mungkin nggak sampe sih, karena pasti ada buku2 yang udah susah didapet kalo bukan di koleksi perpus. Ato mungkin kayak skripsi (karena skripsinya unair kan nggak bisa diakses lewat internet).
      Lebih repot lagi kalo ada mahasiswa luar unair lagi butuh cari apa yang cuma bisa ditemuin di perpus unair…eh udah nyampe pintu, ternyata nggak bisa masuk…. :/

      Reply

  2. tanyain aja nama pustakawan yg ngebolehin masuk mbak. nanti biar diurus sama temen2 saya yg kerja disana.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: