Ke Mana Perginya Tongkat Penyeberangan?

Sabtu, 10 Maret 2012, tiba-tiba seorang teman sekelompokku dari sebuah mata kuliah mengajak untuk mengerjakan tugas kelompok di perpustakaan kampus B. Karena motor yang biasa kukendarai sedang digunakan oleh kakakku dan motor yang lain akan digunakan bapakku, akhirnya aku diantarkan bapakku dan akan dijemput ketika tugasku selesai.

Well, aku dan teman sekelompokku selesai dua jam kemudian, pukul tiga sore. Karena jarak antara kampus dan tempat bapakku berada kira-kira 1 jam perjalanan, aku memutuskan untuk menaiki bemo saja. Hitung-hitung nostalgia masa-masa SMP saat aku masih cukup sering memanfaatkan bemo untuk pulang ke rumah.

Awalnya aku mencoba menikmati perjalananku di dalam bemo, namun lambat laun aku mulai bosan karena sang supir mengharap penumpang lebih banyak dari yang didapatkannya sore ini dan beberapa ruas jalan macet.

Ketika hampir tiba di tempatku harus turun, aku mulai bersiap-siap dan kembali memperhatikan sekeliling. Saat melewati Sekolah Yayasan Kemala Bhayangkari I yang terletak di Jalan Ahmad Yani, aku tak sengaja melihat sebuah papan berwarna hijau di dekat zebra cross. Di papan itu tertulis anjuran bagi pejalan kaki untuk menggunakan tongkat penyeberangan jika hendak menyeberang. Lalu aku melihat beberapa pengait di bagian bawah papan tersebut yang digunakan untuk meletakkan tongkat penyeberangan. Seharusnya. Tapi aku tak melihat satu pun tongkat penyeberangan digantung di sana. Entah apakah tongkat-tongkat penyeberangan di sana transparan, yang jelas aku yakin penglihatanku tidak terlalu buruk.

mana tongkatnya?

mana tongkatnya?

Mencoba kembali berpikir positif, aku pun melihat ke arah seberang jalan tersebut. Mungkin saja semua tongkat penyeberangan tergantung di papan seberang jalan.

Dan hasilnya……….di seberang pun tongkat-tongkat penyeberangan tidak ada.

di seberang jalan juga tidak ada tongkat penyeberangan

Lalu apa gunanya papan dan pengait untuk menggantungkan tongkat-tongkat penyeberangan di pinggir jalan itu? Pajangan sajakah? Padahal jalan tersebut hampir tak pernah sepi oleh lalu-lalang kendaraan bermotor dan cukup berbahaya bagi para penyeberang jalan, terutama anak-anak yang bersekolah di sekolah tersebut.

Memang terkadang aku melihat ada petugas yang membantu pejalan kaki untuk menyeberangi jalan tersebut, namun petugas tersebut tak selalu ada. Pejalan kaki tak bisa selalu mengandalkan petugas penyeberangan, tongkat penyeberangan sangat diperlukan. Selain itu, tidak ada lampu yang membantu penyeberang yang hendak menyeberang. Hanya ada lampu peringatan berwarna kuning bagi pengendara bermotor untuk lebih berhati-hati ketika melintasi area tersebut. Namun pengendara bermotor tetap saja mengebut.

lampu peringatan bagi pengendara bermotor untuk berhati-hati

Bagaimana pun, pengendara bermotor dan pejalan kaki tetap harus sadar betapa berharganya sebuah nyawa, agar lebih berhati-hati jika melintas atau menyeberangi jalan.

 

Advertisements

2 responses to this post.

  1. Am just figure it out, betapa susahnya menjadi orang baik di negeri ini
    kenapa ya orang orang selalu beranggapan bahwa aturan dibuat untuk dilanggar ?

    Reply

  2. Posted by Jiyuu on March 18, 2012 at 12:25 am

    #angkatbahu
    karena merasa ‘yg lain nggak baik, jadi kenapa aku harus baik?’ ……mungkin? (kadang sih aku mikir kayak gitu ._. )

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: