Movie Review: Hugo

Annyeong~! Rasanya lama banget gak ngeblog (padahal seminggu kemarin hampir tiap hari posting, wkwk~). Sebenernya banyak sih yang mau kutulis, tapi ada yang gak sreg ditulisnya kalo gak ada bukti kebodohanku (baca: foto). Ya….aku posting yang masih fresh aja ya~ 😀

Jadi……kemarin aku, Kuma, ketua, Tante Melti dan Aeng nonton Hugo 3D di Ciputra World. Ditraktir ketua sebagian, wohohoo~ 😀 . Dan btw, kok rasanya kami lagi sehati ya (entah kalo Tante), soalnya lagi pada pengen banget nonton. Well, kami pun nonton jam 19.15, karena ketua kerja dan baru bisa jam segitu.

Hugo. Pertama baca sinopsisnya di sebuah majalah film, tapi aku lupa majalah apa karena bacanya udah sekitar 1 ato 2 bulan yang lalu. Pas baca, aku ngerasa film ini keren, dan………..oke, aku bahkan lupa sinopsisnya tentang apa. Kemarin Minggu aku pun liat lagi sinopsisnya di internet. Kayaknya aku tertarik gara-gara genre filmnya sih: adventure/ fantasy.

Jadi, film Hugo ini menceritakan tentang seorang anak bernama Hugo Cabret yang ayahnya meninggal karena terjadi kebakaran di museum jam tempat ayahnya kerja. Ibunya………entah udah wassalam ato minggat ato gimana, aku nggak tau. Ayahnya cuma ninggalin sebuah robot manusia (automaton) rusak yang ditemuin ayahnya di museum. Ayahnya meninggal sebelum automaton selese diperbaiki (ayah dan anak ini bisa memperbaiki jam dan semacamnya). Akhirnya Hugo pun tinggal bareng pamannya, Claude Cabret di dalem jam stasiun. Karena si paman ini pemabuk, Hugolah yang selalu menjaga jam stasiun agar tetep berfungsi, mpe ditinggal pamannya entah ke mana. Orang-orang di stasiun sama sekali nggak tau kalo Hugo yang bekerja di balik jam stasiun.

Hugo pun menghidupi dirinya dengan mencuri, makanan, minuman, mpe suku cadang buat memperbaiki entah jam stasiun ato automaton. Suatu hari, pas dia mau nyuri tikus mainan yang bisa gerak kalo diputer dari toko seorang kakek bernama George Melies, dia ketauan dan barang-barang yang ada di sakunya dirampas oleh George karena disinyalir semua adalah barang curian dari tokonya George. Buku catatan tentang automaton yang dibuat ayah Hugo pun dirampas dan si kakek bilang, Ghost pas liat gambar automaton di catatan itu.

Hugo bersikeras minta kembali buku catatan ayahnya dari George. Ia pun dibantu oleh anak yang diasuh oleh George, Isabelle. Karena usahanya yang begitu keras, akhirnya George nyuruh Hugo kerja di tokonya mpe George cukup yakin buat ngembaliin buku catatan itu.

Hugo dan Isabelle sering main bareng, ke perpustakaan mpe nyusup masuk gedung bioskop buat nonton film karena selama ini Isabelle nggak pernah dibolehin George nonton film. Isabelle pun minta diajak ke tempat Hugo tinggal tapi nggak diijinin, mpe akhirnya Hugo liat sebuah kunci berbentuk hati yang dijadiin kalung Isabelle. Kunci itu adalah kunci yang pas buat ngehidupin automaton yang ditemuin ayah Hugo dulu.

Hugo percaya kalo automaton itu membawa pesan ayahnya dan selama ini dia percaya kalo robot itu bisa nulis kayak yang dibilang ayahnya. Pas dicoba, robot itu malah coret-coret sesuatu yang nggak jelas, dan akhirnya berhenti. Hugo marah dan sedih karena automaton itu tetep nggak bekerja. Tapi kemudian automaton itu bergerak lagi, dan ternyata dia nggak nulis, melainkan nggambar. Yang digambar adalah film pertama yang ditonton ayahnya: roket yang menancap di bulan. Tapi anehnya, di akhir gambarnya, si robot nulis nama orang yang sangat familiar bagi Hugo dan Isabelle: George Melies!

Mereka berdua pun langsung pergi ke rumah Isabelle dan nunjukin gambar itu ke istri George, Jeanne. Jeanne langsung kaget liat gambar itu dan nyuruh Hugo pergi. Tapi George udah di depan pintu rumah, dan akhirnya Hugo dan Isabelle disuruh sembunyi di dalem kamar.

Di dalem kamar itu ada sebuah lemari besar yang sempet diliat Jeanne sebelum nutup pintu. Karena penasaran dan ngira buku catatan ayahnya ada di sana, Hugo pun membuka lemari itu. Hugo dan Isabelle bukannya nemu catatan ayah Hugo, malah nemu sebuah kotak besar yang isinya gambar-gambar buatan George. Mereka ketauan, dan George marah banget pas tau mereka berdua ngambil kotak itu dan gambar-gambarnya beterbangan di kamar.

Besoknya, mereka mencari buku tentang film di perpustakaan dan nemu nama George. Tapi yang lebih mengejutkan, George disebutkan tewas dalam perang di buku itu!

Pas mereka lagi baca (yang sebenernya kupertanyakan karena bukunya berbahasa Perancis sementara semua tokohnya ngobrol pake bahasa Inggris), tiba-tiba seseorang mengejutkan mereka dari belakang, yang ternyata adalah penulis buku itu, Rene Tabard. Hugo dan Isabelle pun ngasih tau Rene kalo George masih hidup. Rene menganggap George adalah inspirasinya, sayangnya ia cuma nemu 1 film buatan George karena yang lain udah dihancurkan.

Besoknya, Hugo ngajak Rene buat ketemu George. Tapi George lagi sakit dan mereka cuma ketemu Jeanne. Jeanne seneng banget pas tau kalo ternyata masih ada yang inget film-filmnya George, dan lebih seneng lagi karena ternyata Rene tau kalo Jeanne adalah aktris utama di hampir semua film buatan George.

Dengan bantuan proyektor, Hugo, Isabelle, Jeanne dan Rene pun nonton film George satu-satunya yang dimiliki Rene. Ternyata film itu adalah film tentang roket yang menancap ke bulan. Pas film selese, George ada di belakang ikut liat film itu dan terharu. Ia pun cerita masa kejayaannya sebagai pembuat film mpe akhirnya bangkrut karena perang dan nggak ada yang inget lagi sama filmnya. Ia juga nyinggung soal automaton yang dikiranya udah jadi rongsokan.

Hugo pun langsung lari ke tempat tinggalnya buat ngambil automaton. Tapi sial, dia ketauan oleh inspektur stasiun dan sempet ketangkep (karena anak kecil nggak boleh keluyuran sendirian, dan kalo ketauan nggak punya orang tua, dia bakal dikirim ke panti asuhan yang tampaknya sih serem). Ia akhirnya bisa lolos dan ngambil automaton, tapi ketangkep lagi dan si automaton jatuh ke rel kereta. Beruntung, si inspektur stasiun nyelametin Hugo pas kereta hampir nabrak dia. And, yeah…happy ending. Hugo diangkat jadi anak George, dan film George Melies diputer lagi di hadapan publik dengan bantuan Rene Tabard.

Yang masih bikin aku bingung dari film ini (selain buku berbahasa Perancis yang dibaca Hugo dan Isabelle seolah buku itu berbahasa Inggris) adalah……….terus di mana pesan ayah Hugo buatnya? Automaton itu jelas-jelas buatan George, dan gambar yang digambar si automaton itu pun gambar George. Then what is the message from Hugo’s father?? 😡

Selain itu, aku pengen protes sama yang bikin sinopsis yang kubaca tentang film ini, terutama tentang genrenya. Ini bukan sekedar film adventure/ fantasy, ini film horor sumpah!! Ada bagian di mana Hugo lagi tidur di tempat tinggalnya (di dalem jam stasiun) dan si automaton itu menghadap Hugo. Dia lagi mimpi 2 lapis (untung nggak ratusan kayak iklan wafer): pertama dia ditabrak kereta pas ngambil kunci si automaton yang jatuh di rel, kedua badannya berubah jadi robot kayak si automaton. Pas bangun, Hugo langsung liat si automaton (secara si automaton aja duduk ngadep Hugo). Mukanya yang mirip manusia, bibirnya yang tanpa senyum, matanya yang hitam bulat nggak ada tanda-tanda kehidupan (secara dia robot) itu kayak robot setan. Nggak salah kalo George bilang ‘ghost’ pas pertama liat gambar si automaton di buku catatan ayah Hugo T______T

Kedua, aku lupa ini pas kapan. Mungkin pas George lagi nostalgia sama film-filmnya. Pokoknya ada satu filmnya tentang musik. Kalo tentang drama musikal sih biasa aja. Tapi yang ini tentang……semacam tim paduan suara yang dipandu oleh dirigen, yang di atas kepala mereka ada garis paranada dan kunci G. Bener sih mereka nyanyi, tapi horornya adalah pas kepala sang dirigen tiba-tiba copot dan nyantol di garis paranada. Abis itu kepalanya ada lagi (tapi tetep ada yang nyantol di garis paranada), terus copot lagi. Kepalanya ada lagi, terus nyantol lagi di garis paranada. Si dirigen ini kecoa ato apa???!?? Nggak lucu banget men filmnya!! T________T . Kepalanya ini semacam dianalogiin sebagai not balok. Not balok yang nyereminnya naudzubillah.

Terakhir, balik lagi tentang si automaton. Pas endingnya, bagian wajah automaton di-shoot agak lama. Saking lamanya, kami ngira si automaton ini bakal ngedipin mata ato senyum! Si automaton ini saking apanya coba mpe bikin yang nonton ngeri kayak gitu??!? Demi apwaaaaah~?!?!? 😯 *efek tiga jari*

Dan….sejujurnya, ini pertama kalinya aku nonton 3D. Aku nggak tau sih film lain yang pake 3D kayak gimana, tapi Hugo 3D ini nggak sesuai harapanku. Efek 3D-nya di mataku cuma keliatan dikit banget, misalnya di awal filmnya mulai. Yah….entah harapanku terlalu tinggi ato emang ni film kurang cocok dijadiin 3D sih. 😮

Advertisements

2 responses to this post.

  1. Posted by Intan on May 3, 2012 at 8:11 pm

    ending ny kurang greget ya be 😦

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: