Novel Review: Ai (by: Winna Efendi)

Hmmm…kayaknya aku jarang banget nge-review novel (atau malah nggak pernah ya?) di blog ini, hehe (meskipun di goodreads pernah). Well, kali ini, setelah sekian lama menelantarkan blog ini, aku mau nge-review novel berjudul ‘Ai’ karya Winna Efendi.

Dari judul dan cover-nya mungkin udah bisa ditebak, novel ini berbau Jepang. Dan dari sinopsisnya pun begitu, tokoh-tokohnya bernama Jepang. Awal liat, aku kira cuma judul, cover, dan nama-nama tokohnya aja yang njepang. Eh ternyata setelah dikasih tau temenku yang udah baca, novel ini juga bersetting di Jepang. Well, saat itu aku masih belum berekspektasi apa-apa (karena aku percaya, the more you expect on something, the more it will hurt you :p ). Dan setelah baca chapter pertama, lebih tepatnya bahkan halaman pertama, aku sadar novel ini bakal keren banget sampai ending-nya!

Novel ini bercerita tentang anak desa bernama Sei dan Ai yang tumbuh dari kecil bersama, sangat dekat satu sama lain. Sampai suatu hari seorang pemuda dari Tokyo datang ke desa mereka dan kemudian bersahabat dengan Sei dan Ai. Dan akhirnya Ai dan Shin berpacaran, lalu mereka bertiga melanjutkan sekolah ke Universitas Tokyo. Mereka tinggal bertiga di sebuah apartemen, dengan keadaan sebenarnya Sei sangat mencintai Ai.

Selama baca novel ini, hal yang terlintas di pikiranku adalah ‘Sumpah aku pengen ngelabrak habis-habisan bocah bernama Ai ini!’. Gimana enggak? Selama di Tokyo, mereka bertiga tinggal di sebuah apartemen, Ai berpacaran dengan Shin sementara Sei masih mencintai Ai. Tapi waktu Sei mau pindah apartemen malah dilarang Ai. Zzzzzzzzzz~

Well, yang bisa kusimpulkan dari kesan itu adalah Winna mampu membangkitkan emosi pembaca dengan baik, keren banget. Dengan gaya penulisannya yang ala novel terjemahan enak banget buat dibaca (mungkin karena aku suka baca novel terjemahan juga),  Winna bikin aku terpukau (jiaaaah lebay~). Alurnya tenang, runtut, rapi. Bahkan meski sadar mata udah ngantuk berat pun masih bela-belain baca sampai kelar saking hebatnya cara Winna menyeret emosi pembaca, hehe.

Selain itu, penggambaran setting-nya yang fully Jepang, mulai dari tempat, cuaca dan musimnya, sampai budaya-budaya yang memang pasti ada di Jepang sana lengkap banget. Cara menggambarkannya sangat detail, halus dan nggak terkesan maksa, meskipun aku menemukan kesalahan kecil dalam penulisan bahasa Jepang yang digunakan, seperti ‘itadakimassh’ yang seharusnya ‘itadakimasu’ dan ‘okairi’ yang seharusnya ‘okaeri’. Bener-bener merasa berada di tengah-tengah Sei, Ai, dan Shin, serasa lagi di Jepang beneran. 😀

Dan pada beberapa chapter terakhir, point of view diubah dari Sei menjadi Ai. Cara ini nggak bikin bingung atau jadi males baca, justru merasa kaget dengan ‘fakta tersembunyi’ tentang Ai dan segala hal dari sudut pandangnya. Bukannya sama sekali nggak terduga, tapi karena dipaparkannya di chapter-chapter akhir, jadi novel ini mampu bikin pembaca betah sampai akhir.

Tapi sayangnya ada beberapa bagian yang menurutku kurang greget menarik emosi pembaca. Seharusnya di bagian itu aku merasa ikut sedih, eh ternyata biasa aja. Entah karena terlalu banyak narasinya (seperti novel-novel terjemahan yang kutau, misalnya novel berseri Klan Otori karya Lian Hearn) atau gimana, entahlah. Yang jelas jadi terasa kurang gregetnya di bagian-bagian tertentu.

Overall, menurutku novel ini keren banget! Nggak bakal nyesel bacanya, apalagi yang sering ngiler pengen ke Jepang (bakal tambah ngiler mungkin), hahaha :p

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: