Review Novel: Hujan dan Teduh (Wulan Dewatra)

Tambah lama aku tambah sering nelantarin blogku ya. Sebenernya beberapa minggu lalu mau nulis sesuatu, tapi karena nggak kucatet dulu n kutunda-tunda jadinya lupa, hahaha :p #plak

Well, sekarang aku mau nge-review novel aja, yang sekitar seminggu lalu kupinjem dari seorang temen kuliahku, Della. Hujan dan Teduh karangan Wulan Dewatra. Aku baru sempet fokus dan tergoda buat mbaca kemarin sih (padahal tugas kuliah belum dikerjain, hehe), beberapa hari sebelumnya masih repot KKN n sibuk mikir ini-itu (mikir doank~).

Alasan pertama tertarik sama novel ini adalah tidak lain dan tidak bukan karena aku nggak perlu beli novel ini, alias pinjem punya temen, hehe. Alasan kedua, karena cover-nya bagus (khasnya buku-buku Gagasmedia). Ketiga, sinopsis. Mungkin. Nggak juga sih, karena aku sering ketipu sama sinopsis. Biasa, berekspektasi terlalu tinggi.

Jujur, awal baca novel ini entah kenapa aku merhatiin setiap detail kata yang ditulis Wulan. Entah emang tulisannya bagus, aku kelewat nganggur, ato aku pengen sekalian belajar. Lanjut baca, aku sadar emang diksi yang dipake Wulan ini bagus,—menurutku—dan dia emang kaya perbendaharaan kata. Beberapa halaman baca, aku ngerasa ada yang beda. Ada bagian yang ditulisnya normal, ada font-nya dibikin italic. Awalnya kukira buat menekankan kalo itu beda point of view, tapi setelah lanjut baca aku ngerasa bete sendiri.

Setiap ada tanda kalo satu adegan udah berakhir, adegan berikutnya terasa nggak nyambung sama sekali sama adegan sebelumnya. Rasanya kayak pas nyetir ngebut di jalanan yang kayak abis kejatuhan meteor, bolong-bolong. Bacanya berasa loncat-loncat. Dari sini kok tiba-tiba ke sini? Selain itu, di satu bagian ditulis kalo tokohnya masih SMA, tapi di bagian selanjutnya tiba-tiba kuliah. Eh balik lagi SMA, eh kuliah lagi. Hell, penulisnya ini goblok ato apa sih?? Masa iya anak sekolah dibilang lagi kuliah di kampus??

Dan setelah baca seperempat lebih bagian novel, aku malah pengen ketawa sendiri. Ternyata aku yang bego. Shit, aku kecolongan!, batinku. Ternyata si penulis sengaja bikin perbedaan font normal dan italic buat nandain masa lalu dan masa kini sang tokoh utama! Dan Wulan, si penulis, udah sukses membodohi orang bodoh kayak aku, heuheuuu~

Yak, jadi sebenernya novel ini tentang apa sih?

Sebenernya aku bingung gimana mesti nge-review, takut jadi spoiler sejak awal. Meskipun di halaman kesekian puluh, pembaca bisa dapet jawabannya. Jadi, aku mutusin buat nge-review sebisaku tanpa jadi spoiler.

Hujan dan Teduh ini mengisahkan seorang cewek SMA di Bandung bernama Bintang yang merasa harus ngerahasiain hubungannya dengan pacarnya, sampai suatu ketika hubungan itu terbongkar dan hubungan Bintang dengan pacarnya pun renggang dan akhirnya putus sama sekali. Saat kuliah di Jakarta, Bintang pacaran dengan anak band bernama Noval, yang mana mereka punya hubungan yang lumayan jelek pada awalnya gara-gara Bintang sendiri. Waktu hubungan mereka mulai membaik (sebelum pacaran), semuanya tampak menyenangkan, begitu juga waktu masih awal-awal pacaran.

Namun semua berubah ketika negara api menyerang. #eh

Tapi semua berubah sejak ‘para setan bernyanyi’, hubungan pacaran mereka udah kebablasan. Noval jadi sangat amat posesif, ngelarang Bintang ngelakuin ini dan itu. Nggak boleh pake rok pendek, sampai bahkan nyuruh Bintang berhenti dari hobinya, ikut klub renang. Cewek normal sih mestinya udah milih putus, tapi Bintang lebih milih nurutin Noval. Karena cinta dan karena takut sama perubahan ekspresi Noval yang nyeremin pas Bintang mau nolak perintah Noval. Sekilas, aku jadi keinget sama temenku n mantan pacarnya yang (dari cerita temen-temen) sebelas-dua belas sama Bintang n Noval. Satu psycho, satu jadi terkesan masochist. =_________=a

Hubungan yang kebablasan terus berlanjut, sampai Bintang ngerasa ada yang salah waktu dia berhenti di deretan pembalut wanita di sebuah minimarket. Dan Noval memaksa Bintang ke dukun beranak, yang hampir merenggut nyawa Bintang. Sejak hari itu, hubungan mereka jadi terasa dingin secara emosi.

Selanjutnya? Baca sendiri ya~ :p

Nggak kayak review novel yang biasa kutulis, rasanya kali ini aku terlalu banyak ngerahasiain bagian cerita ini-itu. Well, ketularan si penulis. Mungkin, hehe. Tapi ceritanya terlalu bagus buat dibocorin sampai akhir halaman.

Wulan menceritakan setiap detailnya dengan baik. Nggak gamblang, nggak lugas, tapi nggak rumit juga buat dimengerti maknanya. Adegan-adegan yang bisa aja diungkap dengan keras dan vulgar pun jadinya nggak tampak seperti itu. Sepanjang cerita terasa dingin n gelap, meskipun sebenernya ada juga beberapa bagian yang emang terasa hangat. Aku sendiri kaget, ternyata ada juga novel Gagasmedia yang genre-nya kayak gini. Maklum, selama ini taunya cuma novel remaja berbahasa ringan n lugas sehingga gampang dicerna. Ada pun yang ending-nya suram alias sad ending, tapi feel sepanjang cerita nggak dingin n gelap kayak Hujan dan Teduh. Intinya, gaya penulisannya sukses bikin aku yang awalnya bete setengah hidup jadi jatuh cinta.

Tapi buat yang terbiasa baca cerita-cerita berbahasa ringan n lugas semacam teenlit, dan yang nggak sabaran, bisa jadi langsung males bacanya. Meskipun sebenernya sayang banget kalo novel ini nggak diabisin sampai akhir.

Well, emang nggak salah tulisan Wulan Dewatra jadi juara pertama lomba ‘100% Roman Asli Indonesia’. 4 thumbs up buat Wulan Dewatra! 😀 *angkat jempol kaki*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: