U Like That ?

Sabtu lalu aku janjian ketemu dengan seorang temen kuliahku. Dia minta kubuatkan gambar yang menceritakan kisah pacarannya dengan sang pacar (iyalah, masa sama kakeknya!) yang baru berjalan 1 bulan. Kalo dipikir sedikit rasional, hal itu nggak masuk akal. Ngapain segitunya sama pacar yang baru jalan sebulan?? Tapi di lain sisi aku mengakuinya, bisa aja kayak gitu. Justru karena masih baru, masih anget-angetnya, jadi pengen bikin sesuatu yang berkesan, memorable, ….whatever lah.

Btw, ndak usah tanya saya jurusan apa dan lalu suggest mestinya saya masuk jurusan ini-itu ya. I’ve heard enough from some people which makes me think ‘say it again & I’ll cut your throat right away’.

Anyway, bukan itu yang mau kuomongin.

Aku cuma mau ngomongin tentang hobi.

Yep, hobi.

Saat lagi asyik nggambar ditemenin temenku di C2O yang mirip mini perpus (sebuah tempat yang beberapa bulan terakhir bikin aku penasaran wujudnya kayak gimana), tiba-tiba dia tanya gini:

Bek, menurutmu orang yang suka baca itu udah pasti baca banyak buku?

Hmmm…sebuah pertanyaan yang sukses bikin aku mikir. Mikir mpe notok jedhok dan tetep nggak tau jawaban yang bener. Yang pada akhirnya kujawab sama ruwetnya dengan isi otakku.

Entahlah. Karena di twitter cukup banyak akun-akun penulis dan penerbit yang ku-follow, jadi tampaknya orang yang suka baca buku berarti sudah banyak baca buku (meskipun kalo ditanya, mereka pasti jawabnya kira-kira ‘masih banyak buku yang belum saya baca’). Tapi apa lantas itu membuat orang yang nggak banyak baca buku nggak bisa dikatakan sebagai orang yang suka baca buku?

Ya. Kayak aku, kayak temenku itu. Kami cuma sesekali membaca buku, tapi sekalinya mulai baca buku, lupa sama yang lain. Hehhe.

Pertanyaan itu juga bikin aku bertanya-tanya tentang diri sendiri.

Saya yang suka dengan Jepang. Berawal dari kebanyakan pecinta Jepang, liat anime-anime yang dulu sering nongol di layar televisi. Dan dari sana aku jadi suka dengerin soundtrack-soundtrack anime, terus merembet pengen belajar bahasanya.

Setelah itu, beberapa kali temen-temen kuliah (yang mayoritas Kpopers, nggak kayak temen-temen SMA dulu yang lebih menjurus ke J-lovers) tanya ini-itu tentang Jepang. Entah urusan musik seperti girlband/ boyband (which is I actually only know bands like Laruku, Do As Infinity or Asian Kungfu Generation), anime/ dorama, budaya, atau bahasa. Yang kemudian aku jawab dengan muka blo’on sambil bilang ‘nggak tau’. Lalu mereka pun mempertanyakan apa aku beneran suka Jepang, seperti mereka yang gila-gilaan suka sama Korea?

Entah. Aku suka Jepang, tapi aku nggak terlalu addict dengan berbagai hal tentang Jepang.

Apa hal itu lantas bisa membuatku nggak bisa dibilang ‘suka Jepang’?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: