Novel Review: Fleur (by: Fenny Wong)

Liburan gini pas nggak tau mau ngapain, salah satu pelarian terbaik adalah baca novel. Karena membaca buku-buku kuliah sudah terlalu mainstream. #plak
Jadilah aku ngerampok novel punya Kuma (dan aku baru tau kalo ternyata buku itu baru aja dibeli o.O), ‘Fleur’ karya Fenny Wong. Sebenernya aku udah penasaran banget pengen baca novel ini sejak…..November 2012 (agak lupa), udah pernah ikutan giveaway yang salah satu hadiahnya novel ini (tapi gak dapet). Dan pada akhirnya ternyata Kuma beli, wkwk. Sebab tertarikku dengan novel ini awalnya………….udah jelas, cover-nya bagus~ TuT (melupakan pepatah ‘don’t judge a book by its cover’)

cover fleur
Jaaaadi, Fleur adalah sebuah novel fantasi, bercerita tentang sepasang adik-kakak yatim piatu dari keluarga bangsawan. Sang adik, Florence ternyata juga merupakan kekasih dari kakaknya (kakak angkat sih), George, dan selama itu nggak ada yang sadar kecuali Sebastian, pelayan yang udah mengabdi pada keluarga Ackerley sejak jaman kakek-nenek mereka. Nggak dijelasin secara gamblang setting novel ini, tapi rasanya berlokasi di Eropa, tepatnya di Inggris mungkin (si penulis sih bikin tempat bernama Ferdsland), dan pas jaman perempuan di sana hobi pake pakaian dengan rok mengembang plus korset yang bikin sesak nafas (baca: jaman Victoria).
George adalah orang yang ramah, menyenangkan, n hobi ngerayu perempuan (meskipun udah punya Florence). Dia hobi banget dateng ke pesta-pesta mana pun, berbeda dengan adiknya, Florence, yang nggak pernah muncul di satu pesta pun. Kecantikan Florence udah diketahui di seluruh penjuru Ferdsland, tapi dia selalu nolak setiap lelaki yang ngelamar dia (udah punya George lah~).
Suatu hari, karena suatu sebab, Florence mau diajak George ke pesta keluarga Cromwell. Di sana, Florence bertemu dengan Alford Cromwell, putra satu-satunya keluarga Cromwell. Alford yang dingin, angkuh n sok berkuasa tiba-tiba aja bilang ke Florence (tanpa membuang sifat-sifatnya itu) buat jadi kekasihnya, yang tentu aja ditolak Florence (yang ngelamar baik-baik aja ditolak, apalagi yang nggak sopan). Tapi ternyata, esok paginya Alford dateng ke kediaman Ackerley dan tetep ngotot ngelamar Florence. Florence mulai ragu karena ada orang yang sengotot itu, dan akhirnya dia nerima lamaran Alford n jadi tunangannya.
Sejak hari itu, Florence jaga jarak dengan George. George jadi lebih sering main perempuan, sampai akhirnya Florence terima ajakan Alford untuk menikah. George yang galau setengah hidup, tiba-tiba nemu buku dongeng yang sering dibaca Florence di ruang baca. Setelah baca buku itu, George sadar. Ternyata buku itu bercerita tentang kehidupan peri bunga bernama Belidis, Dewa Bumi bernama Fermio, dan Dewa Matahari bernama Helras. Belidis yang merupakan kekasih Fermio ingin dimiliki oleh Helras, sahabat Fermio yang kesepian. Helras bahkan sampai membunuh Fermio, tapi pada akhirnya Belidis juga mati karena………tanpa Fermio apalah artinyaaaalalalala~ #plak
Dan……….buku itu menjadi kutukan keturunan mereka bertiga, yang juga hanya bisa dibaca keturunannya. Yang ternyata Florence, George, dan Alford adalah reinkarnasi dari Belidis, Fermio, dan Helras.
Setelah itu, George yang udah paham kenapa sikap Florence kepadanya menjadi aneh sejak bertunangan dengan Alford pun mengajak Florence kabur ke tempat yang jauh. Dan saat itu, Alford yang cinta mati n posesif terhadap Florence bener-bener sadar dan tau hubungan antara Florence dan George, dan berniat membunuh George yang melarikan calon pengantinnya.
Gaya penulisan novel ini sih ala novel-novel terjemahan asal Barat gitu, okelah, enak dibaca. Cuma lumayan ngganjel sama beberapa penggunaan kata depan yang kurasa nggak pas. Selain itu ada kesalahan, kata ‘ke luar’ yang setelah kubaca ulang kalimatnya sebenarnya yang bener ‘keluar’. Aku nggak bisa bilang itu adalah typo, karena aku temuin di 2 kalimat yang berbeda. Masalah sepele sih, tapi gara-gara itu aku mesti baca 2 kali kalimatnya baru ngeh maksudnya.
Masalah sepele yang totally annoying. Dan gara-gara itu aku jadi mempertanyakan peran editornya…. :/ (does she really exist?)
Next, tentang jalan cerita. Rasanya si penulis berusaha mengulur-ulur cerita dengan Florence yang takut dengan kutukan yang tertulis di buku dongeng yang dibacanya. Kayak George ke Florence, bahwa sejak awal masalahnya terjadi karena Florence nerima lamaran Alford. Dia kan nggak tau kalau mungkin takdirnya bisa berubah andai dia nolak Alford…ya, kan? Jadinya malah sampai hampir males sendiri lanjut bacanya. Tapi karena sekali baca nggak akan bisa berenti, jadilah kubaca sampai akhir.
Terus….akhir cerita. Sampai beberapa halaman terakhir, di mana sisa halamannya semakin tipis, aku kira kematian George, disusul Florence, lalu disusul Alford adalah ending cerita. Dan bagian Alford dalam kematiannya menyesali semua tindakannya menjadi sebuah akhir yang perfect. Eh ternyataaa….nggak sampai di situ. Setelah penyesalan itu, mendadak Alford kembali jadi Helras, ke detik-detik di mana Fermio hampir mati karena bertarung dengannya. Dan dari sana, Helras yang menyesal berusaha memperbaiki takdir mereka bertiga.
Ok, it’s not bad either to be the end.
Tapi….tapi….ternyata setelah itu……….Alford tiba-tiba kembali ke detik-detik sebelum dia membunuh George tepat di mata Florence! What the hell is this story about??!?
Aku mulai sebel karenanya. Dan lebih sebel lagi………..baca halaman terakhir cerita. Halaman 321. Kalo Windhy Puspitadewi di setiap ‘kata pengantar’-nya bilang bahwa dia menulis tidak berniat untuk menggurui, maka halaman terakhir novel Fleur ini kurasa kebalikannya. Novel ini ngasih tau apa yang seharusnya kita lakuin dalam hidup, memetik pelajaran dari cerita novel ini. Berasa balik ke jaman SMP, masa di mana pas pelajaran Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris disuruh nemuin n nulis ‘pesan’ atau ‘amanat’ dari cerita yang baru kita baca.
(Sorry, I don’t mean to compare them both, but, yeah……)
Jadi mikir setelahnya……..novel ini buat dibaca anak umur berapa sih? SD? SMP? =__________=
Yaaaah…mengabaikan itu semua, cover, ide cerita, dan gaya penulisannya bisa ngangkat novel ini di mataku. Just try read it, mungkin buat yang demen happy ending bakal suka sama novel ini. 🙂

Advertisements

One response to this post.

  1. Sekarang sulit nemuin novel Fleur ya, padahal aku pengen baca 😦

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: