Movie Review: Belenggu (Directed by Upi)

Pertama-tama, aku pengen bilang…..I HATE WATCHING THRILLER MOVIES! Banget!

Meskipun aku sering ngomong hal-hal sadis, tapi aku nggak pernah punya cukup nyali buat nonton film thriller (hahahaaaa ~.~). Tapi ada sebab kalo aku tiba-tiba liat film thriller, apalagi ngebet pake banget. Salah satu sebabnya adalah kalo aku tau film itu juga mengandung unsur psikologis. Kayak dulu niat banget download dan nonton ‘Yours Truly’, taun ini aku ngebet banget nonton ‘Belenggu’ di bioskop. ‘Belenggu’ emang bukan film Indonesia pertama yang kutonton di bioskop, tapi ini film Indonesia pertama yang bikin aku bener-bener penasaran buat cepetan nonton meski tau pasti diputer di TV 3 bulan setelahnya. Aku tau film ini awalnya dari Jawa Pos, dan karena baca itulah aku jadi tertarik. Dan begitu para pemeran utama film ini plus sang sutradara, Upi, nongol di Hitam-Putih, jadilah aku semakin ngebet nonton 😀

Seperti yang udah banyak orang tau (terutama penggemar film-film karya Upi ato at least yang emang tertarik banget nonton film ini), film ini justru film pertama yang dibuat Upi, tapi tertahan 8 tahun karena nggak ada produser yang mau memproduseri film ini karena (alasannya) genre-nya kurang diminati. Tapi aku beruntung karena film ini baru diproduksi taun ini, karena kalo diproduksi 8 taun yang lalu mungkin aku nggak bakal nonton (nggak ada temennya nonton, hehe. Kan sekarang ada Anpanman yang doyan nonton :p ).

poster Belenggu

poster Belenggu

‘Belenggu’ bercerita tentang seorang tokoh bernama Elang (Abimana) yang tinggal di sebuah kota kecil yang penghuninya saling curiga satu sama lain karena terjadi pembunuhan berantai di sana. Elang sendiri sering sekali bermimpi buruk tentang seseorang berkostum kelinci sebagai pembunuh tersebut, dan di dalam mimpinya juga terdapat seorang perempuan yang menurut Elang menjadi kunci utama dari pembunuhan berantai tersebut. Suatu hari, Elang yang bekerja sebagai bartender akhirnya bertemu dengan perempuan dalam mimpinya, Jingga (Imelda), di bar tempat Elang bekerja. Sejak saat itu (ato jauh sebelumnya), Elang pun jatuh cinta pada Jingga dan rela melakukan apa saja demi Jingga.

Awal-awal nonton, aku ngerasa nggak dapet feel dari film ini. Entah emang awalnya kurang ‘menggigit’ ato karena aku nontonnya sama Anpanman jadi kurang berasa kelamnya…. ._. #plak . Ato mungkin juga dikarenakan dialog-dialognya yang kurang enak didengar di telinga (banyak yang diucapkan dalam bahasa baku), jadi ngerasa agak aneh. Tapi semakin lama dan lama nontonnya, malah jadi ikut ngerasain gimana mencekamnya keadaan kota itu dari sudut pandang Elang. Kalo durasi filmnya lebih lama lagi, mungkin mentalku ikutan semrawut kayak Elang @.@

Diliat dari awal sampai setengah jalan cerita film ini hampir pasti siapa pun ngerasa bisa menebak siapa pembunuh berkostum kelinci itu. Ya, begitu juga aku. Dan sebenernya tebakan awalku udah tepat (dari tokoh dan penyebabnya), cuma karena kehadiran tokoh lain yang tampak mencurigakan aku jadi ngira tebakanku salah. Tapi, meskipun bisa nebak pelakunya dan mungkin juga sebabnya, kayaknya nggak bakal ada yang ngira kalo ceritanya jauh lebih kompleks dari yang sudah diterka. Jadi, aku kurang setuju sama judul artikelnya JP ‘Sering Ditolak karena Susah Ditebak’, karena sebenernya film ini sukses bikin penonton ngira bisa menebak jalan cerita film ini, padahal sama sekali nggak! Bahkan, lama-lama aku kesulitan (entah cuma aku ato ada orang lain juga) membedakan mana yang kehidupan aktual (I won’t say ‘realitas’, karena aku percaya realitas cuma ada dalam pikiran setiap individu) Elang, mana yang hanya mimpi. Semua jadi tercampur aduk dan perlu mikir setidaknya beberapa detik buat memastikan ‘ooooh ini cuma mimpinya Elang’ ato ‘oh, ini tadi bagian kehidupan aktualnya Elang toh?’.

 

Belenggu-Bella

Menurutku, akting Abimana Aryasatya di film ini bagus banget (tapi Anpanman bilang aktingnya kurang natural dan masih keliatan berjuang keras buat akting kayak gitu :/ ). Tokoh Elang dimainkan dengan baik, sampai bikin aku ikutan (nyaris) gila. Agak lebay, hehe :p . Tapi, itu semata-mata bukan cuma disebabkan akting Abimana yang oke, tapi menurutku juga karena didukung oleh lighting, sudut pengambilan gambar, dan sound effect yang pas. Akting Imelda Therine dan Jajang C. Noer menurutku juga keren di film ini. Tapi aku nggak begitu terbawa sama aktingnya Bella sebagai Djenar (entah gimana pendapat orang lain), tetangga sebelah kamar apartemen Elang. Kalo dibilang kalah karena akting Abimana yang kuat, kurasa penyebabnya bukan itu. Karena toh Imelda bisa menonjolkan perannya sebagai Jingga waktu beradu peran dengan Abimana.

Daaaaan…sebelum nonton, aku masih nggak paham kenapa nama Imelda Therine dituliskan lebih dulu daripada nama Laudya Cynthia Bella di poster film ini (padahal di poster yang terpampang jelas adalah sosok Bella), bahkan setelah nonton di menit-menit awal. Maklum, di awal-awal, porsi Bella jauh lebih banyak ketimbang Imelda. Imelda awalnya cuma muncul di pembuka cerita dan mimpi-mimpi buruk Elang. Tapi setelah nonton sampai kelar, akhirnya aku paham. Ternyata emang peran Imelda di film ini lebih besar ketimbang Bella.

Overall, nggak sia-sia kalo film ini udah melalui perjuangan panjang nan berat demi mendapatkan produser. I think this unpredictable psychological thriller movie is a must watch! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: