I’m Mad . . . Again.

Sekitar seminggu ini entah kenapa perasaanku nggak enak. Nggak plong. Nggak baik-baik aja.

Entah kenapa.

Dan entah kenapa juga, malam ini, tiba-tiba aja aku mikirin hal yang PALING BISA bikin aku bete setengah hidup cuma dalam hitungan detik.

Tentang kenapa aku kuliah di jurusan I.K. dan kenapa aku masih bertahan sampai saat ini.

Ini adalah hal yang paling menyebalkan buatku, karena sejak awal emang aku SAMA SEKALI nggak ada minat kuliah di sini. Tanya kenapa? Karena dulu, waktu udah SMA kelas 3, tinggal menanti masa-masa lulus dan mikirin calon universitas, jurusan yang aku mau DITOLAK MENTAH-MENTAH sama ibuku.

Alasannya? ‘Mau kerja apa nanti kalau lulus dari jurusan itu?’. BASI broooooooo~

Tapi dungunya aku waktu itu, nggak mempertahankan keinginanku dan dengan sepersekian-persen-hati aku cari jurusan lain yang LAPANGAN KERJANYA LUAS. Now that I think about it, really sounds stupid. Kan bukan JURUSANnya yang menciptakan lapangan kerja LUAS, tapi pinter-pinternya si lulusan aja. Mau dari jurusan mana pun, kalau emang si lulusan nggak pinter cari kesempatan ya sama aja.

Tapi dulu aku terlalu bodoh dan malas untuk berdebat.

Sebenernya, setelah ketrima di jurusan I.K., aku nggak serta-merta bisa beradaptasi dan nerimo nasib. Udah beberapa kali aku bilang ke ibu kalau aku nggak betah, nggak kuat, buntu, sumpek dll kuliah di I.K., tapi sejumlah keluhanku pula aku ditolak dengan alasan, “Udah terlanjur..ibu juga nggak punya uang buat kamu pindah jurusan.”

Begitulah kira-kira jawaban ibuku.

And that made me got even mad. Mad at her, mad at myself.

Dan sekarang aku masih di sini, semester molor dari jurusan yang SAMA SEKALI nggak aku minati. Menjalani kuliah dengan hati yang bahkan nggak lebih dari seperempat. Menghadapi skripsi dengan topik yang bahkan aku sendiri nggak yakin apakah bisa diteliti. Nggak ada ‘pecut’ dan dorongan yang mempan. Sesekali ada kata-kata dari orang terdekat yang sanggup membuatku malu karena nggak ‘bergerak’ sedikit pun. Tapi kata-kata itu cuma sanggup menampar, tapi nggak cukup kuat buat ndorong aku.

Atau setidaknya, keenggananku lebih kuat daripada ‘tamparan-tamparan‘ itu.

Sekarang ini, kalau ada yang tanya ‘kapan lulus?‘ atau ‘abis gini mau kerja apa n di mana?‘….aku selalu jawab ‘nggak tau‘ dengan cuek, seolah yang dipertanyakan bukan tentang diriku sendiri.

Ya, rasanya ini bukan seperti hidupku sendiri. Dikendalikan. Boneka.

Jadi ingat puisi Kahlil Gibran:

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Lulus apa? Sudah untung IPK-ku masih 3. Kerja apa? Dulu aku punya mimpi, banyak mimpi, sekarang pun masih. Tapi nggak sejelas dulu. Sekarang sudah buram, nyaris gelap. Tiap ibu atau mbakku ngomongin kerja, omongannya SELALU tentang PNS.

Aku penasaran apakah di dunia ini nggak ada pekerjaan selain jadi PNS.

Mungkin aku terlalu lebay, mendramatisir kehidupan sendiri, merasa seperti Bawang Putih. Tapi begitulah yang aku rasakan.

Jadi, kalau suatu hari aku lulus dari jurusan I.K., menyelesaikan skripsiku, berarti itu adalah sebuah keajaiban besar. Karena aku bahkan nggak berpikir aku bisa lulus dari sini. Mungkin aku drop out, diusir dari rumah, lalu cari kerja serabutan. Dan mungkin aja dalam masa-masa itu aku berkali-kali mencoba bunuh diri.

Who knows.

Aku bahkan nggak berpikir keajaiban itu ada, kalau memikirkan hal ini.

Advertisements

2 responses to this post.

  1. Jangan bunuh diri dulu bek, kalau karaokean nggak bakal lengkap tanpa kamu. You know…nggak ada yang terlambat di dunia ini, termasuk buat mengejar mimpi, kita masih 20 something kan..itu masih muda banget kok..belum saatnya berpikir untuk menyerah pada hidup ini. Semangaat….bek..aku tau kemampuanmu bek, kalau buat nyeleseinskripsi kayak gitu aku yakin kmu bisa. Selesein satu2, then run for your dream..

    Reply

  2. Posted by ginohamasaki on June 3, 2015 at 1:51 pm

    Percayalah, Masih muda lho, kesempatan itu masih terbuka lebar, segerakan lulus, ntar soal kerja kan bisa macam2 kq Ga harus dari jurusan ini itu, sekarang tuh cari kerjaan ada syarat yg paling utama yaitu Umur dibawah 25 tahun + Lajang, Telan mentah2 sekarang skripsi dan Sidang Akhir mu, Soal PNS, itu terserah kamu, jangan nyesel kyk Aq, dah nunggak skripsi ujung2nya dapet kerja ya cuma itu itu aja krn keburu tuwir 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: