Posts Tagged ‘macet’

FPI Bagi-Bagi Takjil

Pertama-tama, please….jangan pikir aku pendukung FPI. Don’t judge a story by its title (peribahasa baru). Dan jangan pikir tulisan ini ada hubungannya dengan FPI. Mmmm….tapi ya, terserah deh kalo yang terakhir itu~

Jadi, Rabu minggu lalu, tepatnya tanggal 10 Juli 2013 yang tidak lain dan tidak bukan adalah hari pertama puasa sesuai keputusan pemerintah, aku nonton di Sutos bareng Anpanman yang kelebihan cutinya. Nonton Monster University yang sukses bikin aku memicingkan mata di awal-awal pemutaran……karena si Randy Boggs terkutuk itu!! =3=”

Sudahlah, mari kita skip cerita Monster University karena emang nggak ada hubungannya. Jadi, karena lagi puasa n itu juga puasa pertama, Anpanman mutusin buat buka puasa di rumah masing-masing dulu, dan maka dari itu, berangkat n pulang pun sendiri-sendiri (karena nonton yang sore).

Jadi, waktu itu abis nonton langsung pulang, sekitar jam 4 sore. Aku n Anpanman pulang searah lewat Mayjend. Sungkono, terus pisah karena aku lewat Golden City, sementara Anpanman lewat bunderan-entah-apa-namanya. Cerita dimulai pas aku mau belok ke jalan seberangnya Golden City.

Jam segitu Mayjend. Sungkono macet emang udah biasa, tapi kalo jalan seberang Golden City macet…..itu luar binasaaaaa~!! Agak lebay sih, hehe. Tapi emang aneh sih, selama ini lewat sana nggak pernah macet gitu. Tapi karena udah terlanjur lewat sana, ya aku terusin daripada balik jauh-jauh ke Sutos lagi.

Eh, belum ada 10 meter maju, udah liat pengendara motor balik arah. Aku udah mikir, jangan-jangan jalannya ditutup! Tapi ada apaan? Tapi karena aku liat masih ada juga orang-orang yang nggerombol di sana, aku pun maju lagi. Pemandangan mulai agak jelas. Ada beberapa polisi, ada spanduk, ada beberapa orang pake peci.

Wohh, apaan nih?? FPI demo di sini?? >>sungguh pemikiran bodoh, karena ngapain juga FPI demo di tempat yang bukan jalan utama gitu =.=a

Tapi aku tetep jalan terus, masih pelan-pelan, karena ternyata jalannya nggak seluruhnya diblok sama ‘FPI demo’ itu. Polisi ngasih separuh jalan buat dilewatin. Aku pun lewat, pelan-pelan karena orang di depanku jalannya juga pelan.

Lewat belum ada 5 meter, pandangan agak lebih jelas. Ternyata bukan FPI demo, tapi polisi razia!! Oh, pantes tadi ada orang yang balik arah 😮

Tapi kenapa polisinya ada yang ngasih jalan buat dilewatin dan nggak semua pengendara motor dirazia?

Karena heran, aku pun jalan sambil tetep merhatiin ‘polisi razia’ itu. Pelan-pelan…..sambil merhatiin….sampe di ujung ‘razia’……lalu penyesalan pun seperti biasa…..datang terlambat….. #agakdrama

SHIT!! Ternyata itu polisi-polisi lagi bagi-bagi TAKJIL!! TIDAAAAAAKKK~!! XO *gali tanah di TMP sebelahnya*

Ah, tau gitu tadi aku terobos itu ‘FPI demo’….. T^T 😥

Btw…..kalo orang yang balik arah tadi tau kalo itu bukan FPI demo ato polisi razia, pasti dia lebih nyesel lagi, hahaha~ :LOL:

Dan ternyata, pas hari Sabtu aku mau kencan ma Anpanman (ups, puasa! :p ), aku liat lagi ‘FPI demo’ itu di beberapa jalan kayak A.Yani ato Darmo. Ternyata mereka ada di mana-mana, tiap hari kayaknya. Jadi, yang lagi ‘kanker’ tapi pengen buka puasa gratis yang enteng-enteng, keliling Surabaya aja deh di jam-jam mau buka puasa gitu, hehehe :p

Banjir, Macet, dan BONEK

Cerita dimulai dari kuliah jam terakhir, yakni Ilmu Alamiah Dasar yang membahas tentang Bioteknologi. Baru setengah jam berjalan, lampu kelas tiba-tiba meredup, lalu kembali terang. Saat itu hujan telah turun membasahi bumi pertiwi bagian Surabaya. Jendela kelas yang sesekali terbuka dan tertutup akibat hembusan angin yang cukup kencang menimbulkan suara yang sedikit mengejutkan. Pintu berkali-kali terbuka dan tertutup pula karena angin, mengesankan seolah ada seseorang yang membuka pintu, tetapi nyatanya tidak ada. Suara gemuruh guntur melengkapi suasana misterius dan menegangkan. Beberapa mahasiswi menjerit ketakutan–atau terkejut karenanya.

Tiba-tiba…pats! Lampu mati. Gelap. Beberapa mahasiswi menjerit ketakutan–semakin keras. Akhirnya kuliah pun diakhiri–tanpa post test seperti biasa 😀 .

Setelah menandatangani absensi, masing-masing mahasiswa keluar dari ruang kelas yang gelap. Di luar, guntur semakin terdengar jelas dan angin bertiup sangat kencang, tak diragukan bisa merobohkan pepohonan. Rencana untuk segera pulang dan menyelesaikan tugas Psikologi Sosial pun tertunda.

Duduk dan menanti. Aku dan kawan-kawan hanya duduk dan menanti hujan mereda, atau lebih baik lagi apabila hujan benar-benar berhenti. Perutku meraung-raung meminta diisi selain angin. Aku mencoba menikmati sensasi hujan–seperti yang biasa kulakukan dulu–tetapi kini tak terasa lagi.

Kira-kira pukul 6 sore hujan hanya menyisakan rintik-rintik air dan aku memutuskan untuk pulang ke rumah saat itu juga. Mengenakan helm yang basah karena tak sempat terselamatkan dari keganasan hujan, aku pun melaju bersama motorku membelah jalanan.

Syok. Aku merasa syok ketika telah melintas ke luar universitas. Aku disambut oleh tangan-tangan dingin air hujan yang menggenangi jalanan. Aku tahu…aku tahu aku pasti menghadapi jalanan banjir, tetapi aku tak menyangka seketika itu juga aku menghadapinya. Apalagi airnya begitu tinggi. Jujur, aku belum pernah melintasi jalanan sekitar universitasku saat banjir seperti ini (ya iyalaaa..ngapain juga jauh-jauh ke Dharmawangsa waktu banjir??).

Mau tak mau aku melintas dengan amat perlahan, dengan kecepatan kurang dari 20 km/h, karena banjir, karena macet, karena tidak berani menciptakan keributan yang tak berarti (baca: diomelin orang gara” nyipratin air karena ngebut), dan terutama….karena BONEK.

Ya…BONEK. Bonek sepertinya sedang bersuka cita di saat yang sangat amat tidak tepat, dan itu membuatku semakin membenci mereka yang gemar membuat onar di jalanan. Tetapi aku pun bersyukur atas banjir ini, karenanya BONEK-BONEK itu tidak banyak berulah, bahkan banyak di antara mereka berhenti di pinggir jalan karena motor mereka mogok.

Lupakan perihal BONEK.
Perjalanan dari universitas menuju rumahku yang biasanya kutempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit, saat ini telah kutempuh dalam waktu 2 kali lipat. Sungguh banjir mengalahkan segalanya.

Tanganku nyaris mati rasa karena kedinginan dan keberatan menahan beban motor yang tak jarang terempas sapuan air dari kendaraan lain. Handphone-ku terus berdering karena seorang dengan nomor tak kukenal menelefon, dan juga terus-menerus bergetar karena 6 sms memenuhi inbox, di mana 2 di antaranya berasal dari kakak-kakak baik hati yang mengingatkanku akan banjir, macet, dan bonek. Terima kasih…Anda sekalian sudah berbaik hati mengingatkanku. Tetapi amat sangat disayangkan..peringatan tersebut sungguhlah terlambat karena saat itu aku telah hampir mencapai rumah.

Membaca kembali sms tersebut semakin membuatku tidak peduli akan peringatan tersebut..

kalo mau pulang ati2. Banjir meradang di mana2. Ngagel bisa macet lama. AWAS ada BONEK.Plg agak malam gpp.

hhmm…pulang agak malam tidak masalah. Ya…bagi mereka tidak masalah…tetapi bagiku masalah besar, karena tugas Psikologi Sosial harus kuselesaikan malam ini juga pukul 9.
Aku pun pulang dengan hidung yang bersin tiada akhir.

(happened on Wednesday, December 16, 2009)