Posts Tagged ‘Suki’

Baby’s 1st School Day!

Hey~!!

Ini hari pertama Suki sekolah! Yay~!! 😀 *joget pake pompom*

Karena Suki lebih sering tinggal di rumahku daripada di rumahnya sendiri, dia pun didaftarin ibunya di sekolah deket rumahku. Sekolah Islam, yang bisa dibilang privat karena 1 kelas isinya cuma 10 orang (ato sekarang rata-rata sekolah muridnya cuma segitu ya?). Jadi seragam sekolahnya ya baju muslim gitu, dan kebesaran dipake Suki (padahal itu udah ukuran paling kecil)~ XD #ngakak

Gambar Gambar Gambar

Oh iya, Suki sekarang masuk TK. Awalnya mau dimasukin PG dulu, tapi ternyata berdasarkan tes yang dikasih pihak sekolah, Suki udah bisa masuk TK. Cuma ya gitu deh jadinya……..dia paling kecil. Bahkan kata mbakku pas nganter tadi, dikira guru yang nyambut murid-murid baru di sana Suki masih PG! XDD #ngakakndlosor

Tapi yaaaa…namanya juga Suki. Di rumah aja banyak tingkah n cerewet abis, tapi kalo di lingkungan baru ato ketemu orang baru malah diem banget. Keliatan cool gitu. =______= *itu semua dusta*

I hope Suki’s school life will be fun from now on! 😀

Advertisements

Finding Fathiyah

Di beberapa rumah yang hanya terdapat satu televisi, biasanya pemegang kuasa remote TV adalah orang tua. Setidaknya itulah yang pernah diungkapkan beberapa temanku. Tapi di rumahku, tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan keponakanku yang belum genap berusia tiga tahun.

Hari ini, Selasa, 6 Maret 2012, usai kuliah aku segera pulang karena hari ini hanya satu mata kuliah yang kuambil. Rumahku sepi karena urusan masing-masing. Sekitar pukul 10, kakakku yang sudah menikah dan bertempat tinggal di Sidoarjo datang bersama anaknya diantarkan oleh sang suami.

Turun dari motor, anak kakakku alias keponakanku yang biasa kupanggil Suki itu mengatakan ingin melihat Fathiyah. Fathiyah adalah seorang tokoh dalam sinetron yang ditayangkan di MNCTV setiap sore, yang berpenampilan layaknya tarzan berjenis kelamin perempuan. Suki sering sekali tinggal di rumahku, dan setiap sore nyaris tak pernah absen menonton Fathiyah. Jika acara televisi kesayangannya itu diganti, Suki akan sangat marah dan menangis sekeras mungkin.

Kupikir awalnya ia ingin melihat Fathiyah di televisi, tapi ternyata Suki melihat sosok berpenampilan seperti Fathiyah di perjalanan menuju rumahku. Karena ayahnya hendak bekerja, maka aku pun mengantarnya mencari ’Fathiyah’ bersama kakakku.

Motorku pun melaju menuju TKP di mana Suki melihat ’Fathiyah’, yakni di sekitar jembatan layang di daerah Kebonsari. Sepanjang perjalanan, aku dan kakakku mengira-ngira apa yang dilihat Suki. Lalu tiba-tiba terlintas satu sosok dalam benak kakakku, ”Jangan-jangan orang gila!”

……………………………..eh? Well, bisa jadi. Penampilan lusuh dan tak terawat. Sebenarnya aku malah berpikir bahwa sosok Fathiyah yang dilihat Suki adalah seekor monyet.

Kami pun mencermati setiap sudut jalan demi menemukan sosok ’Fathiyah’ dari jembatan Kebonsari, lanjut ke Jambangan sampai Ketintang Permai. Namun hasilnya nihil.

Karena masih belum menemukan ’Fathiyah’, Suki meminta mencarinya lagi. Great. Kami pun kembali menuju jalan yang sama: jembatan layang Kebonsari.

Melihat sekililing, kami masih belum menemukan apa pun. Akhirnya kami mencoba melewati rute yang sedikit berbeda. Masih melewati Jambangan, tapi kalau sebelumnya kami belok kanan dari perempatan, kali ini kami lurus terlebih dulu, kemudian belok kanan.

Dalam pencarian itu aku berharap agar keponakanku itu tertidur di tengah perjalanan saja. Tapi memang niat buruk tidak akan pernah dikabulkan. Yang terjadi justru aku yang mulai mengantuk. Haaaaah~

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba kakakku memanggil Suki yang melihat ke arah yang berlawanan dengan kakakku. Kakakku mengatakan ia melihat ’Fathiyah’. Aku mengangkat alis dan berpikir, ”Jadi, apakah Fathiyah yang dimaksud kakakku adalah Fathiyah yang sama dengan persepsi keponakanku?”

Karena Suki tak melihatnya, aku pun memutar balik laju motorku. Tapi sial, lagi-lagi keponakanku tak melihat ’Fathiyah’. Aku pun kembali memutar balik arah motorku, berharap penderitaan ini segera berakhir.

Semakin dekat dengan keberadaan ’Fathiyah’, aku memperlambat laju motorku. ”Itu dek, Fathiyah!” seru kakakku sambil mengarahkan pandangan Suki ke tempat ’Fathiyah’ berada.

And guess what? Itu Fathiyah yang dimaksud Suki!

Seorang lelaki berusia sekitar empat sampai lima puluh tahun, kulit sawo matang, penampilan lusuh dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan rambutnya, yap, ikal, meski tentunya tidak serapi Fathiyah di televisi. Entah orang itu gila atau tidak, yang jelas ia adalah seorang gembel.

Akhirnya, pencarian Fathiyah selama kurang lebih satu jam pun berakhir. Mata mengantuk, badan pegal seketika hilang. Yeah, mission accomplished!

Dan dari lubuk hati yang terdalam, aku merasa kasihan dengan Fathiyah yang ternyata tampak sama seperti gembel di mata seorang bocah berusia kurang dari tiga tahun.

Dadah, Ibu~! :D

Udah lama banget ya aku nggak cerita tentang keponakanku yang lucu, imut, dan menyebalkan, haha 😛 . Sebenernya banyak hal yang bisa diceritain, tapi aku mesti lupa. Dan mumpung sekarang ada cerita baru n masih inget, kuceritain deh 😀

Hari ini, tanggal 29 November 2011, di rumahku di atas jam 7 pagi biasanya tinggal aku, bapakku, mbakku si Nopek, n Suki. Si Suki ini meskipun rumahnya ada di Sidoarjo, tapi malah lebih sering tinggal di rumahku sini. Mungkin karena lebih banyak orang yang bisa diajak main (diajak main ato diperbudak? =________=). Dan meskipun Suki nginep di rumahku, ortunya tetep aja tinggal di Sidoarjo. Tapi kalo pagi biasanya ke rumahku n sorenya balik ke Sidoarjo. Demi apaaaaaaa~ 😯 *geleng-geleng*

Nah, Nopek ini tiap Senin mpe Sabtu kerja, masuk jam 9 pagi. Entah ini penyakit menurun ato gimana, meskipun sebenernya udah siap berangkat sebelum waktu yang udah ditentuin (entah kerja, janjian ato apapun), tapi buntut-buntutnya pasti: TELAAAAAAAATT!!

Hari ini Nopek juga gitu. Sebenernya dia bisa berangkat tepat waktu andai dia nggak gulung-gulung dulu di kasur ma Suki n ibunya. Tapi emang kalo nggak berangkat ngebut kurang terasa sensasinya (halah!). Akhirnya pas jarum panjang udah ngelewatin angka 6, Nopek langsung bikin kehebohan, ”AKU TELAAAATT!! 😯 ” >>dari tadi ngapain aja?

Nopek pun siap-siap berangkat sambil dibuntutin si bayi yang menyebalkan itu, mpe akhirnya Suki dipulangkan pada ibunya. Suki pun balik ke kasur n tiduran di sebelah ibunya. Dan karena udah telat, Nopek pun minta dianterin bapakku (karena parkiran di tempat kerjanya pasti antri panjang n bakal bikin tambah telat). Bapakku pun siap-siap nganterin Nopek.

Kembali pada Suki. Sambil tiduran, dia mainan bando punya ibunya. Tuh bando dipake di kaki, n otomatis ditegur ma ibunya, ”Itu dipake di kepala, bukan kaki.” Tapi dasar dianya emang nakal setengah hidup, terus aja diulangi. Dan senjata pamungkas untuk menghentikan si bayi hanyalah, ”Kalo nakal pulang lho ya (ke Sidoarjo)!” (FYI: kalo diancem gitu, biasanya Suki pasti langsung nurut)

Dan yap, Suki pun berhenti mainin bando ibunya. Tapi nggak mpe semenit, diulang lagi. Akhirnya…….

Ibu Suki: Pulang ya sama Bapak Pri (panggilan dari Suki buat bapakku)!

Suki: (unpredictable) Iya! *berseri-seri*

Ibu Suki: Ya udah, Bapak Pri, anterin adek pulang ya~

Suki: (yang tadi tiduran langsung berdiri n jalan ke arah bapakku) Dadah ibu~!! 😀 *melambaikan tangan dengan senang hati* >>ya Tuhan, lucunya~

Wkwk…….padahal niatnya cuma bercanda, malah diseriusin ma Suki! 😆

Suki Makan Sabun

Minggu ini minggu tenang buatku menjelang UAS. Sebenernya yang kayak gini sih nggak bisa disebut minggu tenang, soalnya mesti belajar persiapan buat UAS, dan ditambah ada tugas SHI (Sistem Hukum Indonesia, mata kuliah yang bener-bener bikin aku nggak paham, kenapa mata kuliah kayak gini malah jadi mata kuliah wajib di Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik 😥 ) yang wajib dikumpulin selambat-lambatnya pada hari UAS itu diadakan. Naas nian nasibku, udah nggak ngerti apa-apa soal hukum (bahkan bisa dibilang nggak suka) malah dapet tugas dari mata kuliah itu.
Ya sudah lah, sesi curhat bentar aja. Aku mau cerita singkat soal kejadian kemarin, hari Senin (21 Juni 2010), waktu cuma ada aku, Suki, dan ibunya di rumah.
Hari itu kira-kira jam 9 atau 10 pagi, aku dan mbakku alias ibunya Suki lagi sibuk baca koran (jarang-jarang nih baca koran ) di depan TV yang lagi nyala (boros ya, TV nggak ditonton tapi tetep dinyalain). Suki kayak biasa, merangkak nggak jauh-jauh dari ibunya. Saking sibuknya baca koran, aku dan mbakku sama sekali nggak merhatiin apa yang lagi dilakuin Suki.
Tiba-tiba Suki merangkak ke arah ibunya, minta digendong. Eh, digendong bukannya cengar-cengir kayak biasa, malah gayanya kayak ngeludah gitu, kayak abis makan sesuatu yang nggak enak.
Setelah diamati, mengejutkan bin menggelikan sekali, karena ternyata………….Suki makan SABUN.

suki abis makan sabun

suki abis makan sabun

lht lingkaran: bekas gigitan Suki

lht lingkaran: bekas gigitan Suki

Hmm…ya, si bayi bandel nan ganjen itu tanpa kami sadari udah ngeluarin sabun batangan punya dia sendiri dari bungkusnya, terus digigit. Mungkin dia kira itu wafer ato coklat, ya entahlah. Yang aku tau adalah bahwa salah satu lagu anak-anak jaman dulu, Tikus Makan Sabun, kayaknya perlu diubah sedikit liriknya jadi…“Suki makan sabun…” :mrgreen:

Daging Ayam dan Suki

Apa persamaan daging ayam dan Suki? Tidak ada tentu saja, kecuali Anda kanibal dan berniat untuk memakannya. Lalu, apa perbedaannya? Banyak, yang paling mendasar adalah bahwa daging ayam berasal dari seekor ayam, sementara Suki adalah sesosok bayi mungil, imut nan tampan (dan menyebalkan 😛 ).

Tapi sudahlah, lupakan saja karena saya sama sekali tidak hendak membicarakan tentang perbedaan dan persamaan daging ayam dan Suki. Saya hanya ingin menceritakan sebuah peristiwa–dapat dikatakan tolol–yang terjadi pada Suki berkaitan dengan daging ayam.

Tadi malam, tertanggal 11 November 2009 sekitar pukul 7, saya selesai mandi dan perut saya memulai sebuah konser yang belum terlalu ramai oleh teriakan penonton sebenarnya (baca: belum terlalu lapar), tetapi karena ingin mengunyah sesuatu (sebenarnya ingin mengunyah Suki, tapi dia terlalu lucu untuk dimakan 😛 ), maka saya pun mencari makanan. Tiba-tiba mata saya berlari ke arah meja makan dan menangkap sebuah mangkuk besar berisi mie goreng (mata saya belum kembali!!) dan tanpa pikir panjang saya segera memindahkannya ke mangkuk yang lebih kecil beberapa sendok untuk saya makan sendiri.

Saya pun seperti biasa makan di depan TV dan saat itu Suki juga ada di sana. Saya asyik memakan mie goreng dan ternyata Suki memerhatikan saya sejak saya mulai makan. Hmm…sepertinya Suki ingin cepat-cepat bisa berlari (lho, apa hubungannya? Wkwk*).

Saya pun menyodorkan padanya sedikit mie, sekadar untuk dicicipinya. Tapi sepertinya ia merasa kurang, atau mungkin kurang terasa. Akhirnya saya pun menyodorkan sepotong daging ayam yang saya jepit sekuat mungkin dengan sumpit agar tidak ditelan olehnya. Sedikit demi sedikit ia mencicipinya sampai kemudian….

“Hahhh!! Keluarin…keluarin!!” saya berteriak.

Teriakan saya cukup menyita perhatian orang-orang serumah. Semua bertanya apa yang terjadi.

“….Suki makan ayam!!” kata saya dengan penuh penyesalan sambil mencoba membuka mulut Suki.

“Ya udah biarin aja, ntar juga dikeluarin (lewat pup),” ujar kakak kedua saya.

Saya tetap syok, sementara Suki malah mengunyah daging ayam tersebut meskipun ia belum mempunyai gigi. Dan tiba-tiba….

“Hoekk…”

Suki memuntahkan isi perutnya, tepat ketika jari saya berada di depan mulutnya. Ia muntah di atas kasur. Bagus sekali. Saya pun segera membantu ibu Suki yang tak lain adalah kakak pertama saya untuk membersihkan muntahannya.

Yahh…saya merasa bersalah karena membuat Suki muntah, tetapi saya juga bersyukur karena akhirnya daging ayam itu keluar juga.

Sehari kemudian…

“Aku tadi lho, abis nyuci bajunya Abil (Suki), nemu ayam di dalem mesin cuci. Lumayan gede ternyata!” ujar ibu Suki, membicarakan tentang penemuannya akan potongan ayam yang dimakan oleh Suki.

Setelah membersihkan muntahan Suki dari kasur, ibu Suki memang tidak membersihkan kain yang tak lain adalah pakaian Suki yang digunakan untuk membersihkan muntahan tersebut. Pakaian itu dimasukkan ke mesin cuci begitu saja hingga muntahannya mengering, dan tentu saja potongan ayam ada di dalamnya.

“Oh…geblek!!” seru kakak kedua saya sambil memukul kepala saya (dengan bercanda tentu saja). Dan saya diomeli olehnya dan juga ibu saya.

NB: Don’t try this, anywhere!!